
KEEROM, PapuaSatu.com – Kamis (2/8/2018) Festival Budaya Keerom (FBK) ke-5 yang digelar Pemerintah Kabupaten Keerom melalui Dinas Pariwisata, resmi dibuka di lapangan Arso Swakarsa.
Bupati Keerom Muh. Markum, SH, MH, MM berharap, pagelaran FBK yang dilakukan setiap tahun bisa menjadi tempat pelestarian budaya Kabupaten Keerom.
Sehingga nilai-nilai budaya tidak akan hilang atau kalah bersaing dengan budaya-budaya dari luar yang semakin merebak.
Menurut Bupati Keerom saat ini budaya lokal semakin tergeser dengan adanya transformasi dan peradaban social, sehingga hal itu dapat menyebabkan punahnya budaya-budaya lokal yang diwariskan dari nenek moyang.
“NKRI merupakan negara yang memiliki berbagai macam kebudayaan dari Sabang sampai Merauke. Budaya adalah peninggalan dari nenek moyang kita dan seharusnya diturunkan kepada kita agar budaya itu tidak punah,” ujar Bupati Keerom saat membuka secara resmi Festival Budaya Keerom (FBK) ke 5 Kamis (2/8/2018).
Pada kenyataannya, kata Bupati Markum, banyak sekali generasi muda yang kurang peduli terhadap peninggalan nenek moyang tersebut. “Untuk itu pentingnya pembuatan festival budaya seperti ini,” lanjut bupati.
Keerom yang berbatasan dengan Papua New Guinea (PNG) tutur Bupati, merupakan sebuah wilayah yang dihuni berbagai etnis suku bangsa yang ada di Indonesia, bahkan Keerom telah terkenal dengan istilah miniaturnya Indonesia.
Namun kondisi budaya yang kaya tersebut terancam akan punah jika tidak segera dilakukan refitalisasi nilai-nilai budaya.
Untuk itu diharapkan FBK yang telah diselenggarakan setiap tanggal 2 Agustus setiap tahunnya mampu menjadi ajang semua pelaku budaya untuk menunjukkan kekayaan budaya yang dimiliki.
Sehingga hal itu akan menarik minta generasi muda untuk mempelajari, melestarikan dan memperkenalkan kepada seluruh dunia.
Namun tidak hanya secara lokal saja, Bupati Keerom juga berharap FBK bisa mendapatkan perhatian dari Kementeris Pariwisata agar menjadi salah satu invent yang masuk dalam kalender pariwisata secara nasional.
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Keerom, Jaswadi mengungkapkan, FBK ke-5 tahun 2018 mencoba menunjukkan sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Selain kekayaan budaya yang ditampilkan, kekayaan ekonomi kreatif juga turut disertakan dalam ajang tahunan tersebut.
Hal itu diharapkan agar ekonomi kreatif dan budaya dapat berjalan beriringan dalam menciptakan sumber-sumber perekonomian bagi masyarakat.
“Untuk tahun ini ada 24 sanggar, 9 dari budaya keerom dan 15 dari budaya nusantara, lalu ada belasan pelaku ekonomi kreatif yang ikut serta. Kami harap ini juga dapat memancing para pengunjung untuk datang,” paparnya.[Alfred]










