IPM Papua 2019 Tumbuh 1,30 Persen, Pertumbuhan Tertinggi di Kabupaten Nduga

0
225
Eko Mardiana,SE, Kepala Bidang Nerwilis BPS Papua saat merilis berita resmi statistik di kantornya, Senin (02/02/20)

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Bada Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua Tahun 2019 mengalami pertumbuhan 1,30 persen, yaitu mencapai poin 60,84.

“Pada tahun 2019, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua mencapai 60,84. Angka ini meningkat sebesar 0,78 poin atau tumbuh 1,30 persen dibandingkan tahun 2018,” ungkap Eko Mardiana,SE, Kepala Bidang Nerwilis BPS Papua saat merilis berita resmi statistik di kantornya, Senin (02/02/20).

Hal itu, dengan indicator yang dapat dilihat dari angka harapan hidup bayi yang lahir tahun 2019, yang tercata hingga 65,65 tahun, atau lebih lama 0,29 tahun dibandingkan tahun 2018.

Selain itu, harapan dapat menikmati pendidikan anak-anak yang berusia 7 tahun tercatat selama 11,05 tahun, lebih lama 0,22 tahun dibandingkan dengan tahun 2018.

Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 6,65 tahun, lebih lama 0,13 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2019, dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di Papua, rata-rata pengeluaran per kapita adalah sebesar 7.336 juta rupiah per tahun, meningkat 177 ribu rupiah dibandingkan tahun sebelumnya.

Bila dilihat per kabupaten, IPM tertinggi dicapai oleh Kota Jayapura dengan IPM 80,16, disusul Kabupaten Mimika dengan IPM 74,13 dan Kabupaten Biak Numfor dengan IPM 72,57.

Namun bila dilihat pertumbuhannya, Kabupaten Nduga yang memiliki IPM terendah di Tahun 2019, yaitu 30,75, bila dibandingkan dengan IPM Tahun 2018 tercatat mengalami pertumbuhan paling tinggi, yaitu 4,52 persen.

Sedangkan daerah yang pertumbuhannya terendah adalah Kabupaten Sarmi yang memiliki IPM 63,45, yang hanya tumbuh 0,71 persen dibandingkan IPM tahun 2018.

Mengenai situasi di Kabupaten Nduga yang tumbuh tinggi di Tahun 2019, sementara di Tahun 2019 lalu kabupaten tersebut terkesan kurang kondusif dari sisi keamanan, Eko Mardiana menjelaskan bahwa [yat]