Rencana Keterlibatan TNI/Polri Dalam Program Sub Pin Polio Menuai Pro-Kontra

0
140
Eligius Agapa, SH, MPH (Kiri), Jeremias Tapyor, SKM (Tengah), Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Rudolf A. Rodja (kanan)
Eligius Agapa, SH, MPH (Kiri), Jeremias Tapyor, SKM (Tengah), Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Rudolf A. Rodja (kanan)

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Recana keterlibatan TNI-Polri dalam program Sub Pin Polio bagi masyarakat di Papua menuai pro-kontra.

Pasalnya, sebagian masyarakat tidak menginginkan TNI-Polri terlibat dalam program Sub Pin Polio bagi masyarakat, karena pandangan buruk masyarakat TNI-Polri masih sangat kental, apalagi dengan pembagian Pin Polio menimbulkan suatu pemikiran bahwa meneteskan sub pin polio bisa memusnahkan masyarakat itu sendiri.

Namun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus berupaya meningkatkan penyebaran imunisasi di Indonesia. Khususnya di wilayah Provinsi Papua Barat dan Papua karena Kemnekes melihat polio menjadi persoalan di Papua Barat dan Papua, sehingga dalam mensukseskan program tersebut melibatkan TNI-Polri.

Kabid P2P Kabupaten Dogiyai, Eligius Agapa, SH, MPH mengatakan keterlibatan TNI/Polri boleh-boleh saja, akan tetapi pandangan buruk atau stigma tentang TNI/Polri masih sangat kental di daerah pegunungan terutama di Kabupaten Dogiyai sendiri.

“Sebelumnya memang kami mau libatkan, tapi di masyarakat bila TNI/Polri terlibat langsung untuk meneteskan sub pin polio akan menimbulkan presepsi lain di masyarakat,” katanya, Kamis (18/7/2019).

Menurutnya, lebih baik keterlibatan TNI/Polri cukup sampai dibatas pendampingan saja. “Kalau dampingi, silahkan boleh saja, kami setuju. Tapi kalau meneteskan, lebih baik jangan TNI/Polri karena menimbulkan suatu pemikiran yakni dengan meneteskan sub pin polio itu bisa memusnahkan kami,” ucapnya.

Namun berbanding terbalik dengan Serkretaris Rangkap Plt Kadis Kabupateng Pegunungan Bintang, Jeremias Tapyor, SKM menyebutkan bahwa di Kabupaten Pegunungan Bintang sangat mendukung keterlibatan TNI/Polri dalam sub pin polio ini.

“Selama ini aman-aman saja, tanggapannya positif. Berbeda dengan didaerah pegunungan lain, kami di Pegunungan Bintang sangat terbuka terhadap TNI/Polri karena beberapa kali kami dibantu dalam hal-hal sosial dengan TNI/Polri,” ungkapnya.

Terlebih lagi ia berharap dengan keterlibatan TNI/Polri dalam sub pin polio ini bisa mendapat bantuan seperti helikopter TNI untuk mendistribusikan sub pin polio didaerah-daerah yang sulit ditempuh dengan pesawat atau perjalanan darat.

“Harapan kami, kami bisa dapat bantuam berupa heli yang saat ini kami susah dapatkan untuk mendistribusikan sub pin polio. Karena letak geografis begitu sulit ditempuh, kalau kami jalan kaki, bisa jadi vaksin telah mati dijalan,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Rudolf A. Rodja mengungkapkan setelah pertemuannya dengan Kemenkes RI dan Pangdam, Kemenkes RI meminta keterlibatan TNI/Polri dalam melaksanakan sub pin polio. “Kami diajak terlibat dalam vaksinasi tersebut karena kami di Papua harus antisipasi dari wabah polio,” tuturnya.

Dirinya membantah bila TNI/Polri pun harus terlibat dalam hal menetaskan sub pin polio kepada masyarakat tersebut.

“Yang mau meneteskan harus ada keahlian, bukan sembarangan. Kalau pun ada dokter dari TNI/Polri kenapa tidak? Itukan tenaga kesehatan, jangan dilihat TNI/Polri tapi lihat dulu kompeten atau tidak,” tukasnya. [ayu]