Rasa Haru Warnai Penyerahan Bantuan IKT Papua ke Pengungsi di Wamena

0
312
Caption: Suasana penyerahan Bama dari IKT Papua ke Pengungsi di Tongkonan Wamena. Foto : daud Sony/PapuaSatu.com
Caption: Suasana penyerahan Bama dari IKT Papua ke Pengungsi di Tongkonan Wamena. Foto : daud Sony/PapuaSatu.com

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Rasa haru,sedih dan prihatin. Itulah suasana yang mewarnai pertemuan rombongan Pengurus IKT Papua denganratusan warga pengungsi  yang ada di Gedung Tongkonan Wamena, Selasa (15/10/2019).

Kedatangan rombongan pengurus IKT yang dipimpin Ketua Dewan Pembina IKT Papua Prof. Yohanis Rante,  M.Si ini, selain mengantarkan 4 Ton bantuan bahan makanan (Bama) juga tatap muka warga Toraja yang masih mengungsi di gedung Tongkonan Wamena. Bama yang diangkut pesawat Hercules langsung diantar ke Tongkonan, untuk diserahkan kepada warga. Selain Bama, juga ada bantuan tunai Rp 50 juta untuk operasional pengurus.

Sejumlah keluhan disampaikan warga pengungsi. Salah satunya seperti yang diungkapkan Titus Ampangallo, soal kekuatiran tentang kebutuhan hidup mereka sehari-hari yang bertahan di Wamena, pasalnya saat ini warga tidak bisa mencari nafkah karena masalah keamanan. “Jadi tolong perhatikan kami yang masih bertahan tinggal di Wamena,”pintahnya.

Ada juga yang meminta agar anak-anak mereka yang sekolah/kuliah di Jayapura agar diperhatikan kebutuhan hidupnya, karena sejak kerusuhan sampai saat orang tua tidak bekerja untuk mendapatkan uang.

Sementara itu Ketua Dewan Pembina IKT Papua, Prof. Yohanis Rante, M.Si mengatakan, peristiwa Wamena adalah kerusuhan massal, dimana orang Toraja bagian dari korban.

Untuk itu, jangan menanam kebencian dan permusuhan dengan penduduk setempat, karena kita juga bagian dari mereka, sudah hidup berbaur bertahun-tahun dengan mereka. Meski demikian tetaplah berhati-hati dan selalu waspada. Bahkan yang terpenting berserah diri kepada Tuhan.

Seorang Tokoh Toraja yang telah lama berkarya di Papua, DR. Tangke Rombe, mengatakan, turut berimpati dan merasakan penderitaan saudara-saudara baik  yang mengungsi ke Jayapura maupun di Wamena. Dasar keprihatinan itulah mendorongnya datang ke Jayapura dan Wamena.

“ Saya ikut merasakan penderitaan saudara-saudara, tapi jangan ada dendam, percayakan semua kepada Tuhan, hidup kita ada di tangan Tuhan,”katanya.

Ia juga berharap tetaplah di Wamena, bahkan yang sudah telanjur ke kampung utamanya yang laki-laki agar bisa kembali ke Wamena, jangan sampai kita kehilangan hak-hak kita seperti harta dan pekerjaan yang kita sudah digeluti bertahun-tahun. “Karena kami dengar nantinya akan ada ganti kerugian dari pemerintah,”katanya.

Sebelum menuju Tongkonan di wamena, rombongan yang dijemput Ketua IKT Se-Pegunungan Tengah, Yohanis Tuku, ST sempat melihat dari dekat beberapa titik lokasi yang habis dibakar massa, termasuk kantor Bupati Jayawijaya, yang menjadi sasaran anarkisme massa.

Pantuan media ini, di halaman kantor bupati tampak sejumlah bangkai kendaraan baik roda dua, maupun roda empat masih berserakan, dibiarkan begitu saja.

Demikian pemukiman penduduk yang dibakar rata-rata masih dibiarkan berserakan. Yang terlihat hanya puing-puing sisa kebakaran. Para pemilik belum ada yang berani melakukan kegiatan pembangunan kembali.

Hasil pantauan sepanjang jalur  yang kami lewati jalan Ahmad Yani, terlihst aktivitas warga mulai ramai. Untuk daerah-daerah pinggiran Kota Wamena, belum nampak banyak aktifitas warga.

Sementara ketua IKT Sep Pengunungan Tengah, Yahanis Tuku, ST mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan dari Pengurus IKT Papua. Ia berjanji akan membagi secara merata bantuan tersebut untuk kebutuhan warga IKT yang ada di Wamena. [sony]