Tanpa Sektor Tambang, Pertumbuhan Ekonomi Papua Relatif Stabil

0
74

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Pertumbuhan perekonomian Papua yang sering mengalami fluktuasi yang cukup tajam, lebih dipengaruhi oleh kinerja sector pertambangan yang hanya dicatat dari satu industry tambang, yakni PT Freeport Indonesia.

Karena jumlah tenaga kerja di sector tambang yang secara presentase sangat kecil bila dibandingkan dengan sector lainnya, maka bila melihat pertumbuhan perekonomian di Papua, lebih baik jika tidak mengikutkan angka pertumbuhan sektor pertambangan dan mineral.

Demikian diungkapkan Kepala Badan Statistik (BPS) Provinsi Papua, Drs. Simon Sapary,M.Sc didampingi Kepala Bidang Nerwilis, Eko Mardiana,SE saat merilis berita resmi statistic di kantornya, Rabu (6/2/2019).

“Proporsi penduduk yang bekerja pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian sangat kecil, maka jika ingin melihat gambaran PDRB per Kapita masyarakat Papua secara umum lebih baik dengan melihat PDRB tanpa Pertambangan dan Penggalian,” ungkapnya.

Dari data statistic yang dikeluarkan BPS Provinsi Papua, pertumbuhan ekonomi Papua tahun 2018 tumbuh 7,33 persen, meningkat jika dibandingkan dengan Tahun 2017 yang tumbuh 4,64 persen.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh tumbuhnya semua lapangan usaha di Papua, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 10,52 persen, kemudian diikuti transportasi dan pergudangan yang tumbuh sebesar 8,16 persen, serta jasa lainnya yang tumbuh sebesar 7,34 persen, dan lain-lainnya.

Hal itu, dengan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Papua atas dasar harga berlaku yang mencapai Rp. 210,659 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 159,728 triliun.

Secara statistic pertumbuhan ekonomi Papua Tahun 2016 tercatat tumbuh 9,14 persen, Tahun 2017 tercatat 4,64 persen dan Tahun 2018 tercatat 7,33 persen.

Namun bila dilihat tanpa tambang, relatif stabil, yakni Tahun 2016 mengalami pertumbuhan 6,44 persen, Tahun 2017 tercatat 5,18 persen, dan Tahun 2018 tercatat 5,04 persen.

Mengenai data statistic tersebut, pihak Bank Indonesia yang juga hadir pada release berita resmi statistic di Kantor BPS Papua, Rabu (6/2/2019), belum dapat memberikan pendapatnya, karena masih akan melakukan pengkajian lebih mendalam.

“Kami kan datanya juga dari BPS yang hari ini baru kami terima, jadi kami masih perlu melakukan analisis tentang data tersebut untuk melihat lebih jauh tentang penyebab kenaikan ataupun penurunan perekonomian di Papua,” ungkap Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua, Fauzan saat ditemui wartawan, Rabu (6/2/2019).[yat]