Sempat di Damaikan, Warga Antar Distrik di Jayawijaya Kembali Terjadi

0
560
Caption : Terlihat salah satu anggota kepolisian bersama masyarakat saat mengamankan pertikaian antara warga yang terjadi pada bulan Agustus 2020 lalu. Insert : Surat pernyataan perdamaian yang ditandatangani bersama oleh kedua kubu yang bertika, namun kembali berlanjut
Caption : Terlihat salah satu anggota kepolisian bersama masyarakat saat mengamankan pertikaian antara warga yang terjadi pada bulan Agustus 2020 lalu. Insert : Surat pernyataan perdamaian yang ditandatangani bersama oleh kedua kubu yang bertika, namun kembali berlanjut

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Perang suku antar distrik Pelebaga dan Hubikosi yang pernah diamankan pihak kepolisian pada bulan 9 Agustus 2020 lalu itu kembali berlanjut. Peristiwa tersebut mengakibatkan luka-luka antar dua kubu.

Perang suku tersebut sempat dinyatakan damai diatas meterai setelah kedua belah pihak diamankan aparat kepolisian pada bulan Agustus lalu, Namun pertikaian kembali muncul karena dendam atas tidak terima pembayaran masalah korban dari kedua distrik bertikai.

Anggota DPRD Jayawijaya, Luki Wuka, S.Pi,M.Si meminta kepada aparat kepolisian untuk segera turun mengatasi kasus perang suku di Wamena yang kini semakin meluas hingga banyak mengalami korban luka-luka dan pembakaran rumah warga dari kedua pihak. “Saya tidak mau warga saya di kedua belah kubu mengalami korban. Saya minta polisi segera atasi,” ujarnya.

Menurut Luki, permasalahan ini awalnya sudah dan sudah membuat pernyataan sikap diatas meterai namun kembali terjadi. “Saya curiga ada provokator-provokator dibalik kasus tersebut,” katanya.

Untuk itu, Ia meminta kepada kepolisian untuk menyelidiki siapa dibalik provokator ini. “Kami minta pelaku-pelaku provokator itu segera diproses sesuai hukum yang berlaku di Indonesia,” harap Luki Wuka kepada PapuaSatu.com via selulernya, Jumat (11/09/2020).

Peristiwa yang terjadi di Jayawijaya, Luki Wuka berharap kepada seluruh mahasiswa atau pelajar yang ada di Kota Studi, baik Kota Jayapura maupun di luar Papua untuk tidak mudah terprovokasi.

“Masalah perang suku yang ada di Wamena cukup disana saja, tidak boleh dibawa-bawa ke kota studi di Jayapura, kota Jayapura. Ini kan tempat studi bagi pemuda yang asal dari masing-masing kabupaten di Papua sehingga saya harapnya tidak terprovokasi dengan isu-isu perang suku yang sedang berlangsung di Jayawijaya,” harapnya.

“Kalau ade-ade melakukan gerakan-gerakan tambahan di Jayapura maka akan lebih parah resikonya, terutama masa depan pendidikan ade-ade,” ungkap Luki seraya meminta kepada para mahasiswa dan para pelakajar di Kota studi untuk tetap tenang.

Ketua Fraksi Partai Perindo DPRD Jayawijaya ini juga juga mengimbau agar masing-masing ketua komunitas dari Jayawijaya di Jayapura menyampaikan kepada masing-masing anggotanya mengingatkan kembali pada kesepakatan bersama terkait menanggapi sikap isu-isu konflik di Wamena.

Sementara itu, Ketua Ikatan Osinak yang merupakan orgnisasi pemuda dari distrik Hubikosi, Dermanus Meaga menegaskan kami yang di Jayapura tetap mempertahankan nilai-nilai persaudaraan dan persatuan yang sudah dibangun sejak lama.

“Jadi masing-masing ketua komunitas mahasiswa, pemuda, dan pelajar dari wamena yang di Jayapura sudah bersepakat untuk tidak terlibat dalam kasus yang sedang terjadi di kampung. Kami tetap fokus ke pendidikan yang merupakan tujuan utama kami datang ke kota studi Jayapura,” tegas Dermanus. [miki/loy]