Diminta Perjuangan Hak Peternak Ayam Petelur Lokal, Abdul Saba : Kadin Papua Barat Harus Lakukan Pendataan

156
Abdul Makmur Saba, pengusaha ternak ayam petelur dan ayam di kabupaten. Manokwari, Papua Barat
Abdul Makmur Saba, pengusaha ternak ayam petelur dan ayam di kabupaten. Manokwari, Papua Barat

MANOKWARI, PapuaSatu.Com – Dalam rangka pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kamar Dagang dan Industri (Kadin) diminta memperjuangan hak pengusaha lokal di sektor peternakan ayam petelur di Provinsi Papua Barat.

Pasalnya, para pengusaha lokal tersebut belum maksimal mendapat perhatian dari pemerintah daerah (Pemda).

Hal ini dikatakan Abdul Makmur Saba, pengusaha ternak ayam petelur dan ayam potong di Kabupaten. Manokwari, Papua Barat kepada media ini, Kamis (04/07/2024).

Menurutnya, Kadin Provinsi Papua Barat harus memperjuangkan hak para pengusaha lokal ternak ayam petelur di daerah, supaya pasokan telur dari luar Papua Barat dapat dibatasi.

“Kita pengusaha lokal khusus ternak ayam petelur membutuhkan perhatian, dan peran penting pemerintah dan organisasi pengusaha. Agar pasokan telur dari luar bisa dibatasi, dan kembangkan pengusaha ternak ayam petelur lokal agar pendapatannya lebih baik kedepan,”ujarnya.

Sebagai pengusaha Papua yang bergerak di usaha ternak ayam petelur, Abdul Saba mengatakan, tidak pernah dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang diperjuangkan Kadin di daerah.

“Saya lihat organasi pengusaha ini atau Kadin, hanya melibatkan pengusaha-pengusaha tertentu atau konglomerat. Sedangkan kita pengusaha lokal atau menengah ini tidak dilibatkan,” kata Abdul Saba atau yang biasa disapa Tolle.

Oleh karena itu, dirinya berharap, ketua umum (Ketum) Kadin provinsi Papua Barat periode 2024-2029 dapat memperhatikan persoalan yang sering dihadapi pengusaha lokal, sekaligus mendata dan melakukan pembinaan khusus bagi pengusaha lokal asli Papua.

“Saat ini, sudah mulai banyak pengusaha asli Papua yang bergerak di usaha ternak ayam petelur. Tapi mereka (pengusaha asli Papua-red) terkendala di modal, tapi juga pemasaran,”ungkapnya.

Selain memperjuangkan hak, kata dia, Kadin Papua Barat juga harus turun langsung ke pasar maupun tempat pengusaha lokal ayam petelur, supaya dapat mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi para pengusaha tersebut.

“Kadin harus turun langsung ke pasar, supaya bisa tahu kendala-kendala pengusaha lokal,”sarannya.

Kenapa demikian, kata dia, pengusaha lokal sangat susah sejak terjadi Covid-19 hingga kini, dimana perputaran uang di pasar tidak seperti dulu sebelum terjadinya Covid-19.

“Kadin harus bantu memulihkan kondisi pengusaha lokal di pasar, supaya perputaran uang untuk pengusaha lokal kembali membaik. Entah itu Kadin mau bekerjasama dengan BUMN atau pemerintah, intinya harus ada pemulihan,” harap Abdul lagi.

Apabila tidak ada langkah yang diambil oleh organisasi pengusaha seperti Kadin, menurutnya, kondisi perputaran uang akan lebih parah, bahkan bisa mengakibatkan perekonomian di Papua Barat khususnya di Manokwari semakin susah.

Dicecar mengenai pemasok ayam petelur di Manokwari, Abdul Saba mengaku, telur ayam yang saat ini beredar di pasar, itu dipasok dari Surabaya. Sedangkan, sambungnya, di daerah sudah banyak pengusaha ayam petelur.

“Kita tidak batasi, tapi tolong pemerintah dan organisasi pengusaha harus berdayakan peternak lokal dalam hal ini pengusaha asli Papua yang bergerak di usaha ayam petelur dan ayam potong. Lahan masih banyak. Bukan persoalan batasi langsung pasokan dari luar, tapi harus ada pembatasan,” ucap pengusaha Papua yang juga terlibat di Asosiasi Ayam Telur di kabupaten Manokwari ini.

Selain memulihkan ekonomi pengusaha lokal, lanjut dia, tapi juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi anak asli Papua.

“Anak Papua yang belum memiliki pekerjaan, ya bisa terjun di dunia usaha ternak ayam petelur, tapi juga usaha lainnya,”

“Memang menjadi peternak ayam petelur membutuhkan modal yang besar, tapi saya pikir pemerintah bisa lakukan pembinaan dengan memberikan bantuan modal. Apalagi ini berkaitan dengan pengembangan ekonomi kerakyatan,” pungkasnya.

Ditanya soal jumlah pengusaha ternak ayam petelur di Manokwari, dia menyebutkan, khusus untuk di kabupaten Manokwari ada empat sampai lima pengusaha lokal yang menjadi distributor.

“Maka pemerintah harus lebih fokus memperhatikan dan memberdayakan peternak ayam petelur lokal, agar bisa lebih banyak pengusaha lokal. Dan disitulah, kita bisa berbicara tentang pembatas pemasokan telur ayam dari luar Papua terlebih Manokwari,”tukasnya.[free]