Ketua YGGP Bantah Pernyataan Pelaku Pembakaran PAUD dan SAHP Karena Dipecat

0
236

JAYAPURA, PapuaSatu.com  –  Ketua Yayasan Gereja Gerakan Pentaskosta Hamadi-Jayapura, Felda Lukas SE. MA mengklaim bahwa pernyataan tersangka YRK atas pembakaran sekolah PAUD  dan SAHP Hamadi Jayapura diduga karena sakit hati akibat dipecat oleh pihak sekolah sangat tidak benar.

“Kalau yang bersangkutan (YRK) dipecat itu tidak benar. Yang benar adalah mengundurkan diri karena perbuatannya yang sering mabuk, dan merokok di areal sekolah, bahkan melakukan perbuatan yang tidak moral di sekolah. Kami berupaya memberikan pembinaan, namun merasa tidak terima akhirnya di keluar bukan dipecat,”  ungkap Velda menjawab pengakuan tersangka kepada kepolisian yang menyebut membakar  PAUD dan SAHP karena sakit hati.

Felda menjelaskan, Yacob (YRK) masuk kerja sebagai keamanan karena niat baik dari pihak Sekolah dan Gereja. Dimana Yacob awalnya mengikuti latihan SSB, namun karena sikap dan niat baik terlihat selama berjalannya waktu hingga akhirnya Mr Alan yang merupakan guru olahrga sekolah mengajak untuk bekerja sebagai petugas keamanan.

“Ketika Mr Alan meminta agar Yacob bekerja di sekolah, maka kami dari pihak yayasan mempersilahkan namun harus terus dibina. Kami mempersilahkan untuk tinggal bekerja di sini untuk bantu keamanan. Saya punya niat baik, saya ingin membantu,” katanya.

Berjalannya waktu, aku Felda, tingkah laku Yacob terlihat bagus dan mampu menjalankan tugasnya sebagai keamanan hingga pihak sekolah merasa bangga atas perilaku karena bisa mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.

“Aturan sudah kita kasih tau, terutama tidak boleh mabuk, merokok, berkelahi tidak boleh dan kalau tinggal di sekolah harus diberitahu jika keluar dari jam jam yang ditentukan,” paparnya.

Satu bulan berjalan, perilaku YRK sudah  mulai terlihat. Salah satunya mulai mabuk, merokok, pemalas kerja hingga melakukan moral di sekolah. “Sikap itu kami mencoba menegur secara berulang-ulang. Tiga bulan kami mendampingi dan memberikan pembinaan secara berulang-ulang,” ucapnya.

Karena merasa ditegur, akhirnya mulai malas bahkan tidak melaksanakan tugasnya sebagai keamanan di lingkungan sekolah dan Gereja. Namun karena malu dan tidak terima ditegur akhirnya Yacob mengundurkan diri dari sekolah.

“Jadi saya tidak tau apa penyebab dia (Yacob) membakar sekolah, entah mungkin dia mabuk atau minum obat, kami tidak tau. Yang jelas, kami tidak pecat tapi mengundurkan dari karena merasa malu atas sikapnya yang dilakukan selama bekerja sebagai keamanan,” jelasnya.

Perbuatan pembakaran Sekolah dan Gereja yang dilakukan oleh Yacob, lanjut Velda, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. “Mungkin dia emosi  karena mabuk atau minum obat, namun kami  sepenuhnya serahkan kepada pihak kepolisian agar menjadi efek jera atasu perbuatan yang dilakukan,” tukasnya. [loy]