
SENTANI, PapuaSatu.com – Komandan Rindam XVII/Cenderawasih, Brigjen TNI Endra Saputra Kusuma Z.R S.E, M.Si, M.Han., menyatakan bahwa informasi yang beredar soal akan dilakukan pembongkaran satu bagunan gereja di kawasan Rindam XVII/Cenderawasih, merupakan issu liar yang disebarkan oknum yang tidak bertanggungjawab.
Dikatakan, bahwa perintah terkait hal itu tidak pernah dikatakannya kepada siapapun, baik kepada para perwira di lingkungan Rindam maupun kepada pengurus gereja dimaksud.
“Satu kalipun saya tidak pernah mengatakan untuk pembubaran rumah ibadah,” tegasnya kepada wartawan di Sentani, Minggu (16/11/25).
Ditegaskan juga, sebagai seorang anggota TNI yang memegang teguh Sapta Marga tidak mungkin akan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti masyarakat.
“Tidak mungkin saya sebagai TNI yang memegang teguh sapta marga tidak akan dan tidak mungkin saya betindak menyakiti hati rakyat,” ungkapnya lebih lanjut.
Terkait mengapa beredar informasi terkait akan dilakukan pembubaran pelaksanaan ibadah di gereja, Brigjen Endra menceritakan bahwa hal itu diduga dilakukan oknum yang tidak bertanggungjawab untuk maksud tertentu.
Diceritakan, bahwa sebagai pejabat baru yang dipercaya menjabat sebagai Komandan Rindam XVII/Cenderawasih sekitar dua bulan, ia ingin mengetahui seluruh keadaan di lingkungan markas, baik kantor, rumah prajurit termasuk rumah masyarakat di sekitar markas, termasuk bangunan-bangunan lainnya yang ternyata ada juga tiga bangunan gereja.
Ketika berkeliling markas dan melihat ada gereja, Danrindam kemudian bertanya tentang status tanah dan bangunan gereja diatasnya, namun para perwira beserta staf yang ada tidak mengetahui, kecuali satu bangunan gereja diantaranya yang memang surat-suratnya ada.
Namun belum sampai mendapat kejelasan tentang status tanah dan bangunan gereja, tiba-tiba ada aksi demo oleh warga jemaat yang termakan issu liar bahwa akan ada pembubaran pelaksanaan ibadahnya.
Atas masalah tersebut pihaknya telah melakukan klarifikasi, baik kepada atasan, dalam hal ini Pangdam XVII/Cenderawasih, tokoh agama maupun pendeta terkait, bahwa informasi tersebut tidak benar.
Brijen TNI Endra pun memilih peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi dan menjadi pembelajaran dalam tugas-tugas sebagai prajurit yang bersemboyan “TNI berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”, yang berarti TNI lahir dari perjuangan dan masyarakat Indonesia, berjuang bersama rakyat, serta mengabdi demi kepentingan rakyat.[yat]










