Dari Penjara Narkotika, Bisnis Narkoba Oleh Oknum Mantan TNI Tetap Lancar

0
89
Dirpolairud Polda Papua, Kombes Pol Yulius Bambang Karyanto didampingi Pjs. Kasubid Penmas, Kompol Anton Ampang saat memberi keterangan pers, Selasa (27/11/2018)

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Meski fisiknya ada dibalik jeruji besi Lapas Natkotika Doyo, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, namun masih dapat melancarkan aksinya dalam mengembangkan jaringan bisnis narkobanya di wilayah Sentani dan sekitarnya.

Yakni Narapidana berinisial HI, yang merupakan oknum anggota TNI yang dipecat karena terlibat Narkoba, yang terungkap setelah Tim Gak Kum Dit Polair Polda Papua berhasil mengungkap jaringannya, dengan menangkap seorang yang diduga sebagai kurirnya berinisial PRO di salah satu kampung di sekitar Danau Sentani, yakni Kampung Asei Besar, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.

Dari tangan PRO polisi berhasil menyita barang bukti berupa 55,19 gram narkotika jenis sabu, bong (alat isap sabu)  dan dua unit Hand Phone HP yang diduga digunakan untuk berkomunikasi, serta , dan sejumlah barang bukti lainnya.

Dirpolairud Polda Papua, Kombes Pol Yulius Bambang Karyanto didampingi Pjs. Kasubid Penmas, Kompol Anton Ampang, mengungkapkan terkait keberhasilan timnya dalam mengungkap sindikat Narkoba tersebut, di Media Centre Polda Papua, Selasa (27/11/2017).

“Tepatnya pada tangal 12 November 2018 anggota kita dari Tim Gak Kum Dit Polair, berhasil mengungkap tindak pidana narkotika, yaitu jenis ganja dan shabu, dan berhasil kita amankan, salah satunya adalah berinisial PRO, berkewarganegaraan Indonesia di Kampung Asei Besar, Sentani,” ungkapnya.

PRO sendiri, diduga kuat adalah sebagai kurir sekaligus pemakai narkoba jenis shabu yang sudah tiga kali mengambilkan paketan berisi shabu yang dikirim dari luar Papua, yang dibungkus kertas karbon untuk mengelabui pemeriksaan sinar X (x-ray).

“PO selain kurir dia juga positiif menggunakan sabu dan ganja. Selain itu juga pengakuannya dia sudah mengabil paket berisikan sabu ketiga kalinya,” ungkap Kombes Pol. Bambang.

Disingung terkait mudahnya seorang narapidana yang sedang menjalani masa pidanyanya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) melakukan komunikasi untuk mengendalikan jaringannya, Kombes Pol Bambang mengatakan bahwa, hal itu karena taktik yang dimainkannya sebagai seorang sindikat. “Namanya juga sindikat, ada sajalah jalannya,” jelasnya singkat.

Untuk mengungkap jaringan peredaran Narkoba tersebut, kata Kombes Pol Bambang butuh waktu lama, dan pihaknya masih terus mengembangkan penyelidikan di lapangan guna mengungkap dugaan adanya jaringan peredaran Narkoba yang lebih besar lagi.

Atas perbuatannya, untuk tersangka berinisial PRO dikenakan Pasal 114 ayat 1 dan 2, subsidair Pasal 112 ayat 2, subsidair  pasal 111 ayat 1, dan lebih subsidair pasal 127 ayat 1 huruf a undang-undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang nerkotika dengan ancaman pidana maksimal 20 tahun penjara.

Sedangkan kepada tersangka HI, dikenakan dengan dugaan pelanggaran atas Pasal 112 ayat 2, subsidair Pasal 32 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, junto Pasal  55 ayat 1 ke-1 KUHP.[yat]