Layar Tumbuh Papua Sentuh Hati Warga Kampung Sereh Lewat Film dan Seni

SENTANI, PapuaSatu.com – Suasana Dusun Sagu Ebha Hekhe, Kampung Sereh – Sentani, pada Sabtu malam (27/7/2025), berubah menjadi ruang refleksi penuh makna ketika ratusan warga berkumpul dalam kegiatan Movie Day Layar Tumbuh Papua. Program ini merupakan bagian dari Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) 2025 yang digagas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.

Melalui kolaborasi film, seni pertunjukan, musik rakyat, dan diskusi publik, Layar Tumbuh Papua hadir sebagai medium pembelajaran antikorupsi yang menyentuh dan membumi. Salah satu film pendek yang paling membekas malam itu adalah Jual Babi, karya Natias Mirin dan diproduseri oleh Theo Rumansara.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini menggambarkan perjuangan seorang anak Papua yang menjual babi peliharaan—simbol harga diri dan kekayaan keluargademi melanjutkan kuliah. Cerita yang kuat ini mengundang diskusi hangat dari para peserta menjelang sesi talkshow.

Kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni budaya yang menyentuh hati. Tari “Noken” yang dibawakan oleh empat penari muda perempuan berhasil menggambarkan filosofi noken sebagai lambang kehidupan, kasih sayang, dan tanggung jawab perempuan Papua terhadap masa depan komunitasnya.

Tak hanya itu, Sanggar Seni Robonghollo turut memeriahkan panggung dengan folksong berbahasa daerah yang membangkitkan semangat kolektif dan nilai-nilai luhur seperti kejujuran serta kerja keras.

Tawa dan renungan hadir bersamaan ketika Ombhu dari Stand Up Indo Jayapura membawakan materi komedi yang cerdas, membahas praktik koruptif dalam kehidupan sehari-hari dengan gaya santai namun tajam. Generasi muda pun turut bersuara lewat battle rap bertema sembilan nilai antikorupsi: jujur, mandiri, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan kerja keras.

Dalam sesi talkshow publik, hadir tiga narasumber inspiratif:

  • Master James J. Sahilatua, Penyuluh Anti Korupsi Papua
  • Muhamad Ilham M. Murda, Ketua Indonesia Art Movement dan finalis ACFFEST 2024
  • Jimy Ondikleuw, Ketua Sanggar Seni Robonghollo

Jimy menekankan pentingnya pendidikan karakter melalui seni. “Kami di sanggar selalu tanamkan bahwa menari bukan soal gerakan, tapi karakter. Kalau anak-anak disiplin dan jujur dalam berkesenian, mereka akan membawa itu dalam hidup,” ujarnya.

Sementara itu, Muhamad Ilham menilai ruang seperti ini adalah jembatan edukasi yang relevan. “Film dan seni adalah bahasa yang bisa menyampaikan pesan besar dengan cara yang menyentuh dan membumi,” katanya.

Master James menutup diskusi dengan pesan kuat: “Kalau kesalahan dianggap biasa karena dibiasakan, itu bahaya. Kita perlu membangun kesadaran sejak dini lewat pendekatan seperti ini.”

Acara dipandu oleh Orideck Kori yang sukses menjaga keseimbangan antara edukasi dan hiburan dengan gaya hangat dan komunikatif. Malam itu, di tengah kampung yang damai, gerakan antikorupsi digaungkan bukan dengan kata-kata keras, tetapi lewat budaya dan kebersamaan yang menyentuh hati.

Meski layar tancap telah dilipat dan lampu dipadamkan, nilai-nilai yang ditanamkan tetap menyala di benak setiap yang hadir. Layar Tumbuh Papua di Kampung Sereh membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang sederhana yang sarat makna. [miki]