Umat Katolik Keuskupan Jayapura Rayakan Syukuran 100 Hari Meninggalnya Pastor Frans Liesohut OFM Sebagai Misionaris di Tanah Papua.

0
498

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Umat Katolik Keuskupan Jayapura memperingati 100 hari meninggalnya Pastor Frans Liesohut, OFM dan 110 tokoh Gereja Katolik lainnya di Tanah Papua di halaman Kapela Katolik Angkasa, Minggu (09/08/2020).

Dalam kesempatan itu Markus Haluk melalui sambutannya menyampaikan jasa-jasa para pastor sekaligus misionaris Gereja di Tanah Papua.

Menurutnya ada sekitar110 biarawan biarati yang telah gugur di bumi Cenderawaish ini dan pada kesempatan tersebut Markus mengajak agar umat katolik Papua terus mendoakan atas jasa para Pelayan Umat Tuhan terutama, membentuk karakter kepemimpinan bagi orang Papua dan melahirkan tokoh-tokoh gereja maupun pemerintah di tanah Papua.

“Kami umat katolik asli Papua banyak memperoleh pendidikan dan dilahirkan kader-kader gereja Katolik dan kebanyakan pimpinan daerah di Papua rata-rata binaan Para Pastor, Bruder, dan Suster yang sudah puluhan tahun mengabdi di Tanah Papua. Oleh karena itu saya mewakili seluruh umat Katolik Papua menyampaikan ucapan turut berduka cita atas meninggalnya tete sekaligus Pastor Misionaris di Tanah Papua Pastor Frans Liesohut, OFM pada hari ini genap 100 hari meninggalnya beliau dan 110 tokoh Gereja Katolik lain yang mendahului kami. Kami akan selalu mengenang atas jasa baik mereka terhadap kami umat Katolik di Papua dari sejak tahun 1937 hingga saat ini,” ungkap Musa Haluk dalam sambutan di halaman Kapela Katolik Angkasa, (09/08/2020).

Sementara itu salah satu anggota MRP dan ketua di bidang Pokja Perempuan, Ciska Abugau A.MA..Pd sebagai bukti hasil binaan para Pastor dan bruder Belanda pada masa jenjang pendidikan SMP di Moanemani sekitar tahun 1980-an.

Sehingga Ciska menyampaikan ucapan terimakasih atas pendidikan yang diperoleh para pastor dan Bruder salah satunya dari bruder Jan Serps, OFM sebagai teman Misionaris dari almarhum Pater Frans Liesohut, OFM sehingga, Ciska menyerahkan hadia berupa uang Tunai sebagai ucapan terimakasih kepada bruder Jan Serps, OFM.

“Saya ini bukti pembinaan baik yang selama ini diberikan oleh para Biarawan dan Biarawti Katolik di Tanah Papua sejak Misionaris masuk di Papua sekitar tahun 1937 an yang lalu. Dan saya merasa pendidikan yang diberikan pada saat saya SMP di Moanemani sampai SMA Taruna Bakti Jayapura yang dahulunya disebut SPG. Jadi yang mereka ajarkan kepada kami pada saat itu lebih konkrit dibanding pendidikan jaman sekarang karena pendidikan dulu itu lebih disiplin walau pun keterbatasan sarana-prasarana atau media pembelajarannya,” ungkapnya.

Ciska Abugau merasa berharga pendidikan yang diperoleh semasa ia di asrama di Moanemani.

“Yang saya berikan kepada Bruder Jan itu bukan Pembalasan atas jasa pendidikan yang Bruder berikan pada saya tetapi itu hanya sebuah ucapan terima kasih saya kepada Bruder Jan Serps, OFM. Dan menurut saya jasa-jasa para Pastor, Bruder, dan Suster itu tidak bisa balas dengan nilai uang banyak. Tapi yang bisa kami balas salah satunya adalah meraih pendidikan yang mereka harapkan khususnya untu anak-anak Papua,”ungkap Ciska Abugau saat ditemui PapuaSatu.com di halaman Gereja Katolik Angkasa Minggu, (09/08/2020).

Ciska salah satu tokoh gereja perempuan yang sementara menjabat sebagai anggota MRP dan sedang memimpimpin di bagian pokja Perempuan itu menegaskan kepada kaum muda-mudi Katolik di Papua agar lebih fokus pada pengembangan talenta dan harus mengikuti panggilan Tuhan sesuai talenta yang dimiliki oleh setiap anak Muda sebagai tulang punggung masa depan Gereja Katolik di tanah Papua.

“Anak-anak sekarang banyak yang pemalas belajar pada hal fasilitas pendidikan sudah lengkap, teknologi semakin sanggih, dan akses transportasi sudah maju. Tetapi kenyataannya pemuda-pemudi ini malah menjadi malas belajar, malas menjawab panggilaan Tuhan, bahkan mau mengembangkan talenta yang diberikan oleh Tuhan pun sangat kurang, dibanding kami dulu. Jadi saya tegaskan, adik-adik asli Papua yang sedang menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi khususnya mereka yang beragama Katolik, jangan terpengaruh dengan perkembangan teknologi sekarang apa lagi isu yang sekarang kami alami di Papua,” tegas Ciska. [miki]