Dukung DOB Papua, Tokoh Gereja Kingmi Sebut Kelompok Yang Tolak Tidak Merepresentasikan Semua Orang Papua

32
Pdt. Dr. Yones Wenda, S.Th., M.Th.,
Pdt. Dr. Yones Wenda, S.Th., M.Th.,

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Tokoh Gereja Kemah Injili Masehi Indonesia (Kingmi), Pdt. Dr. Yones Wenda, S.Th., M.Th., yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua menyatakan dukungannya terhadap pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Provinsi Papua.

Ditegaskan, bahwa kubu yang menolak DOB yang selama ini berkoar-koar, tidak mereprentasikan masyarakat Papua secara utuh.

Orang Papua yang tolak DOB itu hanya kepentingan orang-orang tertentu dan tidak mewakili masyarakat Papua,” ungkap nya dalam keterangan pers, Selasa (20/12/22).

Hal itu dapat dilihat saat melakukan aksi demo yang tidak melibatkan orang tua, pemuda serta hamba Tuhan.

“Saya merasa bahwa kubu penolak DOB hanya mengatasnamakan masyarakat Papua, namun sebenarnya tidak sepenuhnya diwakilkan,” tegasnya.

Yones Wenda juga menyatakan bahwa tidak representasinya aspirasi penolakan DOB juga dapat dilihat dengan tidak adanya bukti tanda tangan petisi mereka untuk menolak DOB.

“Kemudian KTP sebagai bukti yang dikumpulkan itu kemana, ini kan tidak jelas. Saya mempertanyakan perihal tidak dilibatkannya seluruh komponen masyarakat di Papua dalam aksi menolak DOB. Artinya, jika aksi itu memang benar dan murni mewakili suara rakyat Papua, tentu banyak yang ikut bergabung,” tandasnya.

“Bagi kami yang setia berideologi Pancasila, merasa aspirasi mendukung DOB dari masyarakat Papua sangat penting untuk didegarkan pemerintah. Terlebih kami menilai akan banyakk manfaat bagi masyarakat,” lanjutnya.

Terkait itu, pihanya pun berkomitmen penuh untuk menyuarakan aspirasi mendukung DOB kepada DPRP Provinsi Papua.

“Kami menilai dengan adanya DOB di Papua, kita punya anak-anak Papua yang tidak bekerja dan kini mereka memiliki tempat untuk bekerja. Ini suatu hal positif yang kita lihat,” ujarnya.

Yones Wenda pun menekankan terkait kebanggaan orang Papua terhadap Otsus, lantaran banyak yang terbantu, khususnya orang tua yang tidak mampu membiayai sekolah, kesehatan dan lainnya yang dapat teratasi dengan baik.

Mencermati adanya keterlibatan sejumlah rohaniwan gereja di Papua yang mendukung Gerekan Papua Merdeka, Yones Wenda mengajak para tokoh gereja (pendeta/pastor) untuk lebih menekankan ajaran cinta damai kepada para jemaat.

Hal ini sesuai dengan tugas utama pendeta sebagai pemimpin rohani gereja serta dalam rangka memelihara, melindungi dan menjaga kehidupan spiritual jemaatnya.

Yones Wenda juga menyampaikan pesan kepada pemerintah bahwa kalangan gereja (sinode) mempunyai tugas untuk membawa umat secara utuh kepada Tuhan.

“Dari Sinode Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia (KINGMI) di Tanah Papua ingin menyampaikan kepada Pemerintah bahwa gereja (sinode) mempunyai tugas untuk membawa umat utuh kepada Tuhan, itulah tanggung jawab gereja,” tegasnya lagi.

Dikatakan, bahwa Gereja tidak perlu terpancing untuk mengikuti atau bahkan terlibat dalam berbagai aktivitas yang berada di luar kewenangan gereja atau diluar urusan kerohoaniaan, seperti masalah dukungan terhadap gerakan Papua Merdeka atau intervensi perihal Otonomi Khusus (Otsus) yang jelas-jelas masuk keranah politik.

Sikap itu bukanlah kewenenangan atau tugas gereja. Dan seperti yang diketahui, Papua merupakan bagian dari Negara Kesatuan Repulblik Indonesia (NKRI). Maka tugas dan kewenangan gereja adalah membawa umat utuh kepada Tuhan. Itulah yang menjadi tanggung jawab gereja. Dan gereja-gereja harus memahami ini, begitupun dengan sinode-sinode harus mengetahuinya.

Keterlibatan pihak gereja dalam memberikan dukungan kepada kelompok pemberontak (pro Papua Merdeka) yang kerap kali melakukan aksi kekerasan terhadap aparat TNI/Polri dan penduduk sipil setempat sangat bertentangan dengan ajaran dalam kita Injil.

“Kalau gereja mempengaruhi masyarakat untuk membunuh orang, itu merupaka tanggung jawab besar antara hamba Tuhan dengan Tuhan. Jadi itu merupakan tanggung jawab karena firman Tuhan, janganlah membunuh orang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan kelompok Pdt. Socrates Sofyan Yoman dan Pdt. Benny Giyai, para tokoh gereja sekaligus akademisi Papua yang pro terhadap gerakan Papua Merdeka untuk tidak lagi menggunakan lambang-lambang atau logo Injil Empat Berkatan yang selama ini dipakai demi mendapatkan bantuan dari Dana Otsus.

“Untuk penggunaan logo tersebut seharusnya Pdt. Benny Giay menempuh prosedur hukum dahulu. Dengan demikian tidak sepantasnya mereka menyalagunakan logo gereja dan anggaran Otsus untuk mengacaukan umat Kristen di Indonesia,” jelasnya.

Ditegaskan lagi bahwa tokoh agama dan pemuda KINGMI Papua mendukung penuh pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua serta mendukung terciptanya situasi Kamtibmas yang aman dan damai di Tanah Papua.

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan,” imbaunya.

Yones Wenda juga mengajak kepada Pimpinan dan Umat Kingmi untuk perlu menjadi sebagai garam yang memberi kesedapan panutan yang menghalau dalam gangguan apa saja terhadap gereja.

Dalam kesempatan tersebut, Yones Wenda  juga menyinggung perlunya semua pihak dalam mendukung proses hukum yang dilakukan KPK RI terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe.

“Upaya penegakan hukum terhadap aparat penegak hukum dalam hal ini KPK RI atas kasus Gratifikasi terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe perlu mendapat dukungan dari semua pihak kalangan masyarakat Papua, demi terciptanya kekudusan yang diberkati oleh Tuhan diatas Tanah Papua,” pungkasnya.[redaksi]