
JAYAPURA, PapuaSatu.com – Sebagai tradisi dalam pergantian pejabat Polda Papua, Rabu (021019) pagi di Lapangan Apel Mapolda Papua, digelar upacara farewel and welcome parade Kapolda Papua dari Irjen Pol. Drs. Rudolf A. Rodja kepada Irjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw.
Farewel and welcome parade tersebut, digelar tepat lima bulan setelah tanggal 2 Mei 2019, Irjen Pol. Drs. Rudolf A. Rodja menggantikan Irjen Pol. Drs. Martuani Sormin, yang ditandai dengan penyerahan pataka Polda Papua Rastra Samara dari pejabat lama ke pejabat baru.
Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw dalam amanatnya selaku inspektur upacara mengungkapkan, bahwa jabatan Kapolda Papua yang diembannya kali kedua, setelah Tahun 2015 lalu sempat memangku jabatan yang sama, merupakan amanat yang harus dijalankannya.
“Kita ketahui bersama bahwa dinamika perkembangan Kamtibmas, khususnya penanganan aksi unjuk rasa yang dilatarbelakangi rasisme telah terjadi di beberapa kabupaten di Papua dan penanganan pengungsi dari Kabupaten Jayawijaya dan beberapa tempat lain, tentunya sangat dibutuhkan berbagai upaya bersama agar permasalahan tersebut tidak meluas dan dapat ditangani segera,” ujar Kapolda Waterpauw.
Di kesempatan yang sama, Irjen. Pol. Drs. Rudolf A. Rodja dalam amanatnya mengungkapkan, bahwa dalam.pelaksanaan tugas tentu ada keberhasilan dan ada yang perlu dievaluasi.
“Itu menjadi dinamika di dalam suatu organisasi,” ungkapnya.
Irjen Pol. Drs. Rudolf A. Rodja yang kini menjabat sebagai Analis Kebijakan Utama Bidang Sabhara Baharkam Polri, juga mengungkapkan terkait penanganan aksi demo yang terjadi di sejumlah tempat di Papua dan sebagian berakhir dengan anarkisme.
“Sebagai Kapolda saya harus memilih apakah saya harus melakukan tindakan represif penegakan hukum yang tegas, ataukah saya harus melindungi masyarakat dari akibat yang lebih fatal. Dan saya memilih yang kedua, walaupun di dalam dinamika itu banyak sekali penilaian dan persepsi,” tuturnya.
Diakui, penilaian yang muncul ada yang bilang Kapolda lemah, ada yang bilang tidak tegas.
“Tapi saya harus berpikir, saya harus melindungi masyarakat dari hal yang lebih fatal,” tandasnya.
Irjen Pol. Rudolf A. Rodja menyatakan rasa syukurnya, karena selama demontrasi tidak ada satupun yang tertembak, tidak ada satupun yang luka maupun meninggal akibat tindakan Polisi.
Karena, kata Rudolf A. Rodja, hal itulah yang diinginkan oleh aktor utama aksi demo sebagai pintu masuk untuk mewujudkan tujuannya.
“Tetapi mungkin kinerja saya dianggap belum maksimal, maka resiko jabatan saya, dan itu saya terima dengan lapang dada untuk melanjutkan tugas saya di Mabes Polri,” ujarnya.[yat]










