Alber Kalolik : Mahasiswa Jayawijaya Bicara Papua Sesuai Tingkat Pendidikan

Caption: foto panitia raker sedang menyerahkan LPJ raker HMPJ ke-VI kepada badan pengurus HMPJ di Asrama Nayak II Abepura, (21/11/2020).
Caption: foto panitia raker sedang menyerahkan LPJ raker HMPJ ke-VI kepada badan pengurus HMPJ di Asrama Nayak II Abepura, (21/11/2020).

JAYAPURA, PapuaSatu.com –Ketua Himpunan Mahasiswa Pelajar Jayawijaya HMPJ di kota Jayapura, Alber Kalolik, menegaskan,  siapapun yang mau berbicara terhadap masalah sosial yang terjadi di Papua harus sesuai tingkat pendidikan masing-masing khususnya mahasiswa Jayawijaya.

“Mahasiswa adalah sebagai agen perubahan dan fungsi kontrol yang harus berbicara dan bertindak  sesuai tingkat pendidikannya,” tegas  Alber Kalolik usai mengikuti acara Evaluasi dan pembubaran panitia Raker HMPJ ke-VI yang bertempat di Asrama Nayak II Abepura, Sabtu (21/11/2020).

Dikatakan, mahasiswa bicara dan bertindak sesuai tingkat pendidikan yang pernah diperoleh untuk menanggapi beberapa masalah sosial di Papua, seperti Perang suku, Miras, Narkoba, Ham, Politik, dan beberapa kasus kriminal lainnya di Papua.

Ketua HMPJ salah satu putra asli Jayawijaya ini mengaku bahwa apa yang bertindak mahasiswa itu jelas, bukan kepentingan politik dan lain-lain.

Ia mencontohkan kejadian beberapa bulan terakhir ini ada banyak pihak-pihak yang membicarakan masalah sosial di Papua khususnya tentang RDP yang dilakukan oleh MRP  tapi hanya asal bunyi saja.

“Kita Mahasiswa itu bertindak sentral saja. Bukan kepentingan politik dan sebagainya, karena kita bicara tidak seperti anak SD apa lagi bertindak untuk menanggapi masalah- masalah yang pernah terjadi baru-baru ini, misalnya beberapa oknum dari lembaga pemerintahan dan beberapa pimpinan daerah terhadap RDP dari MRP untuk bahas tentang implementasi Otsus. Namun pihak-pihak tersebut yang bertingkah tidak sesuai fungsi golongan dan jabatan . Hanya asal bunyi,” terangnya.

Ketua BEM Uncen Yops Itlay yang merupakan Senior HMPJ itu, mengatakan HMPJ sebagai wadah bagi mahasiswa, pelajar, dan pemuda Jayawijaya untuk membentuk karakter kepemimpinan yang berintelektual dan memiliki fungsi kontrol yang sentral.

“Akhir-akhir ini banyak dinamika sosial yang kami alami dalam organisasi mahasiswa maupun di kalangan masyarakat di Papua. HMPJ pun dapat mengalami krisis kaderisasi, namun dengan badan pengurus sekarang bisa lebih banyak buka ruang bagi anggota untuk pelatihan kepemimpinan dasar dan program konkret lainnya,” jelas Yops.

Ketua BEM Uncen sapaan Yops, itu berharap bahwa badan pengurus HMJP yang baru, kedepan banyak memberi kontribusi kepada anggota dan pendistribusian kader itu penting. Karena setelah kita selesai di HMPJ, kita akan bersaing dengan teman-teman diluar dari HMPJ bukan selesai dari HMPJ kembali ke Wamena. Jadi saya harap ade-ade jangan membangun ego individu atau kelompok dalam organisasi tapi harus bersatu dan kompak demi masa depan Jayawijaya dan Papua,” harap Yops. [miki]