
JAYAPURA, PapuaSatu.com — Suasana Kantor Kumdam XVII/Cenderawasih di kawasan Dok V Atas, Kota Jayapura pada Rabu (12/8/2026), berbeda dari hari biasanya. Sebuah acara seremoni lepas sambut berlangsung sederhana dan hikmat.
Seorang perwira menengah Korps Hukum Kowad (Komando Wanita Angkatan Darat) asli Papua yang baru saja mencatatkan sejarah baru dalam perjalanan karir militernya, yakni Kolonel Chk (K) Yuliana Rosario Yoku, S.H., disambut keluarga besar Kumdam XVII/Cenderawasih dan tamu undangan yang hadir.
Yang mana, tepat sehari sebelumnya, Selasa 11 Agustus 2026, ia resmi mengemban amanah sebagai Kepala Hukum Kodam (Kakumdam) XVII/Cenderawasih setelah melakukan serah terima jabatan dengan pendahulunya, Kolonel Chk Purnomo Heru.
Kembali ke Jayapura bagaikan pulang ke rumah bagi wanita kelahiran Sentani, 19 Maret 1976 ini.
Dari Kampus Uncen ke Gerbang Militer
Lahir dan besar di lingkungan adat Sentani dari pasangan yang sama-sama bermarga Yoku di Kampung Ivar Besar, Yuliana muda awalnya adalah mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih (Uncen). Siapa sangka, gelar Sarjana Hukum yang diraihnya menjadi jembatan pengabdian yang lebih besar.
Pada tahun 2000, ia memutuskan mendaftar TNI melalui jalur Perwira Karier (PK). Lulus dari pendidikan komando pada tahun 2001, Yuliana memulai dinas pertamanya jauh dari tanah Papua.
Selama 12 tahun penuh, ia menempa diri di Pusat Pendidikan Hukum Angkatan Darat (Pusdikhum AD) di Grogol sebagai Guru Militer (Gumil) sekaligus perwira staf.
“Semua tempat tugas itu berkesan. Di Pusdikhum, sebagai gumil dan staf, semua pekerjaan kita pelajari dan kerjakan,” kenang Ibu dari satu anak perempuan ini tersenyum.

Keluar dari Zona Nyaman: Menjadi Danramil Perbatasan
Karir Yuliana terus menanjak setelah menyelesaikan Pendidikan Lanjutan Perwira (Diklapa) untuk pangkat Mayor.
Tahun 2012, ia kembali ke Papua menjabat Kepala Seksi Undang-Undang (Kasiundang) Kumdam Cenderawasih, lalu bergeser menjadi Perwira Hukum Korem (Pakum Rem) 172/Praja Wira Yakthi pada 2014 hingga 2017.
Titik balik yang paling menguji mentalitasnya terjadi pada September 2017. Danrem 172/PWY saat itu, Kolonel Inf. Boni Christian Pardede (kini telah purnawirawan/Brigjen), memberikan kepercayaan yang tidak biasa bagi seorang perwira hukum wanita, yakni memimpin komando teritorial di wilayah perbatasan RI-PNG.
Yuliana ditunjuk menjadi Komandan Koramil (Danramil) Tipe A di Kabupaten Keerom.
“Itu salah satu momen paling berkesan. Selama 3 tahun 5 bulan di Koramil, saya hidup langsung di tengah masyarakat. Kami berkolaborasi dengan Satgas Perbatasan, patroli patok bersama, dan membaur dengan Korps Infanteri. Di sana saya belajar memahami psikologi prajurit di lapangan. Ketika ada pelanggaran hukum, kita tahu latar belakang dan ikut merasakan kondisi mereka. Kami bukan cuma melihat pasal-pasal di atas kertas,” ungkap Yuliana yang melepas masa lajangnya pada tahun 2021 lalu.
Setelah menuntaskan tugas teritorial pada Maret 2021, ia sempat kembali ke Kumdam sebagai Kepala Pelaksana Dukungan dan Bantuan Hukum (Kalakdukbankum).
Tak lama, ia terpilih mengikuti Sekolah Staf dan Komando Darat (Seskoad) tahun 2022. Usai Seskoad, ia sempat ditarik ke Jakarta untuk menjabat Kepala Bagian Pengamanan (Kabag Pam) di STHM Ditkumad, sebelum akhirnya pulang lagi menjadi Wakakumdam Cenderawasih pada Juni 2023.
Pengembaraan dinasnya sempat bergeser ke Ambon saat dipercaya menjadi Kakumdam XVI/Pattimura dari Juni 2024 hingga Juni 2025, sebelum akhirnya panggilan tugas membawanya kembali memimpin penegakan hukum di tanah kelahirannya sendiri pada Agustus 2026 ini.
Sebagai nakhoda baru di Kumdam XVII/Cenderawasih, Kolonel Yuliana membawa misi humanis namun tetap tegas. Ia menekankan bahwa fungsi Kumdam adalah sebagai pelindung dan penasihat.
“Kumdam itu memberikan bantuan hukum kepada prajurit dan keluarga (istri maupun anak) secara gratis tanpa dipungut biaya jika mereka menghadapi masalah. Kami juga bertugas memberikan saran hukum kepada Pangdam, baik diminta atau tidak, agar setiap keputusan yang diambil tepat dan tidak merugikan siapa pun,” jelasnya.
Bagi Yuliana, disiplin adalah napas utama TNI yang membentuk hidupnya begitu teratur dan penuh kendali waktu. Nilai-nilai ketat inilah yang ingin ia tularkan kepada generasi muda asli Papua yang bermimpi memakai seragam loreng. Menurutnya, menjadi prajurit TNI tidak bisa diraih dengan cara instan.
“Untuk anak-anak muda di Papua yang ingin masuk Bintara, Tamtama, Akmil, atau Perwira PK setelah sarjana, persiapkan diri jauh-jauh hari. Nilai akademik itu penting, kesehatan luar dalam harus prima, fisik (jasmani) harus dibina, psikologi harus dilatih, dan tinggi badan harus sesuai syarat baku. Peran orang tua sangat penting di sini untuk mengarahkan putra-putrinya,” pesan Kolonel Yuliana menutup perbincangan.
Dari Kampung Ivar Besar di Sentani hingga memegang tongkat komando hukum di Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Chk (K) Yuliana Rosario Yoku adalah bukti hidup bahwa anak asli Papua mampu berdiri tegak memimpin penegakan hukum militer dengan disiplin, hati, dan integritas yang tinggi.[redaksi]










