Yan Matuan : Penyakit HIV/AIDS Lebih Kejam Dari Letusan Senjata Api

0
310
Caption : aktivis HIV/AIDS Papua, Yan Matuan didampingi Wecki Gombo dan Lis Tabuni, saat memberikan keterangan pers, Minggu (2/12/2018). Foto: PapuaSatu.com
Caption : aktivis HIV/AIDS Papua, Yan Matuan didampingi Wecki Gombo dan Lis Tabuni, saat memberikan keterangan pers, Minggu (2/12/2018). Foto: PapuaSatu.com

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Angka penderita HIV/AIDS yang di rilis Dinas Kesehatan Provinsi Papua dengan todal penderita HIV/AIDS sebanyak 38.874 kasus, menjadi perhatian serius dari aktivis HIV/AIDS Papua, Yan Matuan.

Penderita HIV/AIDS di Papua mengejutkan seluruh rakyat Papua karena angka yang dirilis Dinkes Provinsi Papua merupakan angka yang sangat fantastis.

“Saya khawatir data yang diperoleh Dinkes Papua, semua elemen di tanah Papua tidak serius dan tidak proaktif mengambil bagian dalam pemberantasan penyakit HIV/AIDS. Jangan kaget 20 tahun kemudian menjadi tanah yang kosong. Tidak ada penghuni lagi hanya karena penyakit HIV/AIDS,” kata Yan Matuan kepada wartawan, Minggu (2/12/2018) malam.

Menurut Yan Matuan, penderita HIV/AIDS di Papua sesungguhnya sudah mati namun seolah-olah masih hidup, karena HIV/AIDS lebih kejam dari letusan senjata Api.

“HIV/AIDS di Papua pembunuh darah dingin. Kenapa? Karena orang belum tau, tidak rasa dan orang Papua pelan-pelan mati satu satu. Beda kalau kita ditembak secara spontan merasa kesakitan. Padahal yang lebih kejam adalah penyakit HIV/AIDS, karena dari situ ada potensi-potensi untuk menyebar luaskan AIDS tinggi di Papua,” ujarnya.

Yan Matuan menegaskan, data yang diperoleh Dinkes Papua baru mereka yang terinfeksi baik di rumah sakit maupun di lapangan langsung. Namun sebagian besar penderita HIV/AIDS tidak ingin memberitahukan penyakit yang dialmi.

“Entah mereka merasa malu, apakah mereka tidak mau ikut di investigasi seperti tes darah. Ini menjadi ancaman bagi rakyat. Isu ini sebenarnya sudah mendunia. Ini sangat berbahaya. Apalagi para pekerja seks yang dipekerjakan di beberapa perusahaan.  Di sana mereka melakukan seks dan ketika kembali ke rumah maka penyakit tersebut akan menular istri dan anak,” ujarnya.

Yan Matuan meminta kepada Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten/kota bekerjasama dengan LSM, masyarakat, tokoh adat, tokoh agamar serta lembaga lain untuk harus serius dan proaktif terhadap penanganan penyakit HIV/AIDS di tanah Papua.

Angka penderita HIV/AIDS yang ditemukan rat-rata 50 persen yang terinveki adalah orang-orang yang dibawah umur produktif, terutama bagi para pelajar baik SMA maupun SMP. “Mereka lebih tergiur dengan pejabat hanya karena uang. Mereka berani melakukan hubungan seks. Dari sinilah sangat rentan terinveksi penyakit HIV/AIDS,” paparnya.

Hal yang sama disampaikan Wecki Gombo, yang juga AktivisHIV/AIDS berharap kepada Pemerintah Provinsi Papua, dalam hal ini Dinas Kesehatan Provinsi Papua agar  merubah system pelayanan terhadah penanganan penyakit berbahaya tersebut.

“Angka yang ditemukan Dinkes baru penyakit yang sudah di depan mata, belum termasuk penyakit-penyakit yang masih tersembunyi atau bagi mereka yang belumm mengakui terhada penyakit yang mereka alami,” ujarnya.

Oleh karena itu system itu harus berani dilawan agar penyakit mematikan itu tidak berkembang lagi di tanah Papua. “Harus lawan dengan cara pelayanannya. Papua ini ada sebuah inisiatif untuk diperiksa. Kalau orang Papua semua periksa HIV/AIDS maka OAP akan selamat dari kematian,” ujarnya.

Bahkan Wecki Gombo meminta kepada semua pihak, baik itu Pejabat, pengusaha dan seluruh stakeholder yang lainnya agar memeriksa diri.  “Bila penyakit sudah menular maka harus segera di obati agar tidak menularkan kepada yang lainnya,”  harapnya.

Sementara itu, aktivis HID/AIDS Perempuan Papua, Lis Tabuni, mengakui bahwa Perempuan paling gampang terkena HIV/AIDS. Kami perempuan Papua sangat sedih dengan data yang dirilis Dinkes Papua, kami percuma banyak anak lalu mati hanya karena penyakit ini,” katanya.

Untuk itu, Lis Tabuni mengajak semua masyarakat Papua agar lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, lebih sadar diri dan kepada yang  berkeluarga  diharapkan kepada para suami untuk tidak jajan sembarangan.

“Harus jaga diri karena kebanyakan perempuan tinggal di rumah, tapi laki-laki bawa virus ke Mama-mama yang  hanya tinggal di rumah. Sebagian besar kami perempuan kena penyakit karena dari Suami.  Jadi harus suami setiap kepada mama-mama,” imbaunya.

Lis Tabuni meminta kepada pemerintah untuk lebih lagi mengadakan program-program yang memiliki tindakan nyata. “Jangan hanya dilakukan sosialisasi tapi tindakan nyata yang harus dilakukan di lapanga,” katanya.

“Gereja di tanah Papua jangan menutup mata, jangan penyakit ini dianggap hina. Tapi virus ini lihat teman-teman. Mereka juga dianggap manusia untuk diperhatikan sama seperti manusia yang hidup lainnya,” tambahnya. [loy]