Tangis Haru Sang Nenek Disertai Doa Tanpa Henti Untuk Keluarga Besar Raja Aibon Kogila

INTAN JAYA, PapuaSatu.com – “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini”, mungkin itulah salah satu kalimat yang penting untuk selalu kita pegang. Mama Tua, kadang juga Nenek Tua, itulah panggilan yang selalu ditujukkan jika menyebut atau menyapa Sang Nenek.

Sang Nenek selalu bepergian dengan salah satu cucunya yang sudah Yatim, Alison Sani atau Anita Sani. Sang Nenek, yang merupakan salah satu warga Suku  Moni, tinggal di sebuah Honai kecil di Kampung Mamba Papua.

Kedatangan Nenek bersama cucunya, hanya untuk mengantarkan ubi, kacang tanah dan sawi  khusus diberikan untuk Bapa Raja/Sonobi Gunung sebutan Suku Intan Jaya kepada Dansatgas Organik Yonif Para Raider 305/ Tengkorak di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Jumat (7/10/2022).

Tangisan dan doa yang keluar dari mata dan mulut Nenek adalah yang kedua kalinya, setelah yang pertama terjadi di jalan, depan Posramil Kodim Persiapan.

Dengan bahasa Indonesia bercampur bahasa Moni, Sang Nenek mengatakan bahwa barang bawaannya tersebut khusus dibeli dan dipilih yang paling baik di Pasar Sugapa untuk Raja Tengkorak alias Raja Aibon Kogila (Dansatgas).

“Beli, pasar”. Ucap Sang Nenek disertai gerakan tangan dan bahasa tubuh saat beliau menjelaskan kepada Ardy, Dansatgas YPR 305/Tengkorak.

Para Ksatria Tengkorak yang ditemani oleh Budi Sondegau personel Polres Intan Jaya yang juga anak asli Intan Jaya, kaget dan terharu mendengar penjelasan Sang Nenek. Tak terasa, terlihat mata Raja turut berkaca-kaca.

Raja Tengkorak (Dansatgas YPR 305/Tengkorak) memberikan beras kepada Nenek, sambil menyerahkan sedikit beras, Mie Instan dan sejumlah uang untuk membantu meringankan beban Sang Nenek.

Dengan tangisan Nenek mengambil tali kasih, tak tahan melihat sang nenek menangis Dansatgas Raja Tengkorak mengatakan tidak perlu beli di Pasar untuk memberikan kepadanya.

“Justru Nenek kesini saja jika ada perlu beras, obat dan makanan lainnya,” ungkap Dansatgas Ardy.

“Tuhan Yesus memberkati. Amakanie. Itulah yang sering keluar dari mulut Sang Nenek.”

“Sebelum kembali ke Honai, saya mengalungkan kalung Salib di leher Sang Nenek. Tidak lupa menitipkan dua kalung untuk Alison dan Anita Sani, serta beberapa buah Beng-Beng,” pungkas Ardy.[redaksi]