BPN Papua Akui Ada 16.000 Hektar Tanah Yang Belum Jelas Statusnya

0
317
Caption : Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Papua, Arius Yambe saat membuka rapat koordinasi di Aston Jayapura. Foto : Ayu Vhino/PapuaSatu.com
Caption : Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Papua, Arius Yambe saat membuka rapat koordinasi di Aston Jayapura. Foto : Ayu Vhino/PapuaSatu.com

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Papua, Arius Yambe SH, M.MT akui di Papua ada 16.000 hektar tanah yang belum jelas statusnya.

“Ada 16.000 hektar tanah yang belum jelas statusnya. Dalam artian, belum jelas ini objek tanah itu hak wilayat atau hak perorangan,” katanya kepada PapuaSatu.com saat Rapat Koordinasi Investarisasi dan Pemetaan Pengadaan Tanah dan Pelatihan Teknis Penyelenggaraan Reforma Agraria Provinsi Papua Tahun 2019, Sabtu (26/7/2019) di Hotel Aston Jayapura.

Maka, rapat koordinasi ini bertujuan agar ada pelatihan teknis kepada gugus reforma agraria. “Ada dua agenda, yang pertama menyangkut pemetaan pelaksanaan dari pengadaan tanah di Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota setanah Papua,” jelasnya.

“Tak hanya itu, ini juga untuk menginvestarisir persoalan dan permasalahannya. Untuk pelatihan teknis gugus reforma agraria, akan dilatih untuk menyiapkan tenaga-tenaga untuk gugus tugas di lapangan seperti melihat subjek dan objek dari agraria,” sambungnya

Dilanjutkan, objek yang dimaksud itu tanah. Dimana melihat status kepemilikan tanah ini tanah adat atau tanah perorangan/negara.

“Kalau ditempat lain, itu mudah karena status kepemilikan tanah itu gampang karena itu tanah negara. Kalau di Papua, belum jelas itu hutan negara atau adat,” lanjutnya.

Ada pun keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 35 tahun 2012 terkait mengembalikan hak hutan menjadi hak hutan adat. Menurutnya, ini persoalan yang terjadi di Papua dan harus ada Perda.

“Ini sebenarnya adalah tujuan yang mulia mengembalikan kawasan hutan menjadi kawasan budidaya masyarakat. Kami akan ukur tanahnya, dipatok-patok lalu kita akan kembalikan kepada kearifan lokal,” tutupnya. [ayu]