
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Pemerintah Provinsi Papua bersama Kementerian Kesehatan berdasarkan rekomendasi dari Komite Ahli Imunisasi Indonesia telah mengambil langkah antisipatif untuk mencegah masuknya wabah Polio masuk ke Papua.
Gubernur Papua, Lukas Enembe, S.IP.,MH, mengatakan saat ini di Papua Nugini sedang berlangsung wabah polio yang sudah ditetapkan sebagai kondisi emergensi pada tanggal 22 Juni 2018, sehingga pemerintah Provinsi dan Kabupaten / Kota berkewajiban mencegah dan menangulangi penyakit – penyakit endemis dan penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup penduduk.
“Sampai hari ini sudah ada 25 kasus polio di Papua Nugini dan sudah 9 Provinsi terdampak (Enga, Morobe, Madang, Eastern, Highland, Western Highland, Jiwaka, NCD, EHP dan East Sepik), kasus polio yang paling tua terkena pada anak umum 17 tahun,” kata Gubernur dalam sambutan yang dibacakan Asisten Bidang Kesra Sekda Papua, DR. Ir. Noak Kapisa, saat membuka acara simulasi cegah tangkal wabah polio dari Papua Nugini di Jayapura, Rabu (28/11/2018).
Menurutnya, Provinsi yang paling timur terkena adalah Provinsi East Sepik yang berbatasan dengan West Sepik berbatasan dengan Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom serta Pegunungan Bintang.
“Jadi, imunisasi campak Rubella dan Polio masih berlangsung di Papua dan akan berakhir pada tanggal 30 Desember 2018,” katanya.
Dikatakan, imunisasi campak Rubella dan Polio ini sudah dilaksanakan pada pertengahan bulan Juli 2018 pertama kali di Kabupaten Keerom dan cakupannya di Kota Jayapura, Keerom, Boven Digoel dan Merauke sudah melewati target 95 persen.
“Untuk Kabupaten Pegunungan Bintang belum mencapai target tetapi seluruh puskesmas sudah melaksanakan imunisasi campak rubella dan polio,”ujarnya.
Untuk itu, insane Kesehatan di Papua bisa melaksanakan imunisasi Polio bersamaan dengan imunisasi campak Rubella yang dilakukan serentak di 28 Provinsi di luar pulau jawa pada bulan agustus dan September 2018.
“Ketika 27 Provinsi lainnya melaksanakan campak imunisasi Rubella, maka Papua melaksanakan imunisasi campak Rubella dan Polio, lima belas Kabupaten belum mencapai taget 95 %,” jelas.
Selain imunisasi polio, juga dilaksanakan surveilans penyakit lumpuh layu akut oleh puskesmas dan rumah sakit dan hasilnya dilaporkan setiap minggu.
“Surveilans polio lingkungan juga sudah dilakukan di wilayah Kota Jayapura atas kerjasama Kementerian Kesehatan, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota Jayapura,” kata Kapisa.
Dijelaskan, Dirjen Pencegahan dan pengendalian penyakit yang telah memberikan dana dekonsentrasi tahun 2019 sebesar 45 Miliar kepada Dinas kesehatan Papua untuk membiayai kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit di Kabupaten/Kota terutama untuk petuga puskesmas dan kader kesehatan. [piet]










