Sempat Putus Asa, Kami Pengidap HIV/AIDS Berterimakasih Kepada Yan Matuan Karena Sudah Diselamatkan

Caption : Sejumlah Pengidap HIV/AIDS ketika memberikan keterangan pers di Kampung Sawoy, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Sabtu 18 September 2021
Caption : Sejumlah Pengidap HIV/AIDS ketika memberikan keterangan pers di Kampung Sawoy, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Sabtu 18 September 2021

“Mengenai Isu negative, kami Memohon kepada Gubernur tidak dengar kata orang, kami mau sehat sehingga kami minta kepada Bapak Gubernur Papua untuk tetap mempertahankan Pak Yan Matuan.  Karena lewat ibadah dan Doa dari pak Yan Matuan dan Hamba-hamba Tuhan kami selamat dari yang tersisa ini,” kata Danur Nasatekay salah satu pengidap HIV/AIDS

JAYAPURA, PapuaSatu.com Danur Nasatekay menjalani hari-hari penuh manfaat meski mengidap HIV/AIDS sejak tahun 2012 silam. Kala itu, Danur sempat putus asa dan tidak ingin hidup lagi karena kurangnya pelayanan dari kepengurusan KPA sebelumnya.

Dibawah pepohonan rumah milik pendamping ODHA Flora Yoboisembut yang terletak di Kampung Sawoy, distrik Kemtuk Kabupaten Jayapura, Sabtu 18 September 2021 itu, Danur mengakui ingin mengakhiri hidupnya karena tidak berdaya atas kondisi tubuhnya yang  kurus.

Semangat hidup pun mulai kembali sejak tahun 2019 ketika kepengurusan baru KPA Provinsi Papua yang dipercayakan kepada Yan Matuan sebagai Ketua Harian KPA Papua oleh Gubernur Provinsi Papua.

Sejak dilantiknya Yan Matuan, mulai memberikan gebrakan dengan tidak memilih siapapun dalam memberikan pelayanan kepada pengidap HIV/AIDS di tanah Papua.

Danur ikut merasakan ketika para hamba-hamba Tuhan dari KPA mulai mendatanginya untuk berdoa dan memberikan pelayanan layaknya keluarga sendiri. Semangat hidup mulai pulih ketika Yan Matuan selaku Ketua Harian KPA Papua membuat gebrakan dengan memberikan Nutrisi berupa Suplemen Purtier Placenta. Tidak hanya suplemen, bantuan berupa dana dan bama juga diberikan kepada para ODHA.

“Awalnya saya ada keraguan dan rasa trauma, namun dengan doa dan pelayanan yang diberikan dari KPA akhirnya saya menerima dan mengkonsumsi Purtier Placenta dan akhirnya kondisi tubuh saya sudah mulai membaik, Imunitas sudah mulai meningkat namun tidak menghentikan ARV yang diberikan oleh pihak rumah sakit,” ujar Danur.

Usaha dan upaya yang diberikan oleh KPA Papua dibawah  kepemimpinan Yan Matuan,  membuat Kondisi Danur kini mulai membaik dan sehat hingga saat ini. “Puji Tuhan Berkat pelayanan KPA, saya bersama-sama teman di wilayah Grimenawa kini sudah sehat. Sejak ada Pak Yan Matuan, kami merasakan apa yang kami inginkan selama ini,”  ungkap Danur ditemani rekan-rekannya.

Danur pun menyampaikan terimakasih Kepada Tuhan karena melalui pelayanan KPA, Dimana ketika mengecek Vira Load (Pengukur Jumlah Virus dalam Darah) selama dua kali, hasilnya positif dan rencana akan melalui tes Vira Load ketiga.  “Dan apabila dinyatakan positif lagi, maka secara otomatis saya dinyatakan sembuh dari HIV,” tukasnya.

Dengan itu, Danur meminta pak Yan Matuan untuk tetap bertahan guna memberikan pelayanan kepada kami ODHA. Sebab, dengan hadirnya Yan Matuan membuat semangat hidup bagi para ODHA.

Apalagi, menurut Danur, bahwa dirinya mendapat informasi dari beberapa media bahwa pak Yan Matuan ingin mundur dari KPA Papua karena akan menghadapi kasus hukum di Kejaksaan Tinggi Papua.

“Kami meminta kepada pak Yan Matuan untuk tetap bertahan, untuk memberikan pelayanan kepada kami. Hanya pak Yan Matuan yang bisa mengerti isi hati kami orang Papua, khususnya bagi penderita HIV/AIDS. Berikan kesempatan untuk memberikan kepada kami pelayanan. Ini permintaan kami,” tukasnya.

Danur bersama rekan-rekannya, juga meminta kepada Gubernur Papua untuk mempertahankan Pak Yan Matuan sebagai Ketua Harian KPA Papua. “Gubernur Papua yang mempercayakan pak Yan Matuan sudah bisa menyelamatkan kami. Kami minta pertahankan program yang diberikan melaluk Pak Yan Matuan,” ujarnya.

Hal itu disampaikan karena merasa trauma dengan KPA sebelumnya, yang hanya memberikan pelayanan kepada orang tertentu, sementara pengidap HIV/AIDS di wilayah Grimewa terabaikan. “banyak yang mati karena  kurangnya pelayanan. Tapi hadirnya pak Yan Matuan, penyakit kami bisa terangkat, semengat hidup kami mulai bangkit,” pungkasnya.

“Mengenai Isu negative, kami Memohon kepada Gubernur tidak dengar kata orang, kami mau sehat sehingga kami minta kepada Bapak Gubernur Papua untuk tetap mempertahankan Pak Yan Matuan.  Karena lewat ibadah dan Doa dari pak Yan Matuan dan Hamba-hamba Tuhan kami selamat dari yang tersisa ini,” kata Danur Nasatekay salah satu pengidap HIV/AIDS

Mengenai kasus hukum yang dihadapi ketua Harian KPA Papua, Danur mendesak Kajati Papua untuk menghentikan proses tersebut. “Saya mau kasih tau ya, uang yang diterima pak Yan Matuan, itu khusus buat kami untuk pemberikan purtier placenta. Itu tidak keluar dan kami merasakan itu,” katanya.

Danur merasa sangat cocok dengan Purtier placenta namun KPA tidak pernah melarang para pengidap HIV/AIDS untuk menghentikan ARV. “Kami ini yang merasakan, ketika kami minum suplemen  Purtier placenta, maka imunitas kami sangat kuat.  Dan kami sehat sampai sekarang ini,” katanya.

Purrier Placenta yang diberikan KPA kepada ODHA, diberikan secara gratis tanpa membayar. “ini sesuatu yang berharga buat kami ketika membeli Pruriter ini. Kami bisa tertolong karena yang memberikan kami gratis,” katanya.

Oleh karena itu, memohon agar kajati menghentikan kasus itu dan apabila terus dilakukan pemeriksaan maka, seluruh ODHA di wilayah Grimenwawa dan seluruh Papua akan mendatangi Kantor Kejasakaan Tinggi Papua untuk melakukan aksi demo besar-besaran.  “Kami akan datang dengan jumlah yang banyak. Bila perlu kami akan buat tenda untuk tidak di kejaksaan tinggi Papua,” cetus Danur.

Danur menegaskan, Kajati selaku orang Papua harus menyelamatkan orang papua yang hidup dengan penyakit HIV/AIDS. “Kami mau hidup, tapi kalau Kajati Papua mengganggu Pak Yan Matuan, sama hal membunuh kami orang Papua.  Kami mau sehat, kami mau selamat seperti pak Kajati hidup sehat,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, Martina Beno yang juga salah satu pengidap HIV/AIDS tersebut, mengakui sejak kepemimpinan Yan Matuan pada tahun 2019, dirinya bersama-sama teman yang mengidap HIV/AIDS di wilayah Grimenawa sangat terbantu. Dan apa yang sudah diberikan bantuan  sangat membantu perekonomian para pengidap HIV/AIDS

Apalagi, menurutnya, kehadiran KPA Provinsi Papua dibawah kepemimpinan Yan Matuan yang dipercayakan oleh Gubernur Papua bisa menyelamatkan dan memberikan harapan baru untuk hidup, meski menjalani penyakit yang mematikan tersebut.

Selain pelayanan kasih, seperti ibadah-ibadah dan doa-doa juga diberikan bantuan suplemen Puritier Placenta yang membangkitkan imun tubuh tambah naik dan kini mulai sehata dari  sebelum-sebelumnya.

“Kami tadinya tidak ada harapan untuk berjuang hidup, kini kami bangkit dan tidak lagi putus asa untuk hidup karena kehadiran pak Yan Matuan bersama-sama para hamba-hamba Tuhan membantu kami,” ujarnya.

Oleh karena itu, Marthina meminta kepada Gubernur Papua, untuk terus memberikan harapan hidup kepada pengidap HIV/AIDS. “Kami berterimakasih kepada Gubernur Papua karena sudah memberikan kepercayaan kepada Pak Yan Matuan memimpin KPA. Kehadiran Pak Yan Matuan membangkit hidup kami,” ujarnya.

Oleh karena itu, meminta kepada Gubernur Papua untuk tetap mempertahankan Yan Matuan memimpin KPA Provinsi Papua.

Selain itu, Marthina juga meminta kepada Kejaksaan Tinggi Papua agar menghentikan segala perkara yang selama ini ditangani terhadpa pemeriksaan Ketua Harian KPA Papua, Yan Matuan.

“Kajati Papua adalah orang asli Papua. Kalau terus melakukan pemeriksaan ini, maka Kajati Papua telah membunuh Kami orang Papua. Pak Yan Matuan, mengeluarkan uang hanya menyelamatkan kami. Pak Yan Matuan membeli Purtier Placenta agar kami hidup sehat, tapi kenapa Kajati masih terus melakukan pemeriksaan Kepada Ketua Harian KPA Papua?,” tegasnya mempertanyakan.

Jika ini terus dilakukan pemeriksaan, maka pihaknya bersama pengidap HIV/AIDS wilayah Grimenawa dan di daerah lainnya akan datang menduduki Kantor Kejaksaan Tinggi Papua. “Kami orang Papua ingin sehat, jangan Kajati melihat kacamahukum, tapi malihat kami yang sudah sekarat,” pungkasnya.

Bahkan meminta perlindungan kepada DPR Papua untuk melihat nasib ODHA. Di tanah Papua ini. “Kami mau sehat, tapi kami selalu diganggu ketika ada orang Papua yang peduli dengan kesehatan dan perekonomian kami. Mohon kepada DPR Papua agar ikut menyuarakan ini kepada Gubernur Papua,” tuturnya.

Pendamping ODHA wilayah Kemtuk Gresik, Kabupaten Jayapura, Flora Yoboisembut menyampaikan bahwa, mendampingi ODHA tidak semudah membalikan telapak tangan. Butuh proses dalam melakukan pendekatan agar mereka dapat dilayani dengan baik.

Ola panggilan akrabnya itu, menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ketua Harian KPA Papua, Yan Matuan karena lewat kehadirannya. Para Odha di wilayah Kampung Sawoy yang jumlah sekitar 60 orang lebih kini sudah mulai membaik.

“ODHA di wilayah Kemtuk Gresik sebanyak 66 orang, 6 orang sudah meninggal dunia karena tidak sempat terlayani. Puji Syukur dari sekian yang sisa ini mereka kini sudah mulai sehat. Itu berkat pelayanan doa dan berkat pemberian Suplemen dari pak Yan Matuan,” ujarnya.

Meski keterbatasan ekonomi, Ola yang begitu giat mengumpulkan para ODHA di Kampung Sawoy dan kampung terdekat wilayah Distrik Kemtuk Gresik. “Kami memang berkurangan, kami tetap melayani karena saat ini mendapat dukungan penuh dari KPA Papua,” katanya.

Oleh karena itu, dengan program yang diberikan KPA Papua dibawah kepimpinan Yan Matuan ini, tetap mendukung. “Saya minta pak Yan Matuan tetap ada di KPA. Kami juga meminta kepada bapak Gubernur untuk mempertahankan Pak Yan Matuan. Anak-anak saya ODHA bisa sehat berkat dari Pak Gubernur dan Pak Yan Matuan,” paparnya.

Diakui bahwa, sebelum mengkonsumsi Suplemen Purtier Placenta, kondisi kesehatan para Odha cukup memprihatinkan. Namun, ketika Suplemen yang diberikan KPA Papua secara gratis, maka kondisi Odha saat ini sudah mulai sehat. “Badan mereka kini sudah bagus, mereka sudah bisa bekerja,” katanya.

Oleh karena itu, ia meminta kepada Gubernur agar visi misi selamatkan sisa dari yang tersisa  terus dilanjutkan oleh Pak Yan Matuan.

“Saya minta, agar Bapak Gubernur tidak mendengar isu-isu atau masukan dari luar yang mencoba menjatuhkan program KPA. Kami mohon memberikan kepercayaan penuh kepada Pak Yan Matuan. Kehadiran pak Yan Matuan selaku orang Papua bisa memperhatinkan anak-anak kami,” ungkapnya. [redaksi]