Pemerintah Kabupaten Jayapura Beri Apresiasi Pada Program Penguatan Literasi Baca Tulis Kelas Awal

110
Asisten III Setda Kabupaten Jayapura, John W. Tegay mewakili Pj. Bupati Jayapura bersama pimpinan Unicef dan Yayasan YNS dan pejabat yang hadir saat membuka Pertemuan Tim Pengaran Pendidikan dan Penutupan Program Penguatan Literasi Baca Tulis Kelas Awal Tahun 2020-2022 di Hotel Horex Sentani, Rabu (22/2/23)
Asisten III Setda Kabupaten Jayapura, John W. Tegay mewakili Pj. Bupati Jayapura bersama pimpinan Unicef dan Yayasan YNS dan pejabat yang hadir saat membuka Pertemuan Tim Pengaran Pendidikan dan Penutupan Program Penguatan Literasi Baca Tulis Kelas Awal Tahun 2020-2022 di Hotel Horex Sentani, Rabu (22/2/23)

SENTANI, PapuaSatu.com – Pemerintah Kabupaten Jayapura menyatakan apresiasinya atas pelaksanaan Program Penguatan Literasi Baca Tulis Kelas Awal oleh Unicef melalui Yayasan Nusantara Sejati (YNS) di Kabupaten Jayapura periode 2020-2022 yang cukup berhasil.

Yang mana, Program Literasi Kelas Awal sendiri yang telah dilaksanakan di Kabupaten Jayapura oleh Unicef melalui mitranya Yayasan Nusantara Sejati sejak tahun 2016 dengan mengambil 20 sekolah percontohan.

Dan melihat keberhasilan program tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura mereplikasi sekolah intervensi menjadi 273-an sekolah (meningkat 84 persen).

Yang mana melalui sekolah intervensi, suasana kelas dan cara mengajar guru menjadi lebih nyaman dan jauh lebih menyenangkan bagi siswa.

“Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak Unicef melalui Yayasan Nusantara Sejati ini yang sudah tig tahun bergiat memberukan pendampingan, mendorong program literasi baca tulis kelas awal ini di sekolah-sekolah,” ungkap Asisten III Setda Kabupaten Jayapura, John W. Tegay mewakili Pj. Bupati Jayapura saat membuka Pertemuan Tim Pengaran Pendidikan dan Penutupan Program Penguatan Literasi Baca Tulis Kelas Awal Tahun 2020-2022 di Hotel Horex Sentani, Rabu (22/2/23).

John Tegay juga berharap agar melalui pertemuan tersebut dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pemerintah dan seluruh praktisi pendidikan di Kabupaten Jayapura untuk terus  lebih giat melaksanakan program tersebut dengan replikasi-replikasi yang bisa dilakukan penyesuaian di lapangan sesuai dengan perubahan yang terjadi.

Sementara itu, Kepala Kantor Cabang YNS, Eva Hutauruk, replikasi program sekolah intervensi tersebut masih terfokus di Kabupaten Jayapura.

Kepala Kantor Cabang YNS, Eva Hutauruk
Kepala Kantor Cabang YNS, Eva Hutauruk

“Lokus kita Kabupaten Jayapura, dari 20 sekolah pada 2016, sekarang menjadi 50-an sekolah,” ungkapnya.

Dari 50 sekolah tersebut, 36 sekolah diantaranya dibiayai oleh badan di PBB, Unicef dan selebihnya dibiayai menggunakan APBD Kabupaten Jayapura melalui Dinas Pendidikan.

“Dan juga ada sekolah yang mandiri melakukan mereplikasi,” ungkapnya saat ditemui wartawan di Hotel Horex Sentani.

Dikatakan, saat ini sedang dalam proses untuk replikasi program sekolah intervensi tersebut di sejumlah kabupaten lain, yaitu di Kabupaten Sarmi, Fakfak, Mamberamo Tengah dan Kabupaten Mamberamo Raya.

Dipaparkan, bahwa program tersebut berawal dari kondisi masih banyaknya lulusan sekolah dasar yang tidak bisa membaca dan menulis. Dan kalaupun bisa membaca, siswa bersangkutan tidak dapat memahami apa yang dibacanya.

Melalui program tersebut, yayasan yang dipimpinnya melalui fasilitator melakukan pendampingan kepada guru dan kepala sekolah dalam menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan.

Fasilitator yang telah terlatih mendampingi guru untuk menyiapkan perencanaan dalam mengajar atau diistilahkan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada RPP dari pusat yang berlaku nasional.

Fasilitator bersama guru juga melakukan evaluasi setelah mengajar menggunakan Instrumen Kinerja Guru (IKG)

Selain itu, fasilitator juga mengajak Kepala Sekolah untuk melakukan supervisi untuk meihat bagaimana guru mengajar di kelas.

“Supervisi itu kan biasanya enam bulan sekali, nah kita dorong sesering mungkin, kalau bisa sebulan sekali,” ujarnya.

Kita juga menggarahkan peran serta masyarakat kampung untuk mengawasi kehadiran guru. Ada kegiatan belajar mengajar enggak di sekolah.

Dan dalam hal punishmen (hukuman) kepada siswa juga menjadi perhatian, yakni diarahakan untuk meniadakan hukuman fisik, melainkan bila pelanggarannya berupa terlambat datang, maka jam pelajarannya ditambah setelah jam pulang sekolah.

Juga disediakan buku-buku yang ramah anak di kelas, ada sudut baca, revitalisasi perpustakaan.[yat]