
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Kehadiran Telkomsel di daerah pedalaman Papua yang didukung dengan kualitas jaringan yang terus meningkat di sejumlah distrik di Kabupaten Jayawijaya dan terutama di Kota Wamena, sangat membantu perkembangan ekonomi di daerah tersebut.
Hal itu, selain promosi produk yang makin mudah melalui internet, seperti media social dan lain-lainnya, juga memudahkan dalam koordinasi bagi lembaga ataupun perusahaan yang hendak melakukan investasi di daerah tersebut.
Salah satunya, seperti pihak Kantor Perwakilan Bank Indonesia yang berupaya mengembangkan komoditi kopi di Pegunungan Tengah Papua.
Akses komunikasi yang lancar menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi yang akan dikembangkan sebagai spot budidaya kopi lebih besar.
“Komunikasi dari daerah itu sangat kita butuhkan, selain kita mudah dalam melakukan koordinasi, juga jangka panjangnya kita juga mudah dalam memantau bila ada kendala-kendala ataupun perkembangan situasi di lapangan,” Ketua Tim Pengambangan Ekonomi KPw BI Papua, I Gusti Agung Bagus Artayasa kepada PapuaSatu.com usai melakukan survai pengembangan komoditi kopi di Kabupaten Jayawijaya pada 25 September 2018.
Pentingnya akses komunikasi tersebut, menurutnya, tidak saja memudahkan koordinasi dan pemantauan kondisi di lapangan, juga menghemat dari biaya yang harus dikeluarkan dalam melihat kondisi di lapangan setiap saat.

Karena dengan media yang ada, seperti foto, apalagi video call, bisa dengan mudah dilihat kondisi ril di lapangan, tanpa harus langsung ke lokasi, yang akses transportasinya cukup mahal.
Di Kabupaten Jayawijaya, ada tiga distrik (kecamatan) yang rencananya dikembangkan komoditi kopi, yaitu di Distrik Piramid, Distrik Kurulu dan Distrik Walesi.
“Ketiga wilayah tersebut diketahui memiliki hasil produksi kopi dengan kualitas yang baik, dan akses distribusi dan komunikasi juga relative lancar,” ungkapnya.
Tentang pengembangan jaringan telekomunikasi di Jayawijaya, pihak Telkomsel telah memasang lebih dari 20 jaringan kecepatan tinggi, yakni jaringan 4G.
Namun demikian, meski sudah menggunakan jaringan 4G, untuk wilayah pegunungan, seperti di Kota Wamena, namun user experience pelanggan dalam mengakses internet, tetap berbeda kecepatannya dibanding dengan daerah Kota Jayapura dan sekitarnya ataupun daerah lain yang telah tersambung oleh jaringan kabel serat optic yang juga dikenal Sulawesi Maluku Papua Cable Sistem (SMPCS).
Pasalnya, untuk proses transfer datanya masih menggunakan satelit dengan kapasitas yang terbatas dan biaya yang mahal.
“Satelit itu kondisinya bandwidth-nya tidak besar, investasinya mahal. Itu kenapa saat ini di daerah pegunungan yang masih teknologinya selulernya belum seperti di kota-kota, yaitu masih 2G,” jelas Novrizal Syahrul, Manager RAM Telkomsel Regional Papua Maluku bersama Erlyawan Budiman, Manager Network Service Telkomsel Jayapura, saat ditemui PapuaSatu.com di Kantor Grapari Telkomsel Jayapura, Rabu (31/10/2018).
“Satu-satunya kota di pegunungan tengah Papua yang sudah banyak terpasang jaringan 4G adalah Kota Wamena. Cuman karena kendala traffic keluarnya dari Wamena-nya enggak begitu besar, sehinga user eksperiencenya tidak bisa sama dengan di Jayapura,” lanjutnya.
Karena itu, pihak manajemen Telkomsel harus memberikan pemahaman kepada konsumen, agar jangan menuntut untuk user experience-nya disamakan dengan di Jayapura.
“Jadinya mereka bisa buka internet, mereka bisa facebook, mereka bisa chatting via WA, dan itu sudah kami lakukan,” ungkapnya lagi.
Dengan demikian, masyarakat bisa terbuka dari sisi pengetahuannya, dan dari sisi perekonomian bisa terdorong untuk tidak berputar di suatu tempat saja, namun bisa keluar daerah melalui media internet yang ada.
“Sehingga pergerakan ekonomi mereka yang selama ini hanya ada di sana, dengan adanya informasi mereka bisa infokan di dunia melalui internet,” jelasnya.[yat]










