Konflik Berakhir, Pembela HAM Papua Apresiasi Kepada TNI/Polri dan Bupati

WAMENA, PapuaSatu.com – Konflik antara dua kelompok masyarakat dari Kabupaten Nduga dan Kabupaten Lanni Jaya yang terjadi di Kabupaten Jayawijaya pada Sabtu (8/1/22) lalu. Berdasar dari pihak kepolisian, konflik tersebur berawal dari persoalan keluarga yang kemudian menjadi persoalan yang berbuntut aksi saling serang hingga adanya korban jiwa.

Bentrokan tersebut diselesaikan dengan jalan damai pada Sabtu (15/1/22) di lapangan Sinapuk Wamena Kabupaten Jayawijaya oleh Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah serta TNI/Polri dan disaksikan oleh tokoh agama, tokoh adat serta tokoh masyarakat dan dilakukan dengan prosesi adat dan pembayaran denda sebesar Rp 2,5 Miliar dan 20 ekor babi oleh masyarakat Lanny Jaya kepada pihak keluarga Nduga sebagai korban.

Melihat pertikaian tersebut berakhir damai, Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela HAM Sedunia), Theo Hesegem berikan apresiasi kepada TNI/Polri serta para Bupati karena penyelesaian pertikaian tersebut agar korban jiwa tak bertambah.

“Saya apresiasi penyelesaian cepat yang dilakukan aparat keamanan baik TNI maupun Polri termasuk para Bupati yang warganya berkonflik di Jayawijaya. Kita tidak mau konflik itu meluas dan ada korban lagi,” katanya, Rabu (19/1/22).

Peran tokoh agama, tokoh adat serta tokoh masyarakat dalam penyelesaian konflik tersebut sangat penting.

Theo jelaskan, di wilayah Pegunungan Tengah, Kabupaten Jayawijaya merupakan Kabupaten Induk bagi daerah-daerah lain. Sehingga jika terjadi konflik di Kabupaten Jayawijaya, maka dampaknya lebih besar.

“Perlu diingat juga distribusi beberapa wilayah masih melalui Kabupaten Jayawijaya,” imbuh Theo.

Maka ia meminta agar tidak terjadi lagi konflik serupa diwaktu mendatang, dan ia juga meminta agar Bupati masing-masing daerah untuk memberikan himbauan agar tidak bikin konflik. Tak hanya itu, ia juga meminta agar masyarakat yang datang ke Kabupaten Jayawijaya agar tidak lagi berbuat konflik yang justru akan merugikan.

“Semua warga dari Kabupaten lain di Wilayah Papua yang berada di Kabupaten Jayawijaya diminta menghormati dan turut membangun Kabupaten Jayawijaya, jangan membuat konflik. Saya harap masing -masing Bupati menasehati rakyatnya yang ada di Jayawijaya, agar rakyatnya tau diri, jika berada di wilayah lain tidak membuat konflik,” tegasnya.

“Saya mau sampaikan bahwa masyarakat Nduga yang ada di Kabupaten Jayawijaya adalah status  Pengungsi. Sehingga seharusnya tidak boleh bikin masalah,” sambung Theo.

Ia juga tegaskan agar tak boleh memberi ruang kepada pihak manapun yang mau membuat konflik di daerah tersebut. “Orang Nduga kesini mencari hidup untuk mengungsi disini, sehingga tidak boleh bikin masalah, tidak boleh bikin konflik, karena nanti susah disini, sehingga harus menahan diri, jangan bikin masalah. Kita tidak bisa lagi membuat ruang kepada orang lain untuk membuat suatu konflik, mewujudkan suatu perdamaian persahabatan itu lebih penting daripada menciptakan ruang konflik,” tukasnya. [ayu]