Akibatkan Korban Bertus Bamu Meninggal Dunia, Lima Tersangka Diamankan

SENTANI, PapuaSatu.com – Dari kasus pengeroyokan di Kehiran 2, Distrik Sentani yang mengakibatkan satu korban meninggal dunia atas nama Bertus Bamu (26), lima orang pemuda yang diduga sebagai pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kasusnya sendiri, terjadi pada Senin (7/09/20), yang dilatarbelakangi oleh rasa cemburu dari salah satu tersangka kepada korban.

Kelima pemuda yang ditetapkan sebagai tersangka, masing-masing berinisial DB, DD, MD, MN, dan ND.
“Korban atas nama Bertus Bamu (26) yang berstatus mahasiswa, dianiaya sekelompok masyarakat yang memang masih ada hubungan keluarga,” ungkap Kapolres Jayapura, AKBP Victor D. Macbon didampingi Kasat Reskrim Polres Jayapura, AKP Sigit Susanto, di halaman Mapolres Jayapura, Senin (14/9/20).

Peristiwanya bermula saat salah satu tersangka merasan cemburu setelah mengetahui korban berkomunikasi lewat media sosial di hp (chat) dengan istri tersangka.

Sehingga tersangka memanggil korban untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Saat korban datang, para tersangka secara bersama-sama memukuli korban dengan tangan kosong dan menendangi, sehingga korban pingsan dan dilarikan ke RSUD Yowari.

Setelah mendapat perawatan selama dua hari, korban sadar, dan oleh keluarganga dibawa pulang.

Setelah satu hari di rumah, Hari Rabu (9/9/20), ternyata kondisi korban memburuk, sehingga dilarikan lagi ke RSUD Abepura, namun korban kemudian meninggal dunia.

Pihak keluarga yang tidak terima kematian korban, baru melaporkan terkait peristiwa tersebut ke Polres Jayapura pada Hari Kamis (10/9/20), dan meminta untuk memproses hukum kepada para pelaku.

Kelima tersangka oleh penyidik Polres Jayapura dijerat dengan Pasal 170 Ayat 2 ke-2, dengan ancaman pidana maksimal 12 tahun penjara.

Yakni secara bersama-sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang ataupun barang yang mengakibatkanl meninggal dunia.

Dalam kasus tersebut, penyidik hanya menyita pakaian yang dikenakan korban saat dianiaya, yaitu baju kaos berwarna oranye, kuning, hitam, dan celana pendek warna hitam.

Kemungkinan ada upaya pihak adat menyelesaikan secara adat, kata Kapolres, pihaknya melihat dari berbagai sisi.

“Kalau memang berakibat fatal seperti ini, silahkan secara adat, tetapi kita tetap akan memproses terus,” jelasnya.

Penyelesaian secara adat, kata Kapolres, nantinya bersifat meringankan proses hukum bagi para tersangka.[yat]