
MANOKWARI, PapuaSatu.com – Menyikapi Situasi dan kondisi Masyarakat Adat Ndugama, di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Dewan Adat Papua (DAP) wilayah III Domberai mempertanyakan suara Pimpinan Gereja di Tanah Papua.
“Peristiwa Nduga sangat memprihatinkan sebab menurut informasi bahwa masyarakat mengalami ketakutan dan lari ke hutan, hingga ada yang meninggal, karena diduga mengalami tembakan,” kata Ketua DAP Wilayah III Domberai, Paul Finsen Mayor melalui press releasenya yang diterima PapuaSatu.com, Jumat (14/12/2018).
Paul Finsen mempertanyakan dimana suara kenabian Pimpinan Gereja di Tanah Papua. “Bukankah para pemimpin gereja harus bersuara untuk kedamaian. ulan suci kudus ini bulan damai, semua umat Kristen merayakan Natal. Kenapa harus ada tangisan dan air mata dibalik gunung dan lembah hutan lebat,” tanya dia.
Menurutnya, para pemimpin Dedominasi Gereja baik GKI di Tanah Papua, GIDI, KINGMI, PGBP dan beberapa dedominasi lainnya harus bersuara untuk menghentikan kekerasan di Tanah Papua. “Jangan duduk diam, sembari merasa biasa-biasa saja sedangkan umat Tuhan Merayakan Natal dalam Duka,”ungkap Mayor.
Dia menegaskan, para pimpinan Gereja wajib Menjadi mediator dan fasilitator dalam menyelesaikan masalah Nduga, karena itu adalah tugas pokok dan fungsi dari pemimpin Gereja itu sendiri dan itulah substansi dari Pelayanan terhadap umat Tuhan yang tertindas.
“Masyarakat adat Papua menginginkan kedamaian di bulan Suci Natal ini dan menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan berpikir untuk menjaga kedamaian diatas Tanah ini,” ujarnya.
Oleh sebab itu, dirinya ingatkan semua pihak diluar Papua untuk jangan mengeluarkan kalimat provokatif di media sosial, cetak maupun elektronil. “Ingat bahwa Operasi militer tidak menyelesaikan masalah, malah menambah masalah,”tandas Mayor. [free]










