9 Orang Reaktif dan 1 Orang Dinyatakan Positif Covid-19 di Kabupaten Keerom

2237
Caption : Bupati Keerom, Muh Markum bersama Kadis Kesehatan, dr. Rohim Situmorang saat memberikan keterangan pers usai penyerahan bantuan bahan makan di balai Kampung Dukwia, Distrik Arso VIII, kabupaten Keerom, Sabtu (11/04/2020).
Caption : Bupati Keerom, Muh Markum bersama Kadis Kesehatan, dr. Rohim Situmorang saat memberikan keterangan pers usai penyerahan bantuan bahan makan di balai Kampung Dukwia, Distrik Arso VIII, kabupaten Keerom, Sabtu (11/04/2020).

KEEROM, PapuaSatu.com – Sejak tanggal 30 Maret 2020 hingga saat ini, Tim Gugus Covid-19 atau Virus Corona bersama tim Gugus Covid-19 Provinsi Papua,  menemukan sebanyak 9 orang warga Keerom reaktif berdasarkan hasil Rapid Tes dan 1  dinyatakan Positif Covid-19.

“Info grafis dari tim Gugus Covid-19 kabupaten Keerom terdapat sebanyak 240 orang ODP dan 4 orang PDP. Dan informasi hingga hari ini 9 orang reaktif, 1 orang dinyatakan Positif Covid-19 yang sementara masih dalam perawatan,” ujar Bupati Muh Markum dalam keterangan persnya usai penyerahan bantuan bahan makanan kepada masyarakat di Kampung Dukwia, Sabtu (11/04/2020) siang.

Dengan adanya penyakit yang sudah mewabah di seluruh dunia khususnya di Kabupaten Keerom, Bupati Markum meminta kepada semua pihak yang ada di Kabupaten Keerom agar bisa mengakses dan mencari berita di tim Gugus atau kepada Kepala Dinas Kesehatan selaku juru bicara gugus Covid-19.

Mengenai  fasilitas Kesehatan, Bupati Markum  mengakui bahwa fasilitas untuk penanganan Covid-19 sangat terbatas, sehingga pihaknya meminta bantuan kepada Pemerintah Provinsi untuk ikut menangani Covid-19 di kabupaten Keerom.

“Kami sudah menyediakan tapi perlengkapan medisnya yang belum semua terpenuhi, seperti  Alat Pelindung Diri (ADP), Ventilator,  Rapid Test dan Virtual Reality (VR),” katanya.

Untuk menangani penyakit berbahaya ini, Bupati Markum telah melakukan langkah-langkah  sejak tanggal 15 Maret 2020 bersama Gugus Tugas, TNI-Polri, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Masyarakat di tingkat  distrik, dan Kampung telah bersatu padu dalam penanganan Covid-19.

Bahkan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat Keerom serta penyemprotan disinfektan di tempat sarana prasarana, seperti perkantoran, tempat ibadah, sekolah dan rumah-rumah masyarakat yang dimulai dari Skanto sampai ke distrik Web.

Bupati Markum menegaskan, penyebaran Covid-19 tidak mengenal itu pejabat, ASN, OAP, Non OAP, mengenal etnis dan suku. “Kita cegah sedini mungkin untuk penyebarannya, kita harus kendalikan,” tukas dia.

Oleh karena itu Bupati meminta kepada seluruh masyarakat yang ada di kabupaten Keerom agar bersama-sama memerangi pencegahan Covid-19, sehingga masyarakat tetap dalam kondisi sehat seperti yang diharapkan bersama.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan yang juga Jubir penanganan Covid-19 dr. Rohim Situmorang menjelaskan,  bahwa terbatasnya alat pelindung diri (APD) bukan hanya dialami di Kabupaten Keerom akan tetapi juga dialami di seluruh wilayah.

“Kita di Keerom anggaran APD sekitar 2.000 unit. Barangnya sudah ada di Jakarta, sebelumnya kita cari dan dapat 20 unit, Pemerintah Provinsi Papua juga mengetahuinya. Sementara bantuan dari Pemprov Papua hanya 10 unit sampai sekarang ada di rumah sakit,” katanya.

Menurutnya jika menggunakan APD hanya dipakai buang sementara untuk pemakaian sangat tidak cukup untuk petugas. Dimana petugas isolasi membutuhkan sebanyak tiga orang di pagi hari, siang tiga orang dan tiga orang di malam hari. “ Itu tidak cukup. Jadi apalah arti 10 unit bantuan APD itu,” katanya.

Meski demikian, cetus dr Rohim, bahwa Pemerintah Keerom akan berupaya maksimal jikalau tidak ada APD. “ya mau bilang apa, saya tidak paksa mereka melayani, karena sama saja membunuh mereka (petugas medis),” ujarnya.

Sementara lanjutnya, ruang isolasi di rumah sakit Kabupaten Keerom hanya dua unit, yakni ruang isolasi ringan yang diperuntukkan positif Covid-19 tanpa gejala. “Artinya, kita masukan disitu karena kalau di rumah takut menularkan,” paparnya.

Kemudian kedua, untuk sakit sedang sampai berat, yang membutuhkan bantuan pernapasan maka akan menyiapkan di bangunan laboratorium lingkungan hidup yang telah direkayasa dengan menampung sebanyak 10 orang pasien.  “Ya, Kalau tidak mampu kita kirim ke Kota Jayapura,” tukasnya.

Sementara PDT telah memesan sebanyak 1.000 picis namun masih dalam rencana. “Saat ini ada 100 picis bantuan dari Pemerintah Provinsi. PDT ini akan diperuntukkan bagi ODP yang baru pulang dari klaster Lembang dan Gowa,” pungkasnya. [miki/loy]