Empat Tahanan Politik Tiba di Papua, Ketua KNPB : Kami Akan Terus Berjuang Untuk Bebas dari NKRI

568
Caption : Empat Tapol Napol, saat dijemput oleh rakyat Papua yang selanjutnya menggelar ibadah syukur serta bakar batu di Rusunawa Perumnas III Waena, Sabtu (22/08/2020). Foto : Yos Itlay/PapuaSatu.com
Caption : Empat Tapol Napol, saat dijemput oleh rakyat Papua yang selanjutnya menggelar ibadah syukur serta bakar batu di Rusunawa Perumnas III Waena, Sabtu (22/08/2020). Foto : Yos Itlay/PapuaSatu.com

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Simpatisan Komite Nasional Papua Barat  (KNPB) merayakan Ibadah Syukur atas kedatangan empat tapol napol dari kalimantan, dengan melakukan bakar batu secara budaya orang Papua di lapangan rusunawa, Perumnas III, distrik Waena-Kota Jayapura, Sabtu (22/08/2020).

Pantauan di lapangan, Buchtar Tabuni Cs dijemput langsung oleh Ketua KNPB Agus Y.  Kossay bersama rombongan. Bahkan diketahui bahwa penjemputan empat Tapol Napol ini dikawal ketat oleh aparat TNI-Polri.

Saat penjemputan, Ogram Wanimbo selaku Ketua Diplomasi Umum KNPB meminta kepada rakyat Papua agar menjaga ketertiban dalam proses penjemputan.

“Jangan ada gerakan tambahan. Mari kita jemput mereka dengan baik dan aman. Kami minta pihak keamanan TNI/Polri untuk tidak terlalu agresif dalam proses penjemputan ini,” tuturnya.

Namun Buchtar Tabuni yang didampingi  kuasa hukumnya, Emanuel Gobai meminta kepada rakyat Papua untuk tetap tenang. “Saya minta tetap tenang, dan saat ini saya belum bisa ke tempat acara karena saya  menuju ke rumah duka,” katanya.

Ketua Umum (KNPB) Ages Y.  Kossay, menyampaikan bahwa keluar empat tapol napol dari tahanan bukan mundur dalam perjuangan akan tetapi terus maju dan terus berjuang untuk bebas dari NKRI.

Dikatakan, ujaran rasisme yang terjadi di Surabaya itu terjadi dalam proses hukum. “Saya juga berfikir bahwa kami sudah pelajari dari Indonesia itu kami tidak punya harapan dimassa depan,” tegas dia.

Ages menyebutkan, masalah rasisme tidak memandang itu barisan merah putih atau pejabat Negara. “Kalau bicara rasis itu menghina kami orang Papua, sekalipun itu dia pejabat. Itu menghina kami, sehingga kami harus melawan dan kami keluar dari penindasan  agar kami bisa berdiri sendiri,” cetus nya.

“Selama kami masih Ada dalam NKRI kami harus melawan di negara ini, Kata monyet itu Kata penghinaan diatas tanah ini, kita harus keluar dari penindasan ini, kita harus perdiri sendiri,” sambungnya.

Menurutnya, keadilan bagi Negara tidak ada dan Negara sedang memperlakukan kejahatan kepada rakyat Papua. “Jadi selama kami dibawah naungan NKRI dan kami tidak dihargai oleh bangsa ini, pada hal kita ini diciptakan oleh tuhan sendiri, Dan mereka juga diciptakan oleh Tuhan juga,” ujarnya

Ia menjelaskan tentang menjalani hukum itu, kata dia, rakyat Papua ditangkap karena hukum rasisme yang selanjutnya dibawa ke Makar. “Kami di penjara kami protes atas rasisme di Surabaya,” pungkasnya. [yos/loy]