HYDROPLUS Open Papua 2026 Jadi Ajang Pencarian Bibit Pebulu Tangkis Muda Indonesia Timur

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Kejuaraan bulu tangkis HYDROPLUS Open Papua 2026 Multi Provinsi Wilayah Indonesia Timur resmi digelar di GOR Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, mulai 12 hingga 17 Oktober 2026.

Turnamen ini diikuti sebanyak 277 atlet kelompok usia dini sampai pemula dan menjadi salah satu upaya pembinaan sekaligus pencarian bibit pebulu tangkis potensial dari kawasan Indonesia Timur.

Kejuaraan yang dimotori Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) tersebut diharapkan mampu membuka peluang bagi atlet-atlet muda dari Papua Raya dan wilayah Indonesia Timur lainnya untuk menunjukkan kemampuan serta berkompetisi menuju jenjang nasional.

Humas PP PBSI, Yuni Kartika, mengatakan penyelenggaraan turnamen di wilayah Indonesia Timur sangat penting karena potensi atlet berbakat dapat muncul dari berbagai daerah, tidak hanya dari Pulau Jawa.

“Kejuaraan ini sangat baik diselenggarakan di wilayah timur. Kita tahu bibit-bibit berbakat bisa datang dari mana saja. Karena itu, kita ingin melihat potensi atlet muda dari daerah ini melalui kejuaraan kelompok usia,” ujar Yuni.

Menurutnya, kompetisi tersebut juga dapat mendorong klub-klub bulu tangkis di wilayah Indonesia Timur untuk semakin giat berlatih, meningkatkan kualitas pembinaan, serta mengukur kemampuan atlet melalui persaingan antarklub.

Yuni menilai, meskipun jumlah peserta belum sebanyak turnamen yang diselenggarakan di Pulau Jawa, partisipasi atlet dalam kejuaraan perdana ini sudah cukup baik.

Ia menjelaskan, kendala transportasi, jarak antardaerah yang berjauhan, serta biaya perjalanan menjadi tantangan tersendiri bagi atlet dari sejumlah provinsi untuk mengikuti pertandingan di Jayapura.

“Kita tetap mengapresiasi para pemain yang sudah hadir. Ini merupakan awal yang baik untuk membangun kompetisi dan pembinaan bulu tangkis di wilayah Indonesia Timur,” katanya.

Atlet Muda Butuh Proses Panjang Menuju Pelatnas

Sebagai mantan pemain bulu tangkis dunia, Yuni mengingatkan para atlet muda agar tidak mudah menyerah dan terus menjalani proses pembinaan dengan tekun.

Menurutnya, perjalanan seorang atlet untuk mencapai level nasional hingga masuk pemusatan latihan nasional (Pelatnas) membutuhkan waktu, kerja keras, dan konsistensi.

“Setiap pemain membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 tahun untuk bisa sampai ke Pelatnas. Karena itu, saya berharap mereka sabar, tekun, dan terus berlatih,” ungkapnya.

Ia juga mencontohkan keberadaan atlet asal Papua, seperti Chico Wardoyo dan Ester Wardoyo, sebagai bukti bahwa wilayah Indonesia Timur memiliki potensi melahirkan atlet berprestasi.

Yuni berpesan kepada seluruh peserta agar menjadikan kekalahan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti berjuang.

“Jangan menyerah. Kalah hari ini bukan berarti segalanya berakhir. Ini masih permulaan. Atlet harus mengetahui kekurangannya, memperbaikinya, dan lebih giat berlatih. Jangan pernah putus asa,” tegasnya.

Selain pembinaan atlet, Yuni juga menyoroti pentingnya dukungan sponsor bagi keberlangsungan klub-klub bulu tangkis di Indonesia Timur. Menurutnya, dukungan pendanaan menjadi salah satu kebutuhan penting agar klub dapat menjalankan program latihan dan pembinaan secara berkelanjutan.

Ia berharap semakin banyak pihak swasta dan sponsor yang terlibat dalam mendukung perkembangan bulu tangkis di kawasan tersebut.

PP PBSI Dorong Atlet Terdaftar di Sistem Informasi

Sementara itu, Ketua Panitia HYDROPLUS Open Papua 2026, M. Ishak, SE, mengatakan turnamen ini dimotori PP PBSI, sedangkan pelaksanaan di daerah ditangani oleh panitia setempat.

Ia menjelaskan, pendaftaran atlet dilakukan melalui sistem informasi PBSI. Karena itu, klub-klub di Papua Raya diharapkan lebih aktif mendaftarkan atletnya agar dapat mengikuti kompetisi resmi dan memperoleh poin peringkat nasional.

“Harapan kami, klub-klub yang ada di Papua Raya dapat mendaftarkan atletnya melalui sistem informasi PBSI. Dengan begitu, atlet bisa berkompetisi secara resmi dan mendapatkan poin nasional,” ujar Ishak.

Menurutnya, masih terdapat atlet yang berpotensi mengikuti kejuaraan, tetapi belum terdaftar dalam sistem tersebut. Kondisi ini menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi klub dan pengurus PBSI di daerah.

Ia juga mendorong PBSI tingkat provinsi serta kabupaten/kota agar lebih proaktif menyelenggarakan kejuaraan secara berkelanjutan sehingga atlet memiliki lebih banyak kesempatan bertanding dan mengumpulkan poin nasional.

Ishak berharap penyelenggaraan turnamen tingkat multi provinsi ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara pengurus PBSI, klub, dan pemangku kepentingan olahraga di Papua.

Target 400 Atlet, Sebanyak 277 Peserta Hadir

Sekretaris Panitia, Suko Wardani, mengatakan HYDROPLUS Open Papua 2026 merupakan penyelenggaraan perdana kejuaraan khusus wilayah Indonesia Timur yang melibatkan atlet kelompok usia 12 hingga 17 tahun.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program PP PBSI yang diarahkan untuk menghadirkan agenda kompetisi bagi kawasan Indonesia Timur sekaligus menemukan bibit-bibit atlet potensial.

“Tujuannya untuk meningkatkan prestasi anak-anak kita, khususnya di Indonesia Timur, sekaligus mencari bibit atlet yang bisa dikembangkan ke tingkat nasional,” kata Suko.

Ia menjelaskan, panitia sebelumnya menargetkan sekitar 400 atlet dapat berpartisipasi dalam turnamen tersebut. Namun, hingga pelaksanaan kejuaraan, jumlah peserta yang hadir tercatat sebanyak 277 atlet.

Sejumlah atlet dari provinsi di luar Papua Raya belum dapat berpartisipasi. Panitia menduga biaya transportasi dan pembiayaan keberangkatan yang ditanggung masing-masing peserta menjadi salah satu kendala.

Suko menambahkan, kehadiran perwakilan PP PBSI dalam kejuaraan ini diharapkan dapat membantu memantau kemampuan dan potensi para atlet muda. Penilaian tidak semata-mata didasarkan pada hasil akhir pertandingan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pengamatan terhadap potensi atlet untuk pembinaan selanjutnya.

Ia berharap turnamen tersebut mampu menjadi pintu masuk bagi atlet-atlet muda Indonesia Timur untuk mendapatkan kesempatan lebih luas dalam pembinaan bulu tangkis nasional.

Dengan berlangsungnya HYDROPLUS Open Papua 2026 hingga 17 Oktober mendatang, kejuaraan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga menjadi langkah awal dalam memperkuat ekosistem bulu tangkis di Papua dan kawasan Indonesia Timur secara berkelanjutan.[redaksi]