Upload Video Ujaran Kebencian dan Hoax, Seorang Warga Diringkus di Kotaraja

0
674
Tersangka AD (52) saat memberikan pengakuan dan penyesalannya di depan awak media, Kamis (10/10/19)
Tersangka AD (52) saat memberikan pengakuan dan penyesalannya di depan awak media, Kamis (10/10/19)

JAYAPURA, PapuaSatu.com – Seorang warga berinisial AD (52) yang belum lama datang dari Jakarta dan tinggal di Kawasan Jalan Jeruk Nipis, Kotaraja, Kota Jayapura, diringkus Subdit V Cyber Ditreskrimsus Polda Papua, karena menyebar video yang memuat ujaran kebencian dan hoax.

“Awalnya beredar postingan-postingan oleh tersangka,” ungkap Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. AM. Kamal didampingi Kasubdit Cyber Dit Reskrimsus Polda Papua, Kompol Cahyo Sukarnito kepada wartawan di Media Center Polda Papua, Rabu (10/10/19).

Kata Kabid Humas, postingan video oleh tersangka sangat sensitif karena dapat mempropaganda masyarakat, khususnya masyarakat pendatang.

“Saya tegaskan bahwa di Papua, khususnya di Wamena dan Jayapura, tidak ada konflik terkait dengan SARA. Apalagi tadi disebutkan dalam postingan ada masjid yang dibakar. Padahal sama sekali tidak ada masjid yang dibakar,” tegasnya.

Tersangka AD (52), ditangkap pada Minggu (6/10/19), Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Papua karena mengunggah video berisi ujaran kebencian, SARA dan berita bohong (hoax) melalui akunnya di media sosial Facebook dengan nama akun Legiun Tandabe.

Cahyo menerangkan, bahwa tersangka AD telah membuat 2 (dua) video dan mengapload ke medsos yang berisi ujaran kebencian (SARA) dan berita bohong (hoaks), bahwa seolah-olah telah terjadi pembakaran tempat ibadah dan penyerangan yang dilakukan kelompok masyarakat tertentu.

Atas perbuatannya, tersangka AD dijerat dengan Pasal 45A Ayat (2) Jo. Pasal 28 Ayat (2) UU. RI. No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU, RI. No. 11 Tahun 2008 Tentang Infomasi dan Transaksi Elektronik dan Pasal 14 Ayat (2) dan/atau Pasal 15 UU. RI. No.1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana, dengan ancaman pidana penjara 6 tahun dan denda maksimal Rp. 1 milyar.

Dari tangan AD, Pllisi menyita dua buah HP yang dipakai untuk membuat video, tiga buah baju yang dipakai dalam videonya, satu buah parang, tongkat karet, serta video yang diunggah teraangka AD ke mesia sosial yang dimiliki AD.

Akun Legiun Tandabe milik tersangka AD di facebook

Dari pengakuan tersangka, bahwa pembuatan video tersebut karena merasa emosi atas peristiwa anarkis di Kota Jayapura.

“Saya tidak ada niat apapun, saya hanya ingin menyampaikan pesan terakhir kalau memang saya mati. Itu saja,” ungkap AD di depan awak media di Media Center Polda Papua, Kamis (10/10/19).

Dari penelusuran PapuaSatu.com.di akun Legiun Tandabe di Facebook, diketahui videonya di apload tanggal 2 September 2019, bersamaan dengan foto-foto kerusakan akibat anarkisme di Kota Jayapura tanggal 29 Agustus 2019.[yat]