Pemerintah Harus Perbaiki Sistim Pelayanan Kesehatan Bagi Odha

0
138
Caption : Suasana Pelatihan ke dua Media&CSO terhadap Pemberitaan Media yang Positif bagi ODHA di hotel Aston Jayapura, Selasa (16/07/2019).
Caption : Suasana Pelatihan ke dua Media&CSO terhadap Pemberitaan Media yang Positif bagi ODHA di hotel Aston Jayapura, Selasa (16/07/2019).

JAYAPURA, PapuaSatu.com –  Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua umat manusia tanpa membedakan status sosialnya.

Jika seseorang sakit, dia tidak akan mampu melaksanakan berbagai tugas dan kewajibannya. Hal tersebut akan berdampak bagi kelangsungan hidupnya dan keluarganya, apalagi selalu mendapatkan stigma dan berbagai macam lainnya.

Orang Dengan HIV-Aids (Odha) salah satu penyakit yang ingin mendapatkan pelayanan secara maksimal, meski memiliki keterbatasan ekonomi. Namun kadang ketidakpuasan pelayanan yang diberikan membuat Odha malas kembali, sementara penyakit terus bekerja dalam tubuh Odha itu sendiri.

Keluhan itu disampaikan Pendamping Odha dari LSM Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat (YPKM) Provinsi Papua, Joice.

“Harusnya Odha diberlakukan secara khusus dan Odha harus butuh kenyamanan dalam pelayanan. Nah, sekarang untuk kontrol kesehatan saja terlalu berbelit-belit dan birokrasinya terlalu panjang memakan waktu 5-6 hari,”  tutur Joice pada pelatihan Media&CSO, Selasa (16/07/2019).

Proses yang dihadapi oleh Odha cukup banyak dan tak jarang membuat Odha jenuh sehingga menimbulkan rasa malas untuk kontrol dan mengambil ARV.

“Prosesnya cukup banyak, padahal Odha ingin mendapatkan kesehatan yang layak seperi masyarakat pada umumnya. Tapi ini tidak terjadi, sehingga Odha malas kembali,” katanya.

Anehnya lagi, tutur Joice, Odha datang ke rumah sakit atau puskesmas untuk kontrol. Namun sampai di lokasi isi data lalu mereka diarahkan pulang, kumpulkan dahak, lalu disuruh balik keesokan harinya.

“Besok pada saat odha datang membawa dahak, odha akan disuruh balik lagi keesokan harinya entah untuk rontgen atau CD4. Ini kan sesuatu yang aneh dalam memberikan pelayanan kepada Odha,” tutur Joice.

Bukan hanya dari segi pelayanan, jumlah penampungan Odha juga kurang memadai. “Kasihan kalau Odha datang dari jauh seperti Demta, Senggi, Ormo, lalu mau ditampung dimana? Karena di Walihole tidak cukup, kamarnya tidak banyak,”ucap dia.

Ia berharap Pemerintah untuk memberikan sitim pelayanannya dan juga kepada lembaga pemerintah lainnya seperti KPA diharapkan dapat memfasilitasi agar teman-teman Odha diberikan pelayanan yang maksimal.

Keluhan ini juga disampaikan Gerrard Raja selaku Community Support dari Indonesia AIDS Coalition (IAC) Papua juga merasakan hal serupa.

Gerrard menceriterikan, bulan lalu ia membawa seorang Odha dengan kondisi lemas, kakinya sudah tidak kuat lagi untuk berdiri dan berjalan, namun tidak mendapatkan pelayanan medis karena tidak ada ruangan.

“Kondisi tersebut terpaksa kami harus membawa kembali Odha ke rumah untuk diinfus di rumah. Untungnya ada teman kami yang bisa infus dan tolong infus odha yang kami dampingi,” akunya.

Gerrard berharap stakholder maupun pemerintah agar dapat memperbaiki sistem pelayanan kesehatan yang dinilai tidak maksimal terutama terhadap Odha. [ayu]