Festival Budaya Lembah Baliem Cetak Rekor MURI dengan 1.500 Pemain Musik dan Penari

‎WAMENA, PapuaSatu.com – Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2025 berhasil mencetak sejarah baru setelah meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk penampilan 1.500 pemain musik tradisional pikon dan penari etai yang tampil secara bersamaan.

‎Festival yang digelar di Wamena, Kabupaten Jayawijaya ini juga mencatatkan rekor jumlah wisatawan terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

‎Acara ini dibuka secara resmi oleh Bupati Jayawijaya Athenius Murib, didampingi Wakil Bupati Ronny Elopere dan Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol. Turut hadir dalam pembukaan adalah tokoh masyarakat Papua, Maximus Tipagau.

‎Ribuan wisatawan dari berbagai negara memadati Wamena selama penyelenggaraan festival. Pengunjung tidak hanya berasal dari wilayah Indonesia, tetapi juga dari Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan negara-negara Eropa lainnya.

‎Kehadiran wisatawan mancanegara ini menjadi bukti nyata bahwa daya tarik budaya Papua telah menembus batas geografis dan menarik perhatian dunia internasional.

‎Jutaan warga Papua dari berbagai penjuru, termasuk suku-suku adat yang berpartisipasi dalam pertunjukan budaya, turut meramaikan festival selama beberapa hari penyelenggaraan.

‎Bupati Jayawijaya, Athenius Murib berkomitmen pemerintah bakal terus melestarikan budaya Papua Pegunungan.

‎”Festival ini adalah bentuk perhatian nyata dari pemerintah pusat dan daerah kepada masyarakat budaya. FBLB bukan hanya ajang seni, tapi juga bukti bahwa kita bangga, peduli, dan siap mewariskan kekayaan budaya Lembah Baliem kepada generasi mendatang,” kata Murib.

‎Senada dengan itu, Maximus Tipagau yang dikenal sebagai Maximus Gladiator Papua menyampaikan bahwa Festival Lembah Baliem merupakan aset budaya yang harus dijaga dan dikembangkan untuk mengenalkan Papua ke seluruh dunia.

‎Tingginya angka kunjungan memberikan dampak positif signifikan bagi perekonomian lokal. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merasakan lonjakan permintaan yang drastis.

‎Produk lokal seperti kerajinan tangan, kuliner khas Papua, pakaian adat, dan souvenir budaya laris manis diburu wisatawan. Banyak wisatawan asing terlihat antusias berinteraksi langsung dengan pengrajin lokal sambil mempelajari filosofi dan nilai budaya yang terkandung dalam produk-produk tersebut.

‎Sejarah dan Perkembangan Festival

‎Festival Budaya Lembah Baliem pertama kali diselenggarakan pada 1989 sebagai upaya memperkenalkan budaya suku Dani, Lani, dan Yali ke publik nasional dan internasional. Kini, festival ini telah menjadi ikon budaya Papua yang mendunia.

‎Setiap tahun, festival menampilkan berbagai atraksi budaya seperti perang adat, tarian tradisional, musik lokal, pameran kerajinan, pawai budaya, dan kuliner khas. Tahun ini, penyelenggara menghadirkan program khusus berupa lokakarya budaya dan diskusi interaktif dengan tokoh adat serta akademisi lokal.

‎Data panitia menunjukkan jumlah pengunjung tahun ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya sebagai tahun dengan capaian tertinggi dalam sejarah Festival Lembah Baliem.

‎Dengan keberhasilan tahun ini, Pemerintah Daerah Jayawijaya bersama Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan berkomitmen mengembangkan Festival Lembah Baliem secara berkelanjutan.

‎Festival ini juga semakin memperkuat posisi Papua Pegunungan dalam peta pariwisata dunia, menjadi wadah pelestarian budaya, dan sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. [redaksi]