Bank Indonesia Perkuat Penyediaan Rupiah di Wilayah 3T Papua

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Kepala KPw BI Papua, Warsono dalam siaran persnya pada Senin (13/4/26) mengungkapkan bahwa Bank Indonesia Provinsi Papua terus memastikan ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah yang cukup, pecahan yang sesuai, dan kondisi layak edar hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Sepanjang Maret 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua telah melaksanakan beberapa kali kegiatan Kas Keliling Luar Kota (KKLK) guna memenuhi kebutuhan masyarakat dalam aktivitas perekonomian sehari-hari. Diantaranya adalah KKLK Distrik Senggi, Kab. Keerom, Papua, yang dilaksanakan pada 5–7 Maret 2026 dalam upaya nyata Pejuang Rupiah dalam memenuhi kebutuhan uang Rupiah di Kabupaten Keerom. “Kegiatan ini ditempuh melalui jalur darat dengan medan yang cukup menantang,” ungkapnya dalam siaran pers, Senin (13/4/26). Pada kesempatan tersebut, Bank Indonesia juga memperkuat edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah. Kegiatan sama di Distrik Supiori Selatan, Kab. Supiori, Papua, serta KKLK yang digelar secara simultan di Kabupaten Paniai, Deiyai, dan Dogiyai. Selain sebagai upaya memenuhi kebutuhan uang Rupiah di sejumlah kabupaten yang terdapat daerah 3T, Bank Indonesia juga memperkuat edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah. Kondisi geografis yang terpencil dan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transaksi tunai menyebabkan uang Rupiah cenderung beredar dalam waktu lama, sehingga rentan mengalami kerusakan fisik. Hal ini menunjukkan pentingnya peningkatan intensitas KKLK serta edukasi kepada masyarakat mengenai ciri-ciri uang layak edar dan cara menjaga kualitas uang. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran transaksi ekonomi serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Rupiah di wilayah tersebut. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperluas jangkauan layanan kas melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan guna memastikan Rupiah hadir di seluruh pelosok, termasuk wilayah 3T. BI juga mengajak masyarakat untuk selalu merawat Rupiah dengan prinsip 5J, yaitu Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan diremas, Jangan distapler, dan Jangan dibasahi. Selain itu, masyarakat diharapkan berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan agar stabilitas harga tetap terjaga. Sinergi antara penyediaan uang tunai yang memadai, akselerasi pembayaran digital, dan peran aktif masyarakat dalam bertransaksi bijak diharapkan dapat memperkuat kelancaran sistem pembayaran.[yat]