Calon Menteri dari Papua Sebaiknya Orang Asli Papua Berwawasan Luas

3349
Pdt.Lipiyus Biniluk,M.Th
Pdt.Lipiyus Biniluk,M.Th

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Meski hasil Pilpres masih berproses di Mahkamah Konstitusi (MK), namun spekulasi nama-nama calon menteri Presiden Jokowi-Ma’ruf di kabinet jilid II, mulai bermunculan.

Terkait  dengan bursa menteri tersebut,  Seorang Tokoh Agama dari Papua, Pdt.Lipiyus Biniluk, M.Th berpendapat, jika Jokowi-Ma’ruf mengangkat menteri dari Papua, maka ada dua aspek mendasar harus diperhatikan. Pertama, sosial budaya dan religius.

Untuk memenuhi dua hal ini, maka sebaiknya calon menteri yang dipilih adalah Orang Asli Papua (OAP), karena yang tahu persis  budaya  Papua hanya  orang Papua sendiri.

Meski lama tinggal dan mengabdi di Papua, itu bukan  jaminan. Kemudian dari disisi religius,  melihat rakyat Papua mayoritas Kristen, maka  sebaiknya calon menterinya penganut agama  mayoritas di Papua.

“Dengan begitu  Papua benar-benar merasa terwakili di Kabinet,” jelas Pdt.Lipiyus via telepon selurernya kepada PapuaSatu.com, Rabu (29/5).

Dikatakan, selain OAP dan penganut agama mayoritas di Papua, dia takut Tuhan, berintegritas, berwawasan luas, dan punya kemampuan berkomunikasi yang baik dengan segala suku  bangsa yang ada. ”Sehingga dia betul-betul bisa mendeteksi kebutuhan dan bisa menjawab kebutuhan rakyat,” tambah Tokoh berpengaruh ini.

Diakui, selama ini  menteri-menteri terkait hanya banyak sibuk  di Jakarta, padahal sebenarnya mereka bisa turun  ke lapangan mengambil aspirasi rakyat  di setiap kabupaten/Kota di Provinsi.

“Pembantu-pembantu presiden betul-betul bangun komunikasi yang intens dengan kepala-kepala daerah Provinsi, kabupaten/kota untuk mensinergikan program pusat, jangan pemerintahan pusatdan daerah terkesan jalan sendiri-sendiri. Mari tinggalkan kepentingan politik bangun bangsa ini dengan kerja sama yang baik,” katanya.

Menurutnya, Bangsa  Indonesia membutuhkan pemimpin  yang  takut Tuhan, berintegiritas, dekat dengan rakyat, mau berkorban segalanya untuk rakyat baik waktunya, tenaga bahkan  dompet (hartanya).

Pasalnya, mayoritas penduduk Indonesia itu 85% ekonomi lemah. Karena itu jadi pemimpin dia harus bisa  merendahkan diri, merelakan diri untuk bergaul dengan raakyat agar rakyat merasa dihargai, sehingga bisa meminimalisir konflik yang terjadi akibat kecemburuan sosial.

Sosok pemimpin yang dibutuhkan ke depan harus bisa jadi teladan dalam berbagai aspek kehiudupan. Pemimpin yang tidak banyak tingggal di Jakarta tetapi lebih banyak tinggal di Papua, turun ke masyarakat, serta bisa mengerti visi misi pemimpin di atas agar  bisa direalisasikan ke bawah. [sony]