1400-an Pengungsi Kerusuhan Wamena di Tongkonan Diberangkatkan dengan KM Sinabung

0
223
Caption : Suasana pemberangkatan pengungsi dari Posko di Tongkonan menuju pelabuhan Jayapura, Rabu (09/10/2019).
Caption : Suasana pemberangkatan pengungsi dari Posko di Tongkonan menuju pelabuhan Jayapura, Rabu (09/10/2019).

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Sebanyak 1400 lebih pengungsi akibat kerusuhan Wamena yang selama ini ditampung di Posko Gedung Sosial Tongkonan, Furia, Kotaraja, diberangkatkan dengan KM Sinabung secara gratis, Rabu (9/10) menuju Makassar, selanjutnya naik Bus ke Toraja.

Pantauan media ini, para pengungsi diangkut ke pelabuhan dengan puluhan Bus Polisi, BNPB, BUS UNIYAP, Truk dan juga mobil pribadi. Para pengungsi utamanya yang laki-laki rela berdesak-desakan naik truk  yang penting bisa berangkat. Keinginan kuat  bisa kembali kempung  halaman  pasca kerusuhan sudah tak  terbendung lagi, sehingga mereka  tak ingin berlama-lama di tempat pengungsian.

“Doakan kami ya, semoga tiba ke tujuan dengan selamat,”pinta seorang pengungsi mewakili rekannya.

Pemberangkatan pengungsi disaksikan langsung Ketua IKT Papua, Ir Elias Paonganan, MT, Ketua IKT Kota, Nobertus Banga’ S.Sos dan sejumlah pengus IKT lainnya.

Menurut  Koordinator  Pengungsi IKT Dampak Kerusuhan Wamena, Julius Palullungan, SH, sejak 23 September pasca kerusuhan di Wamena, warga Toraja eksodus ke Posko Tongkonan di Jayapura, terus bertambah hingga mencapai 2600 jiwa.

Namun sebagian sudah berangkat duluan dengan pesawat maupun kapal laut. Bahkan tadi pagi Rabu (9/10) ada 61 orang diberangkatkan kembali ke Wamena, sehingga  pengungsi yang masih ada di Posko saat ini sisa 500 orang.

“ Dari 500 orang ini ada yang akan kembali ke Wamena, lainnya ada menunggu kapal laut berikutnya terus ke kampung halaman,”jelasnya kepada PapuaSatu.com.

Dengan diberangkatkannya 1400 lebih pengungsi ini, maka pelayanan di Posko Tongkonan masih tetap dibuka sampai semua pengungsi kembali. “Kami  harap jangan terlalu lama, kita batasi waktu satu minggu lagi, baru tutup,”katanya.

Menurutnya, pemberangkan pengungsi ke Makassar ini sudah dikordinakan dengan pihak Pemprov Sulsel serta Pemkab Toraja dan Toraja Utara.  Skenarionya, sesampainya di pelabuhan Makassar  para pengungsi diantar ke Posko induk Pemprov Sulsel di Sudiang, setelah itu dijemput Pemda masing-masing kabupaten asal pengungsi . “Jadi kita sangat berharap warga pengungsi ini  diurus dengan baik, tidak ditelantarkan,”kata Sekum IKT Papua ini.

Diakui kepulangan pengungsi ini hanya untuk memulihkan rasa trauma mereka. Setelah Wamena benar-benar kondusif dan ada kepastian jaminan  keamanan dari pemerintah Papua maupun Kabupaten Jayawijaya, maka mereka akan kembali ke Wamena.

“Seperti halnya saat ini, rumah mereka yang tidak sempat terbakar, dari informasi pengungsi ternyata sudah ada yang ditinggali orang lain pasca rusuh.  Nah, yang begini jadi persoalan baru kalau tidak ada jaminan keamanan dari aparat,”katanya mencontohkan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang sudah memberikan bantuan kepada pengungsi di Tongkonan.  Baik per orangan, kelompok maupun pemerintah kota Jayapura dan Pemerintah Privinsi Papua, juga aparat keamanan TNI dan Polri. “ Saya atas nama pengurus IKT menyampaikan terima kasih atas dukungan dan bantuannya,”katanya.

Di akhir wawancaranya, Julius sedikit ‘curhat’, atas kurangnya perhatian pejabat public di Papua tentang keberadaan pengungsi. Sebab pengungsi yang lagi trauma atas peristiwa Wamena tak hanya butuh bantuan materi, tetapi juga dukungan moril dalam bentuk kunjungan.

Ironisnya,  pejabat Jakarta pun yang ke Papua, tak satupun ke Posko di Tongkonan.  “Kita maklumi mungkin Gubernur Papua, Ketua DPRP dan Ketua MRP sibuk, jadi beliau-beliau tak pernah datang jenguk warga pengungsi,” curhatnya. [sony]