Kondisi Pendidikan di Pulau Numfor Memprihatinkan, Klasis Desak Pemda Turun Tangan

0
82
Ketua Jemaat GKI Elim Baruki, Numfor Yoseph Dimara,S.Th
Ketua Jemaat GKI Elim Baruki, Numfor Yoseph Dimara,S.Th

BIAK, PapuaSatu.com –  Klasis GKI Pulau Numfor kabupaten Biak Numfor terpaksa angkat bicara atas pendidikan yang sudah memprihatinkan di wilayah tersebut.

Kondisi tersebut, Klasis meminta kepada Pemerintah kabupaten Biak Numfor turun tangan, untuk melihat langsung kondisi pendidikan yang sudah bertahun-tahun belum optimal.

“Dalam persidangan baik sidang klasis Raker Kelas I sampai pada pelaksanaan Sidang Jemaat, kami fokus pada pembahasan pendidikan yang hingga saat belum optimal,” kata Ketua Jemaat GKI Elim Baruki, Numfor Yoseph Dimara,S.Th kepada wartawan, Kamis (29/11/2018).

Menurutnya, tenaga pendidikan di pulau Numfor hanya dua sampai tiga orang. Hal ini membuat anak-anak tidak betah dalam proses belajar sehingga anak-anak juga  sudah mulai berkurang. “Ini terjadi karena terbatasnya tenaga pendidik yang ditempatkan Pemerintah ke sekolah-sekolah yang ada, belum lagi guru ngajar keluar ke Kota” jelasnya.

Kondisi tersebut sudah terjadi bertahun – tahun sehingga gereja mempunyai ininsiantif untuk membahas lebih khsusus pada sidang klasis guna menyatukan pikiran, untuk menyampaikan langsung kepada  Pemerintah daerah kabupaten Biak Numfor, lebih khusus Dinas Pendidikan.

“Bila kondisi tersebut tidak diatasi maka anak-anak kami akan menjadi korban. Kami berharap ada pengawasan terhadap pendidikan di wilayah pulau Numfor,  sebab jika tidak maka akan berpengaruh pada anak-anak,” tukasnya.

Oleh karena itu, tambah Yoseph, pihak gereja  menyarankan kepada orang tua supaya ada pengawasan bagi anak-anak untuk memberikan pendidikan tambahan di rumah. “Pendidikan bukan hanya dilakukan di sekolah, akan tetapi juga di rumah sebagai tambahan,”  paparnya.

Sementara itu Yustina Wamafma anggota BPK lingkungan Klasis GKI Numfor meminta agar Para tenaga pendidik dapat memperhatikan pendidikan anak-anak yang tidak maksimal di Pulau Numfor.

“Kenyataannya kami lihat langsung di lapangan bahwa guru-guru mau ke kota untuk urusan dinas mereka tinggal berbulan-bulan di Kota, sehingga anak-anak bisa bermain berjam-jam tanpa adan pengajaran pendidikan dari guru,” jelas Yustina

Dengan kondisi yang dialami di pulau Numfor, membuat anak-anak sekolah belum bisa membaca. “Kami tidak mau anak-anak tidak lanjut sekolah atau tidak mengenal pendidikan. Kami ingin bagaimana anak-anak kami bisa lebih didik melalui peneidikan dari sekolah,” tukasnya. [vhie/loy]