
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Sejarah bangsa Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri di garis depan. Ada pula sosok-sosok yang bekerja dalam senyap, namun menentukan arah keselamatan negara. Salah satunya adalah Raden Mas Muhammad Oemar Gatab, tokoh yang dikenang sebagai Bapak Intelijen Kepolisian Indonesia.
Nama Oemar Gatab kerap muncul dalam diskursus sejarah intelijen nasional. Sebagian arsip bahkan pernah menudingnya sebagai kaki tangan Belanda. Namun sejarah tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Oemar Gatab adalah polisi sejati yang mengabdi kepada negara dan masyarakat, melintasi masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga era Revolusi Kemerdekaan.
Dalam situasi apa pun, polisi tetap menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Saat Jepang masuk ke Indonesia, para polisi yang sebelumnya bertugas di bawah pemerintahan Hindia Belanda tetap menjalankan fungsinya. Demikian pula ketika wilayah Republik kembali diduduki Belanda, polisi Republik tetap berdiri menjaga ketertiban.
Satu sumpah, satu pengabdian: menjaga keamanan rakyat, siapa pun penguasa yang sedang berkuasa.
Ditempa Zaman, Ditempatkan di Garis Strategis
Oemar Gatab merupakan bagian dari generasi polisi intelijen yang ditempa oleh situasi paling sulit. Berpengalaman sejak masa pendudukan Jepang, ia berpangkat Inspektur dan bertugas di wilayah Banyumas. Keteguhan sikap serta kemampuannya membaca dinamika sosial-politik membuatnya dipercaya memegang peran strategis.
Pada 1948, ia menjabat Kepala Bagian Pengawasan Aliran Masyarakat (PAM) yang berkedudukan di Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu. PAM dibentuk untuk menggantikan Polisi Bagian Politik (PBP), dengan tugas mengawasi aliran-aliran yang berpotensi mengganggu stabilitas negara serta membangun kemitraan dengan masyarakat.
Indonesia secara tegas menolak konsep Polisi Politik ala kolonial seperti Politieke Inlichtingen Dienst (PID). PAM hadir bukan untuk menekan, melainkan mencegah konflik dan menjaga keutuhan bangsa yang baru merdeka.
Beberapa bulan sebelum meletusnya Peristiwa Madiun 1948, Oemar Gatab telah mencium adanya ketegangan serius antara kelompok sayap kiri dan sayap kanan. Ia menyampaikan kekhawatiran itu kepada pemerintah sebagai bentuk kewaspadaan dan tanggung jawab moral seorang intelijen.
Selain itu, PAM juga berperan dalam penanggulangan berbagai gerakan separatis, termasuk gerakan APRA pimpinan Westerling. Semua dilakukan demi satu tujuan: menjaga persatuan Indonesia.
Dari PAM hingga Intelkam Polri
Pada 13 Maret 1951, PAM bertransformasi menjadi Dinas Pengawasan Keselamatan Negara (DPKN) berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah. Oemar Gatab kembali dipercaya memimpin lembaga tersebut.
DPKN terus memantau dinamika politik dan keamanan nasional sepanjang era 1950-an. Dalam buku Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, penulis Ken Conboy mencatat Oemar Gatab sebagai anggota penting Badan Koordinasi Intelijen (BKI) yang dibentuk pada 5 Desember 1958, mewakili unsur Kepolisian.
Seiring waktu, DPKN mengalami berbagai perubahan nama dan struktur: dari Korps Polisi Security (KPS), Korps Intelijen, Direktorat Intelijen dan Security, hingga Direktorat Intelijen dan Keamanan saat Polri tergabung dalam ABRI.
Pada 2002, ketika BAKIN bertransformasi menjadi BIN, Direktorat Intelijen dan Keamanan Polri berubah menjadi Badan Intelijen dan Keamanan Polri (Baintelkam)—yang kini dikenal luas sebagai Intelkam.
Sisi Humanis di Balik Ketegasan Intelijen
Di balik peran strategisnya, Oemar Gatab menyimpan kisah humanis yang penuh kehangatan. Suatu ketika, ia ditugaskan mencari pematung untuk membuat patung Gajah Mada di depan Markas Besar Kepolisian.
Karena tidak ada satu pun foto asli Gajah Mada, Oemar Gatab diam-diam meminjam foto Muhammad Jasin, Komandan Brigade Mobil saat itu. Foto tersebut diserahkan kepada pematung. Hasilnya, patung Gajah Mada yang diresmikan pada 1 Juli 1959 itu memiliki wajah yang sangat mirip Muhammad Jasin.
Usai peresmian, Oemar Gatab dengan rendah hati meminta maaf kepada Jasin dan memohon agar kisah itu dirahasiakan.
Warisan untuk Bangsa
Oemar Gatab pensiun dengan pangkat terakhir Inspektur Jenderal Polisi. Ia menghabiskan masa tuanya di kawasan Menteng, Jakarta. Di sanalah putra tunggalnya, Indrodjojo Kusumonegoro—yang kelak dikenal sebagai Indro Warkop—tumbuh dan berkembang.
Dalam sebuah wawancara yang dimuat di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, Indro mengatakan:
“Bapak gua pendiri intel di Indonesia, Dinas Pengawasan Keselamatan Negara yang akhirnya dipegang Angkatan Darat jadi BIN.”
Oemar Gatab lahir pada 8 Juni 1912, wafat pada 20 Maret 1968, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Tanggal 2 Januari 1946, saat operasi intelijen pengawalan pemindahan Presiden dan Wakil Presiden dari Jakarta ke Yogyakarta dilakukan, dikenang sebagai Hari Intelijen.
Warisan pemikiran, keteladanan, dan strategi Oemar Gatab terus hidup—menjadi fondasi bagi sistem intelijen Indonesia hingga hari ini. [Redaksi]










