George Awi : Mahasiswa Eksodus Jangan Tinggal di Jayapura, Kami Tidak Mau Tanah Ini Dibasahi dengan Darah

0
14545
Ketua LMA Port Numbay George A Awi
Ketua LMA Port Numbay George A Awi

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Ondoafi Port Numbay George Awi meminta kepada aparat penegak hukum, memproses hukum pelaku pendemo di ekspo Waena-Kota Jayapura dan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Senin (23/09/2019) lalu.

Menurut George tindakan anarkhis yang dilakukan oleh pendemo dari mahasiswa maupun pelajar tersebut merupakan tindakan yang tidak berkeprimanusiaan.

“Mereka melakukan pengrusakan, pembakaran dan penganiayaan. Harta benda habis, nyawa manusia hilang.  Kami merasa kesal atas sikap yang mereka lakukan,” tegas George kepada wartawan di Abepura, Kota Jayapura-Papua belum lama ini.

Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay ini menduga ada pihak ketiga yang menunggangi para aksi demo damai ini, sehingga terjadi pertumpahan darah di Kota Jayapura yang selama aman dan damai.

“Harus ditelusuri karena masyarakat Port Numbay tidak mau tanah kami dibasahi dengan darah. Kami mau hidup bersaudara, aman, tentram supaya semua orang hidup sesuai profesinya dan semua orang bebas melakukan aktifitasnya,” tegas George.

Menurutnya, bila alasan mahasiswa dan pelajar melakukan aksi demo karena ada pernyataan salah seorang Guru di Wamena dengan kalimat Rasis, harusnya dicek kebenarannya sehingga tidak membias.

“Kalau alasan mahasiswa dan pelajar melakukan aksi demo karena rasis,  sangat tidak masuk akal. Saya tidak terima itu. Harus ditelusuri terlebih dahulu dan kalau memang benar harus dilakukan tindakan hukum, tapi tidak harus melakukan aksi demo. Namun kalau demo sudah anarkhis begini, maka saya minta kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas para pelaku, karena selain merenggut nyawa manusia juga menghabisi harta bendara rakyat,” ujarnya.

Iapun meminta kepada mahasiswa eksodus yang ada di Jayapura agar tidak membuat gerakan tambahan. “Kalau kamu mau pulang harus pulang ke rumahmu masing masing kota asal dan jangan tinggal di Jayapura karena tanah ini tidak mau dibasahi dengan darah,” tukas dia.

Lanjut George Awi, jikalau arah pikiran mahasiswa rasional dan memiliki ilmu intelektual tidak melakukan tindakan yang anarkis. “Nah, yang kita lihat ini kan sudah bertindak dengan merugikan banyak orang. Jadi harus diselidiki oleh apara keamanan, karena bisa saja kejadian ini dipermainkan oleh pihak ketiga,” tukasnya.

Lebih lanjut disampaikan George Awi bahwa, Gubernur Papua memiliki niat untuk bertemu dengan mahasiswa Eksodus namun ditolak. “Mereka tidak menghargai  undangan Gubernur, mereka lebih ingin menduduki  UNCEN. Sekali lagi, saya minta kalau mau pulang pulang ke kampung masing-masing jangan di Kota ini, kami tidak mau kota kami dibasahi dengan dara,” pungkasnya. [redaksi]