Kinerja Pertambangan Diprediksi Meningkat, Ekonomi Papua Akan Tumbuh di Triwulan IV 2019

0
70
KPw BI Papua, Naek Tigor Sinaga bersama Kepala OJK Papua & Papua Barat, dan Kepala Kantor DJPb Papua, dalam kesempatan Diseminasi Kajian Ekonomi Regional Papua Tahun 2019 di Aula Kantor DJPb Papua, Selasa (22/10/19)
KPw BI Papua, Naek Tigor Sinaga bersama Kepala OJK Papua & Papua Barat, dan Kepala Kantor DJPb Papua, dalam kesempatan Diseminasi Kajian Ekonomi Regional Papua Tahun 2019 di Aula Kantor DJPb Papua, Selasa (22/10/19)

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Perekonomian di Papua yang selama ini mengalami kontraksi yang cukup dalam, dan hingga mencapai -23,98 persen pada kwartal II 2019, diprediksi kondisinya akan berbalik positif, yang diprediksikan kinerja lapangan usaha pertambangan akan mengalami perbaikan.

“Perekonomian Papua pada triwulan IV 2019 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan positif terutama disebabkan mulai meningkatnya kinerja pertambangan dan base effect rendahnya kinerja pertambangan pada triwulan IV 2018,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Papua, Naek Tigor Sinaga dalam kesempatan memaparkan Laporan Perekonomian Papua (LPP) Tahun 2019 di Aula Kantor DJPb Papua, Selasa (22/10/19).

KPw BI Papua memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Papua di Triwulan IV 2019 berada pada kisaran 8,3% – 8,7% (yoy).

Namun, secara keseluruhan perekonomian Papua tahun 2019 tetap akan mengalami kontraksi, meski tidak sedalam proyeksi sebelumnya, sebagai dampak dari diperpanjangnya operasional tambang terbuka Grasberg hingga akhir Tahun 2019.

Untuk tekanan inflasi Papua pada tahun 2019, diperkirakan berkisar 2,1% – 2,5% (yoy) lebih rendah dari tahun 2018 yang sebesar 6,36% (yoy).

Inflasi komoditas bahan makanan pada tahun 2019 diperkirakan mengalami penurunan yang terutama dikarenakan pengaruh tingginya indeks harga pada mayoritas komoditas di tahun 2018 (base effect).

Di sisi lain, inflasi kelompok komoditas transpor, komunikasi, dan jasa keuangan pada tahun 2019 diperkirakan mengalami normalisasi sebagai dampak dari kebijakan penurunan Tarif Batas Atas (TBA) angkutan udara oleh pemerintah.[yat]