Deklarasi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 Tidak Ada Keterlibatan Pemuda Asli Papua

2231

Septi Meidodga : Generasi Papua Dicaplok 

MANOKWARI, PapuaSatu.com – Sekjen Pusat Gerakan Hak Asasi Manusia (HAM)  Nusantara, Septi Meidodga angkat bicara soal keterlibatan Pemuda asli Papua dalam deklarasi sumpah pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2017 lalu.

Pasalnya, Pemuda asli Papua tidak ikut serta dalam deklarasi sumpah pemuda Indonesia pada saat itu dan Pemuda asli Papua bukan bagian dari deklarasi sumpah pemuda tersebut.

Menurutnya,  secara kodrat, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, diman terdiri dari beragam suku, ras, bahasa, adat istiadat, agama, kepercayaan, dan keragaman lainnya.

“Bahkan letak geografis rangkaian sejarah Bangsa Indonesia sejak semula telah mencatat kemajemukan sebagai realitas keseharian dan diterima sebagai anugrah dari Sang Pencipta yang tak ternilai harganya. Tentu tak mudah dalam merawat dan menjaga “harta” yang dimiliki Bangsa Indonesia itu,”tulis Meidodga dalam proses releasenya yang diterima PapuaSatu.com, Minggu (29/10).

Dirinya menjelaskan,  banyak bangsa di dunia yang telah melakukan perubahan menuju keadaan yang lebih baik, tokoh penggeraknya adalah generasi muda dan kelompok orang muda yang memiliki jiwa kepeloporan, sportivitas, visoner, bersolider, dan senasib sepenanggungan dengan lingkungan sekitar.

Mereka hidup bersama masyarakat, menjadi penyambung lidah rakyat. Fakta itu menjadikan pemuda atau generasi muda sebagai tulang punggung pembangunan, agen perubahan. Mereka juga menjadi kelompok strategis yang memiliki akses serta pengaruh politik dalam kehidupan masyarakat yang multi identitas.

Dikatakannya, dalam sejarah Bangsa Indonesia, kelahiran Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) adalah bukti dari kepekaan dan kepeloporan pemuda/generasi muda dalam menjawab tantangan peran kesejarahan. Dengan menggalang semangat persatuan dan kesatuan, mengkonsolidasikan keanekaragaman potensi, membentuk sinkronisasi dan sinergi partisipasi dalam rangka mensukseskan kegiatan pembangunan tingkat daerah dan nasional.

Kata dia,  kepedulian dan panggilan tanggungjawab kesejarahan ini  telah mendorong tokoh-tokoh pemuda dan pimpinan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan dengan latar belakang berbeda-beda, dengan rasa tulus dan ikhlas menyatakan berhimpun dalam gerak langkah bersama demi terciptanya perjuangan Bangsa Indonesia. Itulah cetusan Deklarasi Pemuda Indonesia, 23 Juli 1973 sebagai landasan terbentuknya KNPI.

“Deklarasi Pemuda lahir dari sebuah kesadaran akan tanggungjawab pemuda Indonesia untuk menggerakkan segenap upaya dan kemampuan guna menumbuhkan, meningkatkan dan mengembangkan kesadaran sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Deklarasi pemuda lahir guna menindaklanjuti isi atau pesan suci sumpah pemuda yang telah menggariskan kebutuhan, guna mengikat satu bangsa satu tanah air, satu bahasa dan ikut serta mengisi kemerdekaan,”ucap Pemuda asli Arfak itu.

Dalam perkembangan sejarahnya, KNPI sebagai forum komunikasi pemuda, sebagai wadah kaderisasi dan partisipasi pemuda Indonesia di tingkat pusat hingga daerah, tidak bisa menutup mata terhadap tuntutan kebutuhan komunikasi. Kaderisasi dalam berpartisipasi pemuda Indonesia di daerah-daerah sehingga terbentuk struktur kelembagaan KNPI dari Pusat hingga ke daerah yang kemudian dibakukan dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga KNPI, hasil kongres I KNPI 1974.

Lanjut,  Meidodga mengutarakan, bahwa harus disadari bahwa persatuan dan kesatuan adalah inti dari perhimpunan, maka keterwakilan pemuda dari berbagai wilayah di Indonesia sangat dibutuhkan untuk dapat memperkuat persatuan pemuda secara nasional.

“Sehingga terscipta kekokohan dalam pemuda di Indonesia, yang merepresentasikan keberagaman dan pandangan tiap-tiap daerah,”aku Meidodga.

Oleh sebab itu,  kata Meidodga,  pada momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017, secara pribadi sebagai generasi muda Papua dengan jelas memandang bahwa deklarasi Sumpah Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta) tidak ada keterlibatan pemuda Papua di dalamnya. Untuk itu sacara historis pemuda Papua bukan menjadi bagian dari deklarasi pemuda Indonesia.

Namun,  sebut Meidodga,  karena kepentingan persatuan nasional pemuda Indonesia, maka semua generasi muda Papua dicaplokan dalam sumpah pemuda Indonesia.Telah terjadi manipulasi sejarah terhadap Bangsa Papua Barat semenjak pelaksanaan Pendapat Rakyat (Pepera di Tanah Papua) 1969.

“Hal tersebut berakibat kepada sejarah gerakan pemuda papua yang saat itu bangkit sebagai generasi muda berjiwa revolusioner Papua, dengan tindakan nyata melakukan aksi protes terhadap pemerintah Indonesia atas manipulasi Pepera tersebut,”beber Meidodga.

Akhir dari protes tersebut membuat pemerintah Indonesia merasa itu sebagai ancaman yang akan berakibat kepada pemecahan atau disintegrasi bangsa, sehingga pemerintah Indonesia menggalang dan mensuport konsolidasi pemuda Indonesia demi persatuan,agar dapat menggiring pemuda Papua di dalam persatuan pemuda Indonesia.

Semenjak dilakukannya berbagai perundingan terkait papua kedepan yang dahulunya bernama Nova Guenia nama yang diberikan oleh Ynigo Ortis de Retes, dan oleh pemerintah Belanda diberi nama Netherlansch Niew Geuenia,kemudian Indonesia memberi nama awal Irian Barat (  Irian ikut Republik Indonesia anti Netherlandsch ) namun dengan hadir dan berlakunya undang – undang nomor 21 tahun 2001 di sebut dengan nama Papua sampe saat ini.

Dari perundingan linggarjati konferensi meja bundar (KMB ), sampai perundingan dalam rangka penandatanganan perjanjian New York ( New York Agreement ) antara pemerintah kerajaan Belanda dan Indonesia yang dimediasi oleh perserikatan Bangsa – Bangsa ( PBB ), atas arahan dan peran Amerika Serikat sama sekali orang – orang asli papua ( OAP ) sebagai pemilik negri Papua tidak pernah dilibatkan atau dimintai pendapat sekalipun.

Penyelengaraan Pepera 1969 merupaka salah satu bukti manipulasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan Belanda dan Amerika Serikat, tampa melibatkan orang asli papua didalamnya. Hal itu mengakibatkan munculnya kesadaran dari generasi muda papua yang merasa proses tersebut salah, buktinya 30 juli 1969 generasi muda papua memotori aksi protes terhadap hasil penyelengara pendap rakyat ( PEPERA 1969 ).

Dengan tuntutan bahwa hasil Pepera tidak sah karena telah terjadi pelanggaran untuk itu Pemerintah Indonesia segera mengakui kedaulatan papua sebagai Bangsa yang merdeka dan berdaulat, bukti tersebut telah menjadi historis pergerakan generasi muda papua saat itu dengan memberikan kontribusi terhadap rakyat dan bangsa papua demi memperjuangkan cita – cita suci kemerdekaan.

Generasi muda Papua telah menjadikan sejarah gerakan tersebut sebagai fakta landasan yang kuat sehingga telah memberikan semanggat persatuan yang kokoh bagi semua generasi muda papua dengan jiwa patriotisme dalam memperjuangkan semua hak –hak  masyarakat asli papua ( OAP ) di Tanah Papua. (Free)