Blusukan ke Pabrik Kopi, JWW : Kualitas Kopi Wamena Berbeda dengan Daerah Lain

1830

Petani Kopi Berharap Kopi Arabica Baliem Lebih Mendunia di tangan JWW

WAMENA, PapuaSatu.com –  Dalam masa kampanye dialogis Pilkada Gubernur Papua 2018, calon Gubernur Papua, John Wempi Wetipo (JWW) melakukan blusukan ke Pabrik Kopi Baliem Arabica di Kampung Yagara, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya.

JWW melihat dari dekat komoditas kopi yang menjadi unggulan di kabupaten tersebut. Apalagi salah satu poin dalam visi misi yang diusung pasangan John Wempi Wetipo-Habel Melkias Suwae atau yang  biasa disapa sebagai pasangan Josua adalah peningkatan ekonomi kerakyatan.

JWW berharap Kopi Arabika Wamena yang telah ditanam turun menurun oleh masyarakat Wamena, menjadi komoditas yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Dirinya juga menilai masalah kopi menjadi budaya masyarakat Baliem. Menanam kopi bagi masyarakat Wamena, tidak dilakukan saat ini saja, tetapi sudah dilakukan berpuluh tahun lamanya yang dibawa oleh Missionaris Belanda.

Beruntung, salah satu putra asli Papua terbaik, Maximus Lany di didik oleh Starbuck, salah satu nirlaba kopi asal Amerika Serikat, untuk menjadi petani kopi unggulan.

“Kualitas Kopi Wamena berbeda dengan kopi daerah lain, dimana Kopi Wamena tidak dipanen dengan sistem sisir, tetapi memilih biji yang sudah merah atau masak. Dengan cara panen itulah Kopi Wamena bisa mempertahankan kualitasnya,” katanya

JWW yang telah menjabat sebagai Bupati Jayawijaya selama dua periode ini menyebutkan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya telah lama mengembangkan perkebunanan kopi melalui Program Gertak atau Gerakan Tanam Kopi bagi masyarakat di Kabupaten Jayawijaya.

Secara geografis Kabupaten Jayawijaya yang terletak diatas ketinggian rata-rata 3.800-4.000 meter diatas permukaan laut, sangat cocok untuk ditanami kopi.

“Tanam kopi memiliki umur yang panjang hingga 30 tahun. Jika tanam kopi dimulai saat anak kita masih TK, maka hingga biaya kuliah, bisa dilakukann dengan uang dari hasil panen kopi,” jelasnya.

Saat ini yang menjadi masalah adalah rendahnya harga kopi dibawah rata-rata, hingga menyebabkan masyarakat malas kembali untuk menanam kopinya.

Calon gubernur Papua nomor urut 2, John Wempi Wetipo, SH. MH, saat blusukan ke Pabrik Kopi Wamena Foto : Istimewa/PapuaSatu.com

“Harga yang ditawarkan per kilogram kopi saat panen bisa Rp 45 ribu hingga Rp 60 ribu,” kata Wempi.

Kedepan, pemerintah perlu memberikan dana tambahan untuk mendorong petani kopi lebih mengembangkan hasil panennya. Dana tambahan tersebut bisa bersumber dari dana Otsus,  melalui pemberian bantuan bibit, bantuan alat pembukaan lahan, lalu bagaimana masyarakat bisa mengembangkan usaha yang lebih luas lagi.

“Itulah makanya kita datang hari ini, untuk melihat petani kopi, sehingga jika atas kehendak Tuhan, saya terpilih menjadi Gubernur Papua, pasti akan kami programkan untuk pengembangan petani kopi didaerah pengunungan Papua,” tukas JWW.

Sementara itu Maximus Lany salah satu petani Kopi Arabika Wamena. Maximus beruntung, ia pernah dididik oleh Starbuck, salah satu nirlaba kopi asal Amerika Serikat, menjadi petani kopi unggulan.

Ilmu dan pengalaman Maximus pun diterapkan di kampung halamannya,yakni Kampung Yagara, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya.  Maximus dan 38 kepala keluarga di Kampung Yagara, saat ini memiliki Koperasi Arabika Baliem, tempat dimana untuk mengumpulkan hasil panen, hingga diolah menjadi kopi biji bersih dan dijual ke pihak luar.

Maximus menjelaskan kondisi produksi kopi saat ini sedang menipis, karena belum datang masa panen. Biasanya pada Januari hingga Mei adalah musim bunga. Lalu diikuti bulan Juni-Juli musim panen dan proses pembersihan kopi hingga menghasilkan keuntungan bisa dirasakan hingga Desember.

“Sekarang ini buah lagi hijau, nanti Juni baru panen. Jadi produksi kami lagi sepi,” kata Maximus, Kamis 8 Maret 2018.

Maximus mengutarakan, kalau pihaknya tetap menjaga kualitas Kopi Wamena yang masih organik tanpa pestisida atau bahan kimia lainnya.

“Petani Kopi Wamena menjaga cita rasa kopi hingga masa panen. Petani tidak memetik buah yang masih hijau, tetapi harus sudah masak yang berwarna merah,” ujarnya.

Sepanjang 2017, kami telah mengirim 28 ton kopi ke Jayapura dan Timika. Ia berharap jumlah itu akan terus bertambah, jika dilakukan dengan perluasan lahan  bagi petani kopi.

Dirinya minta pemerintah ikut membatu membuka lahan baru. Apalagi jika Pak Wempi Wetipo menjadi Gubernur Papua, harus tolong petani kopi di Pegunungan Tengah Papua. Apalagi masyarakat setempat menganggap kopi adalah emas bagi kehidupannya.

“Kami yakin Pak Wempi bisa menolong petani kopi, untuk kehidupan yang lebih kami. Kami dukung bapak menjadi Gubernur Papua,” ucapnya. (josua/abe)