
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Aktivis Pro Demokrasi Papua, Yan Matuan mendesak kepada John Wempi Wetipo yang maju sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, untuk meminta maaf kepada masyarakat atas penggunaan Ijazah palsu selama dua periode memimpin kabupaten Jayawijaya.
“ kami mendesak kepada bakal calon Gubernur Papua John Wempi Wetipu (JWW) untuk harus meminta maaf kepada masyarakat Jayawijaya,” tegas Yan Matuan kepada PapuaSatu.com, Rabu (07/02/2018) siang.
Desakan permintaan maaf ini, tegas Yan Matuan, karena selama 10 tahun JWW menjabat sebagai kepala daerah dengan mengunakan ijazah palsu.
“Kami masyarakat kabupaten Jayawijaya sangat kecewa dan kami merasa telah dirugikan dengan skandal ini. Ini sangat menyakitkan dan memalukan kami rakyat,” tegas tegasnya.
Ia menegaskan, kasus pemalsuan Ijazah telah didorong sejak tahun 2012 silam, namun terkesan dibiarkan oleh aparat kepolisian ketika melaporkan kasus tersebut. Namun, kali kembali maju Gubernur Papua dengan menggunakan ijazah Palsu.
“ pemimpin seperti kami minta untk tidak lagi ditiru oleh pemimpin lain di Papua. Ini potret buram wajah pemimpin yang suka menipu rakyat dan bobrok moralnya.
Yan Matuan merasa khwatir bila figur seorang JWW untuk memimpin Provinsi Papua, daerah lain pasti akan jadi sengsara. Dan bahkan para figure yang akan menjadi bupati bisa-bisa memalsukan ijazah.
“ bila JWW gagal dalam Pilgub maka itu meurpakan kegagaan sendiri. Jadi kami berharap jikwa JWW jujur dan terbuka terhadap dirinya, maka Dia (JWW) harus meminta maaf kepada rakyat Jayawijaya yang pernah membohongi selama 10 tahun lalu,” harapnya.
Menurutnya, seorang pemimpin maka jiwanya kesatria karena berani dan jujur menyampaikan kepada rakyat. “Jangan sembunyi dibalik kesalahan yang dilakuakn selama 10 tahun silam apalagi menyalahkan orang lain,” tukasnya.
Yan Matuan kembali menegaskan bahwa, dirinya tidak ada kepentingan kepada siapapun, akan tetapi ia menyuarakan hal ini demi rakyat yang selama ini dibohongi.
“ jadi kami mempunyai kewajiban untuk membuka scandal ini secara terang benderang atau generasi kita besok bisa korban meniru jejak pemimpin seperti ini. Ini contoh yang tidak terpuji dan tidak bisa diteladani oleh generasi papua besok jadi pemimpin,” cetusnya.
Papua merupakan tanah yang diberkati dan Papua merupakan tanah Inil, sehingga jangan menodai Papua dengan menanamkan benih kepalsuan dan kebohongan.
“ kita harus hindari pesta pilkada yang berdarah-darah. Papua harus buktikan cara berdemokrasi yang santun dan bermartabat dan berkualitas kepada daerah lain bahkan kepada dunia,” imbaunya.
Iapun berharap kepada KPU, MRP dan DPR Papua serta semua anak-anak adat agar saling terbuka dan bersinergi untuk melaksanakan semua tahapan Pilgub dengan prinsip mengutamakan kepentingan rakyat banyak. [rdf/loy]










