
JAYAPURA , PapuaSatu.com – Dinas kesehatan Provinsi Papua mencatat penderita HIV/AIDS di Papua sejak bulan Januari hingga September 2018 mencapai 38.874 kasus. Angka ini, Papua menempati urut 4 dari 44 Provinsi se-Indonesia.
Dari jumlah kasus tersebut, kabupaten Nabire menduduki peringkat pertama di Papua dengan jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 7.240 kasus disusul Kota Jayapura sebanyak 6.189, Kabuapten Jayawijaya sebanyak 5.964 kasus, kabupaten Mimika 5.670 kasus, kabupaten Jayapura 2.916 kasus, dan kabuaten Merauke 2.153 kasus. Jumlah ini harus menjadi perhatian serius dari Pemerintah daerah setempat.
“Dari jumlah kasus yang tercatat 14.581 kasus diantaranya penderita HIV dan 24.293 kasus penderita AIDS,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giay dalam keterengan pers di ruang pertemuan Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Jum’at (30/11/2018).
Kasus HIV/AIDS di Provinsi Papua, jelas Aloysius, disebabkan faktor multisektor atau multisebab antara lain faktor umum. Salah satunya sex bebas, jarum suntik dan jejaring satelit.
“Selain sex bebas, jejaring satelit juga termasuk salah satu faktor karena bila jejaring satelit tidak sampai ke Kampung-kampung maka penyakit semakin menjamur sehingga tidak bisa segera diobati. Kasus ini juga terjadi penularan dari ibu kepada anak,” katanya.
Oleh karenanya, Aloysius menghimbau kepada ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kandungan sedini mungkin guna mengetahui penyakit-penyakit yang diderita, salah satunya penyakit HIV/AIDS. “Bila penyakit berbahaya ini ditemuka maka harus segera dicegah agar sang anak tidak tertular,” ujarnya.
Selain ibu-ibu, Aloysius menghimbau kepada para lelaki agar sebaiknya melakukan sirkumsisi (sunat). “Sirkumsisi ini memang bukan menjamin anda untuk tidak terjangkit HIV/AIDS, tetapi lebih baik sirkumsisi karena lebih bersih dan tidak mudah terjangkit penyakit kelamin,” himbaunya.
Melihat kasus dan data penyakit pengidap HIV/AIDS di Papua, Aloysius mengajak semua sektor agar peduli dan bekerjasama dengan instansi terkait, baik Dinas Kesehatan, KPA, maupun lembaga swadaya masyarakat di Kampung-kampung.
“Kami dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua terus melakukan bimbingan teknik dan pendampingan di kabupaten Kota guna menolong orang Dengan Penderita AIDS (ODHA),” kata Aloysius
Bahkan pihaknya, telah menyediakan obat Antiretroviral (ARV) disetiap klinik, Pustu, Puskesmas dan Rumah sakit yang terdaftar di dalam system registarasi layanan ARV. Obat ini dikirim langsung ke masing-masing kabupaten Kota untuk penaggulangan HIV/AIDS
Hanya saja, sambung Aloysius, Obat ARV sampai sekarang hanya 40% sudah dikonsumsi penderita HIV/AIDS. “Harusnya sampai 100% tapi ini masih 40%. Hal karena tidak dijalankan di kabupaten kota, sehingga ini harus menjadi perhatian bersama, terutama perhatian dari pemda setempat,” ujarnya. [ayu/loy]










