Terkontraksi -15,72 Persen, Ekonomi Papua Stabil Bila Tanpa Tambang

0
75
Kepala BPS Provinsi Papua, Simon Sapary didampingi Kepala Bidang Nerwilis BPS Papua, Eko Mardiana, saat merilis berita resmi statistik di kantornya, Kamis (6/2/20)

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, kondisi perekonomian Papua sepanjang Tahun 2019 mengalami kontraksi yang cukup dalam, yaitu -15,72 persen.

Hal itu, sebagaimana diungkapkan Kepala BPS Provinsi Papua, Simon Sapary, bahwa penurunan tersebut jauh dibawah pertumbuhan ekonomi Papua Tahun 2018 yang tumbuh 7,37 persen.

“Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan ini terutama disebabkan oleh kategori lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang turun hingga -43,21 persen,” ungkapnya didampingi Kepala Bidang Nerwilis BPS Papua, Eko Mardiana, saat merilis berita resmi statistik di kantornya, Kamis (6/2/20).

Usaha pertambangan dan penggalian tersebut, terutama adalah terkait kinerja PT Freeport yang sejak terjadinya proses peralihan menjadi tambang bawah tanah, maupun proses perijinannya yang hingga akhir Tahun 2019 belum kembali normal.

Untuk lapangan usaha lain yang mengalami kontraksi pertumbuhan adalah Industri pengolahan sebesar -1,25 persen akibat turunnya Industri Kayu selama tahun 2019, kategori Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar – 3,35 persen.

“Sedangkan kategori lain mengalami pertumbuhan positif,” jelasnya.

Demikian juga bila dilihat dari sisi pengeluaran, secara otomatis juga terjadi kontraksi pertumbuhan disebabkan oleh komponen ekspor luar negeri yang mengalami penurunan hingga -69,10 persen, karena ekspor biji logam PT Freeport yang menurun.

Untuk ekonomi Papua pada Triwulan IV-2019 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu (y-on-y) mengalami kontraksi sebesar -3,73 persen. Demikian juga jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi Papua mengalami kontraksi sebesar -4,47 persen.

Namun, jika dilihat tanpa kategori pertambangan dan penggalian, perekonomian Papua mengalami tetap mengalami pertumbuhan relative stabil, yaitu tumbuh sebesar 5,03 persen.

Dengan melihat data tersebut, Kepala BPS Simon Sapary berharap kepada pemerintah, agar menumbuhkan sector-sektor ekonomi selain pertambangan dan penggalian, agar pertumbuhan ekonomi tidak lagi bergantung pada PT Freeport.

Kata Simon Sapari, banyak potensi ekonomi yang belum digali, seperti wisata di Biak dengan alam bawah lautnya yang sangat menarik, pembuatan kapal mesin dalam di merauke, maupun sector pertanian yang paling banyak menyerap tenaga kerja di selurun wilayah Papua, dan lain-lainnya.[yat]