Polda Papua Bantah Adanya Kekerasan dan Intimidasi Terhadap Tersangka Kasus Kerusuhan di Jayapura

0
222

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Kepolisian daerah papua membantah keras adanya dugaan kekerasan dan intimidasi yang dilakukan Penyidik Reskrim terhadap tersangka kasus kerusuhan di Jayapura, tahun 2019 lalu.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Drs. Ahmad Musthofa Kamal, SH menegaskan, pemeriksaan terhadap para tersangka sudah dilakukan sesuai dengan SOP (Standar Operasional Posedur) dan dalam pemeriksaan penyidik mengedepankan HAM dan Hukum Acara.

Saat para tersangka diperiksa didampingi oleh PH (Penasehat Hukum). Sedangkan PH yang beracara sekarang bukanlah PH yang mendampingi para tersangka pada saat pemeriksaan.

Kamal menegaskan bahwa sebelum melakukan pemeriksaan penyidik juga telah menerima laporan dari masyarakat yang dirugikan serta anggota Polri yang mengetahui kejadian tersebut dan penyidik melakukan pengecekan di TKP.

“Tidak benar benar ada perintah pimpinan Polda Papua agar penyidik menetapkan tersangka dalam 1×24 jam, karena sesuai aturan hukum bilamana dalam waktu 1×24 jam tidak cukup bukti atau tidak memenuhi unsur Pidana sebagaimana yang disangkakan maka para tersangka segera dipulangkan/dibebaskan,” tegas Kabid Humas, di Mapolda Papua, Jum’at (17/01/2020).

Penegasan Kabid Humas ini terkait adanya pernyataan tim Advokat yang mengatakan bahwa kliennya/atau para terdakwa saat dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka pasca kerusuhan di Jayapura pada bulan Agustus lalu mendapatkan kekerasan serta intimidasi.

“Pernyataan tim Advokat tersebut dikeluarkan setelah para terdakwa saat memberikan keterangan di persidangan mengatakan bahwa penyidik melakukan tindakan kekerasan serta intimidasi oleh penyidik,” tukasnya.

Kamal menjelaskan, beberapa waktu lalu yaitu pada hari Senin tanggal 6 Januari 2020 ada sembilan penyidik dari Dit Reskrimum Polda Papua telah memberikan keterangan sebagai Saksi Verbalisan di Pengadilan Negeri (PN) Jayapura.

“Pemanggilan para penyidik oleh Majelis Hakim setelah para Terdakwa dalam sejumlah perkara kerusuhan demontrasi menolak rasisme terhadap Orang Asli Papua (OAP) mencabut keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang pernah dibuatkan oleh penyidik, karena merasa mendapatkan tindakan kekerasan dan intimidasi,” pungkasnya. [loy]