
SENTANI, PapuaSatu.com – Pansus PON XX & PPN XVI mengunjungi ratusan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang ada di area pantai Kalkhote, Kabupaten Jayapura, Rabu (13/10/21) siang.
Menurut data yang didapatkan oleh Pansus, di area tersebut terdapat 117 pelaku UMKM yang akan menjajakan aneka barang dan makanan dagangannya dari berbagai daerah di Papua selama PON berlangsung.
Hal tersebut dinilai cukup baik, akan tetapi melalui Anggota Pansus PON XX & PPN XVI, Darwis Massi, Pansus berharap kegiatan dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan tersebut dapat berjalan terus menerus meski nantinya PON usai.
“Sebentar lagi PON akan berakhir, harapan kami sangat besar agar usai PON, dampak ekonominya masih ada dan jangka panjang,” katanya.
Menurut Darwis, PON bukan hanya perhelatan tetapi ada pembelajaran yang harus diambil mengenai ekonomi. Maka, ia meminta, kedepannya pemerintah harus mempunyai konsep tentang peningkatan ekonomi kerakyatan.
“Kita harus berpikir jauh, pemerintah harus punya konsep yang jelas tentang ekonomi kerakyatan Papua. Dan kami lihat, salah satu potensi yang kami lihat yaitu kopi dimana kopi ini merupakan salah satu kearifan lokal dari masyarakat Papua,” ujar Darwis yang juga menjabat sebagai Anggota Komisi II DPR Papua.
Ia jelaskan, dari segi pasar, kopi dapat menjanjikan untuk diproduksi dalam jumlah yang besar dan bisa menjadi nilai tambah kepada masyarakat. Potensi kopi juga dinilai luar biasa terutama di daerah-daerah pegunungan.
Oleh karena itu, Darwis berharap adanya grand desain yang utuh untuk mengatur hal tersebut sehingga kopi dapat didorong sebagai salah satu produk unggulan dari Papua. “Grand desain yang utuh, bukan parsial melibatkan seluruh steakholder yang ada, mulai dari pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota yang ada,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Kopi Indonesia Provinsi Papua, Andru Pahabol menyampaikan, ego sentral antara pengusaha kopi dari masing-masing daerah yang mengklaim bahwa kopinya yang berkualitas perlu dihilangkan.
“Kami asosiasi kopi mengajak untuk menjadi satu, kita desain kopi, dimana kopi harus membawa nama Papua dan bukan membawa nama individu. Misalnya, kopi Papua ditulis dilebelnya dengan besar yaitu kopi Papua, dan daerah asalnya ditulis kecil saja dibagian bawahnya,” tukasnya. [ayu]










