Solusi Krisis Ketahanan Pangan Yang Mengancam Dunia Ada Di Tangan Masyarakat Adat

37
Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi Bersama Ketua Umum Panitia KMAN VI, Mathius Awoitauw,SE,M.Si saat membuka KMAN VI dengan meniup alat music tradisional, Senin (24/10/22)
Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi Bersama Ketua Umum Panitia KMAN VI, Mathius Awoitauw,SE,M.Si saat membuka KMAN VI dengan meniup alat music tradisional, Senin (24/10/22)

SENTANI, PapuaSatu.com – Mengawali pidatonya, Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi  memberi semangat seraya membacakan yel yel sebagai pembakar semangat peserta yang hadir, dimulai peserta lokal, Nasional hingga luar negeri.

“Mengawali pidato saya, ijinkan saya membuka tutup kepala saya sebagai tanda hormat kepada alam semesta di sekitar kita, kepada leluhur masyarakat adat di seluruh Nusantara dan tentu saja kepada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa” tuturnya.

Kongres Masyarakat adat di Papua tentunya merupakan yang pertama dilaksanakan pada Tahun 2022 ini dengan mengangkat tema “Bersatu Pulihkan Kedaulatan Masyarakat Adat untuk Menjaga Identitas Kebangsaan Indonesia yang Beragam dan Tangguh Menghadapi Krisis” KMAN VI ini bukan hanya menghadirkan peserta dalam negri saja, tapi dari luar negeri juga hadir, diantaranya Sekjen Masyarakat Adat Malaysia, Kamboja, Nepal dan Filipina yang begitu antusias dan bersemangat mengikuti jalannya pembukaan Kongres Masyarakat Adat Nusantara ke VI ini.

Rukka Sombolinggi menegaskan, bahwa salah satu poin penting dari kehadiran masyarakat adat nusantara ini, solusi dalam menghadapi krisis seperti yang dialami selama pandemi Covid-19 dan ancaman krisis ketahanan pangan yang mengancam dunia, berada di tangan masyarakat adat.

Sebab mereka memiliki pengetahuan lokal dan ketahanan pangan tersendiri, dalam kearifan budaya lokal.

Sekjen AMAN juga mengapresiasi kebijakan Bupati Jayapura yang menyelenggarakan KMAN VI bersamaan dengan peringatan ke-IX Kebangkitan Masyarakat Adat di Kabupaten Jayapura pada 24 Oktober 2022.

Ia juga mengapresiasi pergerakan perempuan dan pemuda adat dalam mengahadapi situasi pandemi dengan begitu kokoh menjaga keutuhan wilayah adat dalam Negeri.

“90℅ keanekaragaman hayati itu ada di wilayah adat jadi mari kita sama menjaga gak gak kita sebagai masyarakat adat,” imbuhnya.

“Kongres ini kita akan membicarakan perjuangan kita, kita tidak boleh lengah.

“Dalam perjalanan ini, jauh ataupun dekat itu tergantung kita dalam mengawal hak hak masyarakat adat,” sambungnya.[mc kmanvi/yat]