Berikan Respon Hasil PSU Papua, BTM Nyatakan Tidak Akan Gabung di Pemerintahan

Benhur Tomi Mano saat menyampaikan respon atas pelaksanaan Pilkada Papua

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Usai pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua hasil Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Papua oleh Presiden Prabowo Subianto pekan lalu, Benhur Tomi Mano-Constan Karma (BTM-CK) menyampaikan responnya kepada publik, di kediaman BTM di Kotaraja, Kota Jayapura, Jumat (17/10/25).

dalam kesempatan tersebut, Benhur Tomi Mano (BTM) mengeluarkan pernyataan atau respon terkait pelaksanaan Pilkada Papua dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri timsukses maupun tim pemenangan BTM-CK.

Didominasi hadirin yang berbaju hitam-hitam, baik BTM maupun tim serta simpatisan ingin menunjukkan duka mendalam atas pelaksanaan Pilkada Papua, dengan pernyataan bahwa demokrasi di Papua telah mati.

Dalam penyataannya, BTM mengawali dengan menyampaikan ucapan terima kasih kepada relawan dan simpatisan serta masyarakat yang telah memilihnya pada pelaksanaan Pilkada lalu.

BTM sempat mengenang kembali dinamika yang terjadi pada Pilkada 27 November 2024 hingga Pemungutan Suara Ulang 6 Agustus 2025.

Yang mana pasangannya Yeremian Bisai (YB) didiskualifikasi oleh Mahkamah Agung terkait keabsahan Surat Keterangan (Suket) dari Pengadilan Negeri Jayapura, padahal ketika diproses di PTUN hingga Mahkamah Agung telah dimenangkan dan tidak ada masalahm, dan hasil Pilkada, pasangan BTM-YB oleh KPU Papua telah dinyatakan menang, namun oleh MK diputuskan untuk dilaksanakan Pemungutan Suara Ulang (PSU).

Dan di pelaksanaan PSU yang kemudian BTM berpasangan dengan drh. Constant Karma, kata BTM berbagai pelanggaran yang bersifat Terstruktur, Sistematis dan Masif (TSM) serta politik uang terjadi. Namun saat diadukan ke MK, bukti-bukti otentik yang dibawa tim hukumnya semua ditolak.

“Kita adalah pemenang, kita adalah pemenang. Kita tidak kalah, kita tidak dikalahkan, kita dalah pemenang. BTM-CK, BTM-YB adalah pilihan rakyat bukan pilihan Jakarta, pilihan rakyat yang murni lahir dari hati nuraninya,” ungkap BTM.

Dikatakan, bahwa yang dilantik Presiden Prabowo adalah yang kalah, bukan melantik yang menang.

“KIta dijahati oleh kejahatan itu.kita adalah pemenang, kita adalah pemenang, dan tungu waktu Tuhan, waktu tuhan itu tepat pada waktunya,” tegasnya.

Ditegaskan bahwa, ia memilih untuk berada di luar pemerintahan dan mejadi penyeimbang.

“Kita akan melihat mereka dan saya tidak memberikan dukungan kepada mereka, karena BTM adalah pilihan rakyat,” tegasnya.

BTM juga meminta agar para tokoh di Tanah Tabi dan Saireri untuk tidak mengemis atau meminta ajabatan, ataupun bahwa membuat aksi demo dengan mmebuat pernyataan yang akan menyakitkan masyarakat Papua.

Dalam pidato yang dibacakan langsung oleh BTM di hadapan para relawan dan simpatisan, ia menegaskan bahwa perjuangan panjang dalam proses demokrasi Papua belum berakhir, meski hasil akhir pemungutan suara belum berpihak seperti yang diharapkan.

“Kita telah melewati perjalanan panjang dan melelahkan, dari Pemilukada serentak 27 November 2024 hingga PSU 6 Agustus 2025. Dengan semangat pantang menyerah, kita persembahkan tenaga, waktu, pikiran bahkan materi demi perjuangan ini. Namun hasilnya belum sepenuhnya berpihak pada kejujuran yang kita harapkan,” ujar BTM.

BTM dan CK menyampaikan terima kasih kepada seluruh relawan, simpatisan, dan masyarakat Papua yang telah berjuang dengan tulus dari berbagai wilayah—dari kota hingga kampung, dari lembah hingga pesisir.

“Kalian berdiri di garis depan bukan hanya demi kemenangan BTM–CK, tetapi demi nilai yang jauh lebih tinggi: kebenaran, keadilan, dan kejujuran dalam demokrasi bangsa ini,” kata BTM.

“Dikalahkan oleh Sistem, Bukan oleh Rakyat”

Dalam bagian paling tegas dari pernyataannya, BTM menyinggung soal proses dan hasil PSU yang menurutnya belum mencerminkan kedaulatan rakyat yang sejati.

“Kita tidak pernah merasa kalah dalam pemungutan suara ulang ini. Kita hadir dengan kekuatan rakyat dan niat yang murni. Namun kita juga harus jujur, kita dikalahkan bukan oleh rakyat, tetapi oleh sistem yang dibangun,” tegasnya.

BTM menambahkan, pihaknya menyaksikan secara langsung adanya kejanggalan dalam proses penghitungan suara yang membuat aspirasi rakyat “dihapus, diubah, bahkan hilang begitu saja”.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud menebar kebencian, melainkan ingin mengingatkan pentingnya menjaga integritas demokrasi di tanah Papua.

“Demokrasi yang tidak jujur adalah demokrasi yang kehilangan jiwa, dan Papua tidak boleh kehilangan jiwanya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, BTM juga menyampaikan pesan khusus kepada Majelis Rakyat Papua (MRP) agar melakukan kajian mendalam terhadap pembagian wilayah adat dalam sistem demokrasi Papua.

“Kita memang satu tanah besar, tetapi corak budaya dalam sistem pemerintahan kita berbeda. Melahirkan pemimpin dari hati kesulungan wilayah adatnya adalah bentuk pengakuan atas roh otonomi khusus itu sendiri,” kata BTM.

Kepada pemerintah pusat, BTM meminta agar menunjukkan keteladanan dalam praktik demokrasi di Papua, sebagai bagian dari penghormatan terhadap semangat otonomi khusus.

Seruan untuk Tetap Bersatu dan Melanjutkan Perjuangan

BTM menyerukan kepada seluruh relawan dan pendukung agar tidak larut dalam kekecewaan. Ia menegaskan bahwa perjuangan mereka belum berakhir, tetapi akan berlanjut dalam bentuk yang lebih besar.

“Lima tahun itu bukan waktu yang panjang. Yang penting bukan berapa lama kita berkuasa, tapi seberapa lama kita dicintai rakyat,” ucapnya.

Ia juga mengajak seluruh pendukung untuk kembali ke peran masing-masing dalam masyarakat, menjaga persaudaraan, dan tetap menanamkan nilai kejujuran di setiap profesi dan kehidupan sehari-hari.

“Perjuangan tidak selalu berbaju partai. Kadang perjuangan itu sederhana: menjaga keluarga tetap utuh, hati tetap bersih, dan sesama tetap tersenyum,” ujar BTM penuh makna.

BTM juga memberikan apresiasi kepada rekan-rekan wartawan yang telah mengawal proses demokrasi di Papua.

“Kalian bukan sekadar penulis berita, tetapi penjaga ingatan rakyat dan penuntun arah bangsa. Tulislah dengan jujur, karena sejarah lebih percaya pada pena yang jujur daripada pada suara yang berkuasa,” katanya.

BTM menutup pidatonya dengan pesan harapan bahwa semangat perjuangan rakyat Papua akan terus hidup.

“Mungkin hari ini kita tidak berada di panggung kekuasaan, tetapi kita tetap berada di hati rakyat yang percaya. Papua tidak sedang mencari siapa yang berkuasa, tetapi siapa yang benar-benar bekerja untuk rakyatnya. Mari kita jaga tanah ini dengan cinta, bukan dengan benci,” tutupnya.[yat]