Brownis Sagu Oleh Oleh Khas Biak Berbahan Sagu

0
2336
Caption : Pemilik Aulia Home Industry, Andriani Widya Astuti, saat menunjukan Browinis Sagu Kas Biak Berbahan Sagi. Foto : Viona Sihasale/PapuaSatu.com
Caption : Pemilik Aulia Home Industry, Andriani Widya Astuti, saat menunjukan Browinis Sagu Kas Biak Berbahan Sagi. Foto : Viona Sihasale/PapuaSatu.com

BIAK, PapuaSatu.com – Pertumbuhan tingkat perekonomian Usaha Kecil Menengah di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua makin pesat.

Salah satu Usaha Kecil Menengah di Kabupaten Biak Numfor, Aulia home industry berdiri sejak tahun 2011 dengan alamat di Jalan Sorido Raya Biak ini menjual beragam makanan olahan dari bahan baku sagu dan ikan tuna sebagai oleh oleh khas Biak yang ditawarkan kepada masyarakat untuk di bawa pulang.

Salah satu produk unggulan Aulia home industry yaitu Brownis Sagu (Brosa) dari bahan lokal sagu yang diolah dengan bahan alamai lainnya tanpa bahan pengawet sehingga menghasilkan makanan nikmat jika disajikan.

Pemilik Aulia Home Industry, Andriani Widya Astuti  mengatakan Brownies Sagu merupakan salah satu oleh oleh khas Biak dari produk unggulan berbahan pangan lokal sagu dengan varian rasa coklat agar menarik konsumen membeli.

“Brosa ini sendiri memiliki variant rasa yang terbuat dari coklat. Saya ingin membuat sesuatu yang beda dengan memanfaatkan bahan sagu sebagai produk lokal,” kata Andriani saat ditemui wartawan di Aulia Home Industry, Jum’at (31/08/2018).

Selain Brosa, kata Andriani, Aulia Home Industry juga menyediakan produk lain diantranya, kue sagu, stik keladi, Keripik Keladi, Tepung sagu, Stik Rumput Laut, juga olahan abon ikan tuna.

“Jadi, semua ini diolah dengan bahan pangan sagu lokal asli dan juga rumput laut serta ikan tuna,” jelasnya.

Dijelaskan, semua produk oleh oleh khas Biak memiliki daya tahan yang relatif lama. Bahkan dapat disimpan untuk waktu cukup lama tanpa bahan pengawet berbahaya.

“Brosa kalau ditaruh di kulkas bisa awet sampai 3 hari, dan untuk produk lainnya mampu bertahan untuk 6 bulan,” ujar Andriani yang juga staf peneliti konservasi biota laut LIPI Biak.

Untuk proses pemasaran, kata Andriani, pihaknya menjual melalui media online, supermarket dan toko – toko serta di kirim ke berbagai wilayah di luar Kabupaten Biak dengan pendapat yang dihasilkan  bisa mencapai Rp 17 juta per bulan. [vhie]