Pemerintah Diminta Hilangkan Penggunaan Plastik di Manokwari, Ini Alasannya

Caption : Salah satu Penyelam di Komunitas Ketapam Diving saat mengumpulkan sampah, di dasar laut Manokwari. Foto : Ist/PapuaSatu.com
Caption : Salah satu Penyelam di Komunitas Ketapam Diving saat mengumpulkan sampah, di dasar laut Manokwari. Foto : Ist/PapuaSatu.com

MANOKWARI, PapuaSatu.com – Dampak pembangunan, urbanisasi, dan perubahan pola konsumsi serta produksi membuat sampah plastik di laut Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat mengalami peningkatan setiap tahun.

Padahal sampah merupakan ancaman serius untuk kesehatan publik, ekosistem laut, bisnis perikanan, dan juga sektor wisata.

Alex Sitanala, menjelaskan bahwa, komunitas diving yang diketuainya tidak hanya melakukan aktivitas menyelam rekreasi, tetapi komunitas ini memiliki misi diantaranya membersihkan, menjaga habitat, dan terumbu karang di laut.

Namun, dia menuturkan, semenjak komunitasnya berdiri dan mulai melakukan aktivitas bawah laut seperti menyelam, terlihat sampah berserahkan di bawa laut Teluk Doreri bahkan sampai memadati spot penyelaman yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun manca negara.

“Yang menjadi persoalan bagi kami ini, sampah tidak pernah habis. Ada berapa spot penyelaman yang setiap kali kami turun mengantar tamu untuk menyelam, sampah tetap ada saja,” ujarnya kepada PapuaSatu.com, Jumat (22/07/2022).

Lanjut, dia menguraikan, sampah tidak hanya terlihat di permukaan air, namun berserahkan di ke dalam 7 – 20 kilometer hingga dasar laut. Sambungnya, hal itu sangat memalukan saat wisatawan manca negara dari berbagai negara berkunjung, untuk melakukan deiving. Wisatawan manca negara diantaranya Denmark dan Australia.

“Jadi cukup memalukan, tetap kami sadar bawah itu kekurangan kami. Padahal manokwari memiliki spot penyelaman terbaik,”ungkapnya.

Tetapi, sangat disayangkan karena sampah tidak pernah diatasi sehingga spot terbaik, yang seharusnya dijaga dan menjadi perhatian pemerintah rusak.

“Laut ini seakan-akan menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) dari kota. Jadi bukan satu dua kali, tapi setiap kali wisatawan dari Bali dan Jakarta yang kami antar menyelam. Yang selalu kelihatan itu sampah. Sampai kadang para tamu yang datang menyelam juga ikut mengumpulkan sampah,”ucapnya.

 

Dicecar terkait spot penyelaman di Manokwari, alex mengemukakan, mereka (wisatawan manca negara dan nasional-red) mengakui bahwa spot penyaman manokwari sangat luar biasa dan termasuk spot terbaik.

Diantaranya, spot penyelaman di Manokwari yang sudah tembus nasional adalah Kapal Peninggalan Perang Dunua ke II yaitu Kapal Sinuamaru, yang berada di teluk doreri tepat di laut BLK Manokwari (kedalam 34 kilometer).

“Tetapi sama halnya, sampah cukup berserahkan disekitar spot penyelaman tersebut. Sampah yang paling banyak dibawa laut, adalah sampah plastik,”tegasnya lagi.

Oleh sebab itu, dirinya berharap kepada pemerintah agar dapat memperhatikan persoalan sampah yang sudah cukup meresahkan, bahkan juga ikut membunuh habitat didasar laut.

“Kami berharap ada satu kebijakan yang bisa merubah penggunaan kantong plastik, karena kantong plastik sangat banyak sekali didasar laut. Bila perlu tidak boleh ada lagi penggunaan plastik di toko-toko,”ungkap dia.

Sampah plastik pernah merusak beberapa bibit karang yang pernah ditanam oleh komunitasnya bersama Bupati Manokwari.

“Kami berharap bupati manokwari bisa melihat persoalan ini, dalam hal lebih tegas membuat satu regulasi yang memberikan efek jerah bagi masyarakat yang masih membuang sampah disembarang tempat,”pintanya.

Dalam kesempatan ini, dirinya mengajak berbagai pihak yang pernah mendorong Manokwari Nol Sampah, agar bersama-sama membantu Pemda dalam menyelesaikan persoalan sampah baik di laut maupun di darat.

Persoalan sampah di Manokwari, kata dia, bukan persoalan yang baru, tetapi ini masalah sudah terjadi cukup lama dan terksen belum ada serius dari pemerintah setempat.

“Sebenarnya belum ada ketegasan dari pemimpin daerah. Ketika ada ketegasan yang kuat, pasti semua akan tertip. Ketegasan ini harus turun sampai di RT dan RW, sehingga semua akan saling menjaga lingan masing-masing,”imbuhnya.

Ketegasan yang dimaksudkan misalnya, seperti denda atau ada kurangan bagi masyarakat yang membuang sampah di sebarang tempat.

Akibat sampah yang berserahkan terlebih khusus di sampah yang mekar di permukaan laut dan memadati dasar laut menyebabkan biota – biota laut menjadi korban, salah satunya penyu. Jenis-jenis sampah yang berserahkan dilaut adalah plastik, barang – barang bekas elektronik, pempers, vit gelas dan lain sebagainya.

“Sampah-sampah ini semua dari kota manokwari, dan yang sering menjadi sasaran tempat penampung sampah adalah pulau mansinam, palau nusmapi (pulau lemon-red),”aku Alex Sitanala.

Diharapkan juga kepada pemerintah dalam hal ini instansi terkait, untuk terus melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang larangan pembuangan sampah ke laut maupun darat. Sehingga jika ada rugulasiyang dimunculkan, bisa dapat dipahami oleh masyarakat.

Berikutnya, Komunias Ketapan Diving Manokwari juga menyarankan kepada Pemda, agar membuat satu dinas khusus untuk menangani persampahan di Kota Manokwari. Supaya semua biasa berjalan sesuai apa yang kita inginkan bersama yaitu Manokwari Nol Sampah.

“Kalau tidak ada nantinya seperti ini. Pemimpin ganti pemimpin manokwari tetap berserahkan dengan sampauh terlebih di laut,”tukasnya. [free]